Resah




Aku menghela nafas panjang untuk ke sekian kalinya. Senja kali ini pun terasa lebih sendu bagiku dibanding senja-senja sebelumnya. Semburat merah jingga dengan latar biru putih seakan menggambarkan perasaanku saat ini. Tidak ada lagi ritual menonton senja bersama sahabat. Berlomba-lomba mencari senja yang terbaik untuk dibanggakan satu sama lain atau menatap punggung sahabatku itu dalam keheningan seusai shalat bersama. Seharusnya aku bahagia saat ini. Ya seharusnya, karena dalam waktu dekat sahabatku akan memiliki keluarga baru.

Tak terasa setitik air mata mulai jatuh. Bahkan kini mulai menggenang, dan membasahi pipiku. Aku berusaha memejamkan mataku rapat-rapat. Aku berharap untuk kali ini saja aku bisa menghentikan waktu. Namun harapan tinggalah harapan. Aku bukanlah Tuhan yang mengatur pergerakan di alam semesta ini, aku hanyalah makhluk kecil ciptaan Tuhan yang bahkan baru menyadari bagaimana perasaanku sebenarnya. Pembicaraanku dengan Faldy pun masih terngiang-ngiang di kepala ini.


“Lex, kalau aku udah nemu orang yang bisa bikin aku jatuh cinta sampai bertahun-tahun. Aku harus gimana?” tanya Faldy saat itu.

“Nikahin lah. Tunggu apa lagi umur kamu juga udah 27 tahun ini, hahaha,” jawabku tanpa pikir panjang.

“Berarti keputusan aku udah tepat ya?” Faldy tersenyum lega mendengan jawabanku itu.

Aku tersentak sebelum mendengar penjelasan lebih lanjut dari Faldy. Aku tahu arah pembicaraan ini dan entah mengapa aku ingin pembicaraan ini tak pernah dimulai sebelumnya.

“Lex, maaf ya. Selama ini aku gak pernah bilang kamu kalau ada seseorang yang udah lama aku perhatiin. Kamu tahu Sophie kan? Temen kuliah kita dulu, yang pendiem tapi ternyata cerdas banget. Aku udah lama suka sama dia, Lex,”

Mimpi buruk itu pun akhirnya datang juga. Setelah itu setiap kata yang dilontarkan Faldy tidak terproses dengan baik di kepalaku. Pikiranku telah melayang ke mana-mana. Kenapa? Tanyaku dalam hati. Kenapa harus sekarang? Kenapa disaat aku sudah mulai merasa nyaman dengan semua ini?

“Lexie.” Faldy mencoba menyadarkanku. Sapaan lembut itu akan hilang dalam beberapa waktu ke depan. Batinku getir. 

“Aku tahu kamu pasti marah banget karena nggak pernah bilang sebelumnya. Tapi aku sendiri nggak bisa egois dengan menyela setiap curhatanmu tentang laki-laki brengsek yang sering nyakitin kamu, Lex. Mana mungkin aku cerita hal bahagia sedangkan sahabatku sendiri lagi sedih-sedihnya.”

Dan kali ini aku merasa semakin tertohok. Tenyata akulah yang egois selama ini. Aku juga baru sadar, bertahun-tahun bersahabat dengan Faldy hanya bisa dihitung dengan jari berapa banyak Faldy menceritakan kehidupan pribadinya. Hah, sahabat macam apa aku ini?”

“Kapan?” Aku akhirnya memberanikan diri untuk bertanya.

“Akhir bulan ini Lex, tapi sore ini aku udah harus berangkat ke Australia soalnya dia udah pindah di sana jadi harus ngurusin berbagai macam perijinan dan segala hal tentang pernikahan. Repot ya ternyata, hehehe.” Faldy terkekeh geli.

Pernikahan ya? Akhirnya kata itu keluar juga dari mulutnya. Dia pun terlihat bahagia dengan rencananya itu. Aku bisa apa selain mendukungnya?

“Hati-hati ya.” Aku berusaha untuk tersenyum, senyum palsu tentunya tanpa menoleh ke arahnya. Karena aku tahu, begitu mataku bertemu dengan matanya, maka runtuhlah semua pertahanan yang aku buat ini.

*******

Kubuka mata ini. Sudah tiga jam yang lalu sejak keberangkatannya ke Australia. Sudah sampaikah dia? Sedang apa dia di sana? Ah, jangan bilang dia sudah lupa dengan keberadaanku di sini. Katanya, dia akan mengirimkan email jika sudah sampai di sana dengan selamat. Katanya. Semoga katanya itu tidak hanya sekedar janji basa basi.

Aku mulai me-refresh kotak masuk emailku ini. Satu menit, dua menit, lima menit, sepuluh menit pun berlalu. Akhirnya satu buah email yang aku tunggu-tunggu masuk juga. Kubuka email itu dengan perasaan campur aduk.

Beberapa menit setelah membaca email itu, pikiranku berubah menjadi seperti puzzle yang sedang mencoba merangkai semua kejelasan ini. Semakin mendekati benang merah, justru semakin buram rasanya. Dan kemudian menghitam pekat.




To : HYPERLINK "mailto:alexandria.sophie@gmail.com" alexandria.sophie@gmail.com


Subject : My wedding party

Guess what I am doing right now? Smiling and looking at you from this place. 

Abis kamu dapet email, aku cuma mau mastiin kamu harus bisa lebih dewasa dan mandiri. Berdiri dengan kakimu sendiri. Jangan manja, jangan ceroboh. Kalau jalan liat jalan yang bener, kalau ninggalin barang diinget-inget lagi naruhnya di mana. Jangan asal diletakin gitu aja. Abis ini gak ada lagi yang bakal ngingetin kamu ini itu, Lex. Nggak ada yang lagi ngomelin kamu karena hal-hal kecil. Nggak ada lagi yang bakal mau ngedengerin curhatanmu semalam suntuk. Nggak ada lagi yang bisa kamu mintai tolong seenaknya nggak liat waktu. Karena abis ini dunia kita udah bakal beda, Lex.

Kamu masih belum sadar juga? Bahkan aku pakai namamu buat ngebohongin kamu -_____- ini nih yang selalu bikin aku was-was kalau mau ninggalin kamu. Hahahaha. Bahkan kamu nggak sadar sama hal kecil itu. Hmm, aku bingung sebenarnya mau jelasin dari mana. Pernah nggak kamu curiga, kenapa aku selalu tiba-tiba ngilang di akhir pekan setiap bulan? Ah iya, kamu pernah curiga tapi aku selalu bisa jawabnya dengan baik, jadi kamu nggak pernah curiga lagi. How genius I am ;) 

Jadi sebenernya aku sakit Lex, tapi aku sendiri nggak tau ini sakit apa. Bahkan dokter pribadiku sendiri juga bingung. Bertahun-tahun aku bolak balik kesana kemari buat cari dokter lain yang lebih tahu atau buat terapi. Tapi hasilnya tetep nol besar. Mungkin emang nggak ada perubahan yang signifikan dari aku. Penampilanku masih seperti orang sehat pada umumnya, tapi yang aku rasain semakin ke sini aku semakin gampang capek aja. Rasanya lemes banget. Itu juga jadi salah satu alasan aku udah nggak pernah nemenin kamu jogging lagi.

Pernikahan? Nggak ada pernikahan sebenarnya, Lexie. Masih aja kamu bingung. But I do want it. Siapa yang nggak kepengen nikah sih, Lex? Umurku udah tua juga. Aku pengen banget nikah, apalagi sama orang yang paling aku kasihi. Aku pengen banget bangun rumah tangga sama orang yang udah lama aku idam-idamkan. Tapi aku juga nggak mau jadi egois, Lex. Aku sadar, penyakit yang nggak jelas ini bisa ngambil nyawaku kapan aja. Dan kurasa firasatku ini benar. 

Alexandria Sophie, terima kasih ya untuk semuanya dan selama ini. Aku harap kamu bisa nemuin laki-laki yang bisa jagain kamu sepenuh hati. Jangan gampang jatuh cinta, jangan terlalu naif, liat orang-orang sekitarmu dulu lebih dekat daripada mencari sesuatu yang tidak pasti. Akan tiba waktunya kamu bertemu jodoh yang selama ini kamu cari-cari. Apa? Jodohku? Mengenalmu saja sudah lebih dari cukup, Lex. Menjadi bagian dari hidupmu saja sudah membuat aku bahagia. Terima kasih sudah mengajarkan aku untuk mencintai seseorang dengan tulus tanpa pamrih. Terima kasih karena kamu, aku jadi tahu rasanya apa itu cinta. Dan karena kamu juga aku masih bisa bertahan sejauh ini. Terima kasih.

Sahabat terbaikmu,
Faldy Kresna Sanjaya.


(Gita)
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar