Samin vs Semen: Saat Alam Dikomersialisasikan




Yogyakarta 26 Maret 2015, Sanggar Langit Bumi bersama IMM Fakultas Pertanian dan DEMAP UMY menyelenggarakan diskusi dan bedah film Samin vs Semen, bertempat di ruang F5. 1. Kegiatan ini berbuah kesepakatan untuk ikut mengawal dan mendukung perjuangan rakyat Rembang dalam menolak berdirinya pabrik semen oleh PT Indocement Indonesia.

Samin vs Semen merupakan sebuah film dokumenter yang digarap oleh tim ekspedisi biru Indonesia. Film ini menggambarkan perjuangan rakyat Rembang dalam menolak berdirinya pabrik semen yang digagas oleh PT Semen Indonesia. Perjuangan tersebut terinpirasi oleh keberhasilan orang-orang Samin dalam menolak berdirinya pabrik semen di Pati. Mereka memenangkan gugatan atas PT Semen Gresik di PTUN tahun 2009. Karena jarak yang tidak terlalu jauh dari rembang, Orang-orang Samin pula yang mencoba memberikan pengertian kepada masyarakat Rembang untuk tidak menjual tanahnya sebagai kompensasi pembangunan pabrik semen.

Orang Samin atau disebut juga sedulur sikep sendiri adalah sekelompok masyarakat desa di daerah Pati dan sekitaran Jawa Tengah yang dahulunya pada masa kolonial Belanda menolak membayar pajak. Kata Samin sendiri diambil dari “mbah Samin” yaitu orang yang dipercaya sebagai orang pertama yang menolak membayar pajak pada Belanda.

Dalam film Samin vs Semen ini pula, terlihat adanya dua sudut pandang yang berbeda dalam melihat alam beserta sumber dayanya. Satu sisi, menempatkan alam sebagai ruang hidup, sebagai sumber bertahan hidup dari bertani. Namun, disisi lain, menempatkan alam sebatas benda/materi, dengan kata lain dalam film ini hanya sebatas bahan baku pembuatan semen. 

Diskusi yang berlangsung mulai pukul 19.00 sampai dengan Pikul 22.00 berlangsung seru dan menarik. Diskusi ini dihadiri juga oleh Gatot, salah satu dosen pertanian UMY dan Lutfi, dosen Politik Agraria di Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional. 

" ... Alam yang dijadikan komoditas, yang ada akan menimbulkan krisis sosial dan ekologis," ujar Luthfi. Krisis sosial antara lain kemiskinan dan konflik antar pihak. Sedangkan krisis ekologis, adalah bencana alam seperti banjir, longsor, dan lainnya. (ABB/LR)
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

1 comments: