Literasi Untuk Revolusi Kebudayaan

Oleh : Sampean Alumnus Sosiologi UNM/sekarang aktif di Komunitas Belajar Menulis (KBM) Yogyakarta



"Keberaksaraan merupakan organ kemajuan sosial." (Yudi Latief)



Keberaksaraan meliputi kemampuan membaca dan menulis. Keberaksaraan bukan hanya sekadar terlepas dari buta huruf. Kemampuan membaca dituntut untuk memahami dan menjelaskan isi bacaan. Kegiatan membaca juga menjadi kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari. Kebiasaan membaca adalah kunci pembuka pengetahuan. Sementara, kecakapan menulis bukan sekadar menggoreskan pena di atas kertas. Tetapi, kecakapan menulis dijadikan medium penyalur gagasan. Kecakapan menulis adalah upaya untuk melatih nalar untuk berpikir sistematis, merasakan dan mencipta. Kemelekan terhadap keberaksaraan akan memicu percepatan transformasi sosial. Seperti yang diutarakan Yudi Latief bahwa keberaksaraan merupakan organ kemajuan sosial. 

Kontribusi keberaksaraan atau literasi terhadap suatu bangsa sangatlah besar. Kontribusi literasi dapat dilihat dalam tradisi literasi Yunani. Pencapaian bangsa Yunani dalam mengembangkan tradisi literasi masih berasa sampai sekarang. Penemuan alfabet oleh bangsa Yunani sebagai pencapaian tertinggi dalam perubahan sosial. Penemuan ini menuntun untuk membedakan tradisi lisan dan tulisan. Gagasan ini bisa didapatkan dari karya JJ. Rousseau (1966) dalam "Essay on the Origin of Language". Penemuan alfabet menjadi awal tradisi literasi sebagai medium transformasi informasi (Yudi Latief, Actual.co). Sehingga gagasan-gagasan besar pemikir Yunani masih bisa dirasakan sampai sekarang berkat literasi. Begitu kuatnya tradisi literasi Yunani, tokoh-tokoh Yunani mewarnai semua khazanah ilmu pengetahuan.

Walaupun relasi literasi dengan kemajuan peradaban cukup beragam. Tetapi, literasi memberikan kontribusi besar dalam perubahan tatanan sosial. Seperti yang di kutip Yudi Latief dari Francis Bacon, ada tiga hal yang mengubah seluruh wajah dunia dan keadaan sesuatu di muka bumi yaitu percetakan, mesiu dan magnet. Sementara, Lucian Febre dan Henri Jean-Martin mengutarakan penanda penting dalam gerak maju peradaban barat di era pencerahan adalah perpustakaan. Menurut JJ. Risal relasi perpustakaan dan peradaban barat terletak pada revolusi mental tentara dari kalangan kurang membaca menjadi mau membeli buku, sampai akhirnya mendirikan perpustakaan publik dan perpustakaan sendiri (Gatra, 19-25/06/14). 

Era pencerahan yang dialami oleh bangsa barat tidak terlepas tradisi literasi yang dikembangkan oleh bangsa Arab di abad ke-7 sampai abad ke-15. Revolusi kebudayaan dilakukan oleh bangsa Arab ditandai dengan pembangunan perpustakaan-perpustakaan yang besar. Seperti yang dilakukan oleh Sultan Fatimiyah II di abad ke-10 membangun empat puluh ruangan yang dipenuhi dengan buku dengan berbagai sains kuno yang terangkum dalam delapan belas ribu volume. Berkat tradisi literasi dikembangkan Islam, ilmuwan-ilmuwan Islam menjadi pelopor lahirnya sains modern. Menurut Jonhatan Lyons (2013) bahwa revolusi pengetahuan di Prancis dan revolusi industri di Inggris diinspirasi oleh pengetahuan barat melalui pengembara Adelar dari Bath. 

Kontribusi literasi dalam kehidupan ini begitu nyata, tetapi dalam konteks keindonesian belum menemukan marwahnya. Di dalam masyarakat Indonesia tingkat buta huruf masih cukup tinggi, tingkat pendidikan masih cukup rendah. Sementara, kaum terdidik masih dihantui dengan kemalasan untuk membaca dan menulis. Di sisi yang lain kondisi ekonomi masih membelenggu masyarakat Indonesia, kesenjangan masih terjadi di mana-mana, mentalitas masyarakat Indonesia cenderung bermental utilitarian. Selain itu, kesadaran terhadap dunia literasi masih sangat rendah. Selain itu, budaya tradisi di Indonesia tidak mendapatkan sokongan masa lalu. 

Pewarisan produk-produk literasi di masa lalu sangatlah minim. Tradisi yang berkembang dalam masyarakat Indonesia cenderung tradisi lisan. Pengembangan tradisi literasi di masyarakat di Indonesia mengalami patahan. Pengembangan warisan tradisi literasi tidak berlanjut. Seperti yang terjadi di Sulawesi Selatan, satu-satunya produk literasi adalah “I La Galigo”. Selebihnya tradisi yang berkembang adalah tradisi kelisanan. Tradisi kelisanan ini merupakan pewarisan dari masa kolonial. Sekiranya, menurut Yudi Latief, dunia kelisanan lebih mengarah pada bahasa elitis (kompas, 26/07/08). Rupanya dalam bahasa lisan menunjukkan cara berpikir yang sederhana, singkat dan kurang sistematis. Tradisi lisan hanya mewariskan aforisma-aforisma gagasan. 

Momok yang paling menakutkan dihadapi dalam literasi di Indonesia adalah, new media. New media menciptakan generasi autis. Generasi ini lebih banyak tertunduk, bicara dan tersenyum sendiri dengan smartphone-nya. Genarasi autis ini didominasi oleh remaja. Remaja lebih banyak mengakses sosial media seperti Facebook, Instagram, Twitter, BBM, WeChat dan lain-lain. Generasi lebih asyik berkomunikasi di media sosial dibanding dengan dunia nyata. Bahkan waktu mereka dihabiskan bersama dengan media Sosial lebih banyak ketimbang dunia nyata. Sehingga tradisi literasi akan jauh dipanggang api di generasi ini.

Tantangan selanjutnya dalam pengembangan literasi berasal dari dunia pendidikan. Pendidikan Indonesia mengarah pada pengembangan kemampuan teknis dan cara berpikir praktis. Pendidikan di Indonesia lebih menekankan pada kebutuhan pasar kerja. Sehingga pemerintah mengutamakan pembangunan sekolah berbasis kejuruan. Pendidikan berbasis kejuruan ini dianggap akan mengurangi tingkat pengangguran dalam masyarakat. Di sisi lain pembelajaran bahasa dan pengembangan literasi di abaikan. Paradigma kuratif ini telah merusak dunia pendidikan. Mengantisipasi pengangguran dengan hanya menciptakan orang-orang untuk dipekerjakan bukan untuk menciptakan lowongan pekerjaan. 

Kondisi ini seolah menunjukkan pembunuhan terhadap budaya literasi. Ketika hal ini terjadi lihatlah kemerosotan bahkan kehancuran suatu bangsa. Serupa yang diungkapkan John Milton bahwa yang dihancurkan dalam sebuah buku adalah rasionalitas, barang siapa yang menghancurkan buku sama halnya membunuh rasio itu sendiri (Fernando Baez, 13:2013). Buku sebagai produk literasi sebagai medium penyebar informasi sebagai modal utama untuk memperluas wawasan masyarakat. Ketika itu semua diberangus maka akan tercipta masyarakat “buta huruf” bermental budak (pekerja). Persoalan ini merupakan persoalan kebudayaan, maka dibutuhkan strategi kebudayaan untuk menghadapinya. 


Literasi sebagai Strategi Kebudayaan

Dengan pelbagai persoalan kebudayaan yang dihadapi oleh bangsa ini, perlu kiranya memikirkan kembali “strategi kebudayaan”. Langkah ini, saya kira kurang berlebihan dalam merespons persoalan kebangsaan. Sebab, wacana strategi kebudayaan telah didengungkan sejak orde lama (ORLA) sampai orde baru (ORBA). namun, pasca reformasi wacana “strategi kebudayaan” redup dengan sendirinya. Persemaian strategi kebudayaan pada masa ORLA direpresentasikan oleh lembaga kebudayaan (LEKRA). Strategi kebudayaan ditempuh oleh LEKRA melalui sastra dan kesenian. Sementara, strategi kebudayaan pada masa ORBA melalui menteri pendidikan dan Kebudayaan di era Prof. Dr. Fuad Hasan menekankan pada bahasa dan kesenian (Prisma, 3/3/87). 

Sejalan dengan konsep-konsep strategi kebudayaan dalam setiap orde. Pada saat ini, strategi kebudayaan seharusnya menekankan pada literasi sebagai respons persoalan kebangsaan. Sebab, literasi melingkupi persoalan bahasa, sastra dan kesenian. Literasi sebagai melek aksara atau keberaksaraan. Keberaksaraan mencakup kecakapan bahasa, Kemampuan membaca, menyimak, berbicara, berpikir dan menulis. Seturut dengan itu, tradisi literasi akan mendorong masyarakat berpikir kritis dalam menelaah berbagai persoalan di sekitarnya. Secara otomatis, dengan kuatnya kemampuan literasi akan menciptakan generasi siap pakai. Generasi ini lebih mudah menguasai gagasan yang baru dengan berbagai kepekaan. Kepekaan tersebut didapatkan dari berpikir kritis, kemelekan informasi, kemelekan teknologi, kemelekan ekonomi dan lain-lain. Sehingga orang dikatakan bebas dari “buta huruf” ketika mampu memahami sesuatu karena membaca informasi dan mengaktualisasikan sesuai dengan pemahamannya. 

Dengan kecakapan literasi, seseorang mampu menerjemahkan persoalan kebangsaan untuk melakukan revolusi sosial atau transformasi sosial. Literasi sebagai strategi kebudayaan tidak menempatkan individu atau kelompok dalam keadaan pasif. Tetapi, literasi menempatkan seseorang sebagai aktor yang kreatif. Menurut Ignas Kleden sebetulnya strategi kebudayaan pembalikan suatu cara berpikir, cara berbahasa pada umumnya lebih memperlakukan kita sebagai resipien (penerima) suatu kebudayaan. Lanjut, menurut Ignas Kleden bahwa dalam strategi kebudayaan keberadaan agen (kita) bukan hanya sebagai resipien, tapi agen harus sanggup mengarahkan, mengembangkan, dan menciptakan kembali secara baru. kemampuan ini, agen dituntut pencipta budaya baru (Prisma, 3/3/87). Kemampuan tersebut diperoleh dari tradisi literasi. jadi, selayaknya literasi dijadikan strategi kebudayaan untuk revolusi kebudayaan. Tapi, kebesaran manfaat literasi tidak ada artinya ketika tidak ada kesadaran untuk mengembangkan tradisi literasi.

Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar