Konstruksi Kesopanan dalam Perspektif Masyarakat Modern



Oleh: Erwin Rasyid

Pagi itu saya memasuki ruangan salah satu kantor lembaga yang ada di universitas, bermaksud untuk mengumpulkan berkas persyaratan KKN (Kuliah Kerja Nyata). Dengan sangat yakin saya pun mengambil secarik kertas formulir pendaftaran KKN lalu kemudian mengisinya dengan lengkap. Setelah mengisi formulir, saya kemudian mengumpulkan formulir tersebut. Dan ternyata formulir pendaftaran KKN tersebut ditolak karena alasan foto yang saya pasang dalam formulir tersebut. Padahal, menurut persyaratan foto yang harus dikumpulkan adalah foto dimana keadaan diri sedang mengenakan jas almamater, atau tidak, yang penting sopan.

Saya pun bingung mengapa foto tersebut dianggap tidak pantas oleh petugas. Padahal dalam foto tersebut saya berdiri dengan gagah meskipun latar di belakangnya terdapat sebuah mobil buntut. Dalam foto itu saya mengenakan kaos oblong namun dibalut dengan setelan jaket. Ya, saat saya berfoto memang di luar ruangan, tidak dalam studio mewah dengan segala bentuk peralatannya yang canggih. Saat itu pun saya belum mengerti dengan “ketidakpantasan” yang ada dalam foto saya. Mungkin konstruksi kesopanan yang saya bangun tidak sama dengan konstruksi kesopanan yang dimiliki oleh sang petugas.

Berbicara mengenai kesopanan, mungkin masing-masing orang atau pun masyarakat tertentu memiliki konstruksi sendiri mengenai kesopanan. Baik itu dari segi budaya, sosial, agama dan sebagainya. Jika dalam agama Islam memakai jilbab dianggap sopan sementara yang tidak memakai jilbab dianggap tidak sopan. Maka agama selain Islam pun berkata lain, orang yang tidak memakai jilbab belum tentu dianggap tidak sopan. Begitu pun dengan budaya pergaulan sehari-hari. Jika di Mesir orang berteman saling menepuk pantat dianggap biasa saja, maka di Indonesia lain lagi. Bisa saja orang yang saling menepuk pantat tersebut akan dianggap tidak sopan bahkan bisa di cap "Gay" oleh orang lain.

Konstruksi mengenai kesopanan tentu akan dipengaruhi oleh banyak hal. Lingkungan, sosial, budaya, agama, adat istiadat, dan pendidikan adalah beberapa faktor yang turut mempengaruhi konstruksi kesopanan di masing-masing kelompok masyarakat. Contohnya adalah jika masyarakat perkotaan modern menganggap memakai memakai sendal masuk ke dalam rumah adalah hal yang biasa, masyarakat pedesaan tentu akan menganggap hal tersebut adalah hal yang tidak sopan. Atau mungkin jika suku pedalaman dalam suatu tempat tertentu menganggap bahwa pakaian adat yang mereka kenakan sudah cukup sopan meskipun masih memperlihatkan beberapa bagian tubuh. Tentu masyarakat di luar suku pedalaman tersebut akan menganggap hal tersebut tidak sopan. 

Mencari sebuah konstruksi kesopanan yang absolut tentu akan sangat sulit. Karena konstruksi kesopanan di masing-masing kelompok masyarakat akan berbeda. Kesopanan yang nyata itu adalah sebuah ketiadaan yang diciptakan oleh masyarakat itu sendiri. Mereka hanya akan sibuk memperdebatkan masalah siapa yang paling sopan diantara mereka, tanpa bisa menghargai pandangan orang lain mengenai kesopanan yang mereka anut. Jika kita masih belum bisa menghargai nilai-nilai yang dianut oleh orang lain. Maka menemukan model konstruksi kesopanan yang ideal dan memiliki sifat yang universal untuk semua adalah sebuah keniscayaan. 

Kita semua hanya sibuk mengomentari orang lain tanpa melihat diri kita sendiri apakah sudah benar atau tidak. Kesopanan yang nyata itu adalah kesopanan dimana kita bisa saling menghargai satu sama lain. Bukan malah menghakimi orang lain dan menganggap diri adalah yang paling benar. Bukan penampilan luarlah yang akan membuat kita kelihatan sopan atau tidak, akan tetapi kesopanan itu berasal dari dalam diri masing-masing. Etika, moral, akhlak dan perilaku kita sehari-harilah yang mencerminkan apakah diri sudah layak dianggap sopan atau tidak. Dan kesopanan itu adalah bagaimana cara kita menempatkan sesuatu pada tempatnya. Mungkin bagi saya itulah konstruksi kesopanan yang nyata dan universal untuk semua manusia. Meskipun saya tak memungkiri bahwa orang lain tentu memiliki konstruksi kesopanan untuk diri mereka masing-masing.

Demikianlah tulisan sederhana yang tak sopan ini saya buat, semoga dapat mencerahkan bahkan dapat merekonstruksi kembali pandangan kita mengenai kesopanan. Karena pada hakekatnya kesopanan itu ada pada diri masing-masing. (ERA/5-03-15)
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar