KKNI Untuk MEA 2015

Sumber gambar: blog.kampus.co.id


MEA (Masyarakat Ekonomi Asean) akan diberlakukan ditahun 2015 ini. Banyak persiapan yang dilakukan pemerintah Indonesia untuk menyambut sistem perdagangan bebas yang akan dilakukan oleh negara-negara ASEAN agar mampu bersaing dengan negara-negara di kawasan lain. Salah satunya dibidang pendidikan, yaitu dengan merevolusi dari sistem kurikulum KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi) menjadi KKNI (Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia).

KKNI merupakan kerangka perjenjangan kualifikasi dan kompetensi yang berbasis menyandingkan, menyetarakan, dan mengintegrasikan sektor pendidikan dengan sektor pelatihan dan pengalaman kerja. Adapun kebijakan ini diterapkan agar pendidikan Indonesia dapat disandingkan dengan pendidikan negara lainya, sehingga lulusan kompetensi pendidikan di Indonesia bisa diakui oleh dunia Internasional.

Menurut ibu Dr. Suciati, S.Sos., M.Si, Kepala Kurikulum Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. “Saat sekarang, hampir semua Universitas di Indonesia sudah bersiap beralih dari kurikulum KBK menjadi KKNI.” Ungkapnya.

Adapun penerapan sistem tersebut dibutuhkan waktu secepatnya sekitar 1 tahun untuk melakukan perubahan. Karena Direktoral Pendidikan Tinggi (DIKTI) sendiri mempunyai standar-standar kompetensi yang harus diadopsi oleh semua perguruan tinggi di Indonesia baik dari D3 sampai S3.

KKNI terdiri dari pencapaian level kualifikatif melalui berbagai jalur. Seperti jalur pendidikan formal mulai dari SMP, SMA, Universitas, Profesional, bahkan sampai S3. Ada sembilan jenjang kualifikasi yang bisa dibagi, mulai dari jenjang 1-3 yang dikelompokkan dalam jabatan operator, jenjang 4-6 dalam jabatan teknis dan analisis, serta jenjang 7-9 untuk jabatan ahli.

Peningkatan dan kualifikasi level KKNI juga dapat dilalui tanpa jalur formal. Diantaranya pendidikan bergelar, pengakuan masyarakat profesi, belajar mandiri, bahkan berkarir di dunia kerja. Parameter KKNI dapat dideskripsikan melalui kemampuan dibidang kerja, pengetahuan yang dikuasai, serta kemampuan manajerial. Adapun demikian orang yang tidak sekolah formal atau belajar mandiri ketika diuji oleh lembaga terkait dan lulus sehingga mendapat sertifikasi. Mereka bisa disandingkan dengan orang yang lulus dari pendidikan formal.

Ibu Suciati menambahkan, “Dalam KKNI semua jalur harus memenuhi 4 hal penting untuk menunjang capaian pembelajaran. Diantaranya keterampilan khusus mencakup kemampuan kerja produktif disertai bidang keilmuan, pendidikan mencakup cerminan sikap dan tata kerja sebagai warga negara, keterampilan umum mencakup semua keahlian umum dan tanggung jawa, dan pengetahuan mencakup tingkat penguasaan serta pemahaman akan pengetahuan.”

Pemerintah telah menerbitkan Perpres No. 8 Tahun 2012 tentang Karangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) yang merupakan acuan dalam penyusunan pencapaian pembelajaran lulusan dari setiap jenjang pendidikan secara nasional. Sosialisasi akan perubahan sistem kurikulum ini perlu lebih dikembangkan dan dicanangkan agar masyarakat lebih memahaminya. Dengan adanya kebijakan revolusi akan kurikulum ini. Diharapkan dapat menciptakan sistem pendidikan yang baik dan sanggup bersaing di dunia Internasional. (Heri)
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar