Jilbab Itu Topeng

Oleh : Sampean Alumnus Sosiologi UNM/sekarang aktif di Komunitas Belajar Menulis (KBM) Yogyakarta


“Tak apa akhlak atau Budi itu Buruk yang penting berjilbab, setidaknya telah menggugurkan kewajiban”

Benarkah jilbab itu lebih utama daripada akhlak? Pertanyaan ini muncul dalam pergulatan batin melihat fenomena Islam keseharian. Corak keberislaman yang kita dapatkan dalam keseharian cukuplah beragam. Kebaragaman dapat dilihat dari konteks sosial keberadaan Islam itu sendiri. Tak ayal corak keberislaman yang ada sekarang ini telah mengikuti hasrat kapitalisme. Model keberislaman dikonstruk sedemikian rupa untuk memenuhi kebutuhan pasar. Sebagaimana yang kita dapatkan dalam model jilbab. Jilbab telah dikomodifikasi hanya bernilai materi dengan mendangkalkan nilai yang dikandungnya sebagai produk syariat. Kecenderungan tersebut hanya memperlihatkan bahwa jilbab hanya sekadar mode. Kecenderungan yang lain, pemakaian jilbab hanya sebagai peneguhan kewajiban sebagai penganut agama Islam. Penggunaan Jilbab diinterpretasikan mencegah berbuat dosa setiap saat. Kedua model perilaku tersebut terjerembab pada penyederhanaan terhadap ajaran Islam khususnya pada para pemakai jilbab. 

Kecenderungan pertama, jilbab sebagai tren mode memperlihatkan jilbab sebagai penampakan pesona individu. Tak pelak, jilbab hanya sebagai aksesoris untuk menampilkan kecantikan perempuan dengan menghilangkan unsur keagamaan. Tidak tanggung-tanggung para para pemakai jilbab ngeceng ke mana-mana tanpa terlihat canggung di depan publik dengan tingkah laku yang erotis. Misalnya dalam menghadiri konser perempuan tidak segan berteriak dan berbaur dalam kerumunan penonton. Bahkan, perempuan tidak segan tampil seksi dan pakaian yang transparan sementara menggunakan jilbab. Hal ini sangat kontras dengan agama Islam yang mengenal batas toleransi dalam berjilbab. Dalam Alquran dan Hadis cukup jelas menjelaskan tentang etika dalam berjilbab. Tapi, para pengguna jilbab tersebut ngeyel bahwa mereka telah menjalankan syariat Islam. 

Kecenderungan kedua, Jilbab sebagai peneguhan kewajiban. Kecenderungan kedua ini pemakaian jilbab dimaknai sebatas pengguguran kewajiban. Persoalan akhlak atau laku manusia adalah persoalan kedua. Jilbab tidak berkorelasi langsung dengan laku manusia, tetapi persoalan peneguhan kewajiban atas risalah keberagamaan. Jadi, konsekuensi penggunaan jilbab hanyalah persoalan dosa tidaknya seseorang. Sebagai mana pengakuan seorang ustad dalam masjid mengatakan bahwa tak apa akhlak itu buruk, yang penting berjilbab atau menutup aurat setidaknya telah menggugurkan kewajibannya. Cara pandang ini diyakini oleh kalangan tertentu dalam menginterpretasikan ajaran Islam. Utamakan fiqih di atas akhlak. Kalangan ini cukup kontras dengan kecenderungan pertama di model jilbab cenderung seragam sebagaimana pemaknaannya terhadap Alquran dan Hadis yang tekstual. Sehubungan dengan persoalan ini, kerap ditemukan “memakai jilbab” ditemukan mesum dalam kamar kost dan hamil di luar nikah. Bahkan, seorang yang dianggap taat menjaga ibadah terjebak dalam lubang dekandensi akhlak. Beberapa tokoh Islam yang bergiat dalam partai politik Islam sedang di bui karena kasus korupsi.

Kedua kecenderungan perilaku pemeluk Islam terjerembab pada jebakan simplifikasi (penyederhanaan) ajaran Islam. Kecenderungan pertama terjebak pada kehidupan yang artifisial, jilbab hanya digunakan sebagai busana sebagai produk budaya. Sementara, nilai-nilai agama dihilangkan dalam tingkah laku sosialnya. Jilbab sebagai produk budaya jilbab senantiasa mengikuti etika pergaulan manusia kontemporer. Gaya jilbab terus dikembangkan sesuai mekanisme pasar, di mana media berperan menghadirkan figur publik dengan mode (gaya) jilbab yang baru seperti model Marshanda, model Ashanty, model Syahrini, model unisex dan model Pashmina. Jilbab telah menjadi pergaulan kalangan kaum muda untuk menampilkan perempuan yang memesona. Pergaulan tersebut tidak lepas dari gaya hidup yang telah dikomodifikasi untuk mengikuti tren mode yang berkembang dalam masyarakat. Bisa jadi, kecenderungan jilbalisasi dalam pergaulan akan berhenti ketika tren jilbab berhenti. Sementara, kecenderungan kedua terjebak pada pengutamaan pengguguran kewajiban dibandingkan dengan konsekuensi sosialnya. Golongan ini melahirkan penganut Islam yang taat. Namun, kurang peduli dengan sesamanya kecuali dengan persoalan ibadah. 

Realitas yang nampak dalam Islam keseharian menunjukkan posisi yang dilematis bagi penganutnya. Menurut Donny Gahral Adian (2013:6) bahwa situasi yang dilematis karena keduanya bertindak berdasarkan rasionalitas instrumental. Sedangkan rasional instrumental menurut Donny (2013:98) adalah rasionalitas yang menimbang sarana untuk mencapai tujuan yang terberi. Perilaku pertama dicanangkan oleh komodifikasi pasar dan yang lain canangkan oleh agama yang murni ritualitas. Kedua laku yang ditunjukkan oleh pemeluk agama Islam mereduksi suatu ajaran untuk menjadi kepentingan pribadi. Perilaku pertama untuk kepentingan gaya hidup dan peneguhan kewajiban terhadap Tuhan. Kedua laku tersebut masing-masing mengesampingkan entitas suatu ajaran Islam. 

Pengesampingan ajaran dalam Islam melahirkan budaya yang prematur, sebab penggunaan jilbab tidak bisa dibatasi pada ranah tertentu, baik ranah privat maupun ranah publik. Tapi, penggunaan jilbab harus menunjukkan kedalaman dari keyakinan seseorang yang berkorelasi dengan akhlak. Sebab, akhlak merupakan budi pekerti atau kelakuan manusia yang terintegrasi suatu ajaran. Kelakuan manusia merupakan bagian dari budaya itu sendiri. Budaya paripurna terlahir dari ajaran yang paripurna ditunjukkan oleh laku penganutnya. 

Sejarah menunjukkan muncul dan tenggelamnya suatu peradaban itu berdasarkan perilaku manusianya. Dalam Islam sendiri, pengadaban kaum Qurais melalui akhlak Rasulullah SAW, sebab nabi Muhammad SAW dengan ajaran islam “alquran” suatu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Bisa jadi, al-Quran tidak punya arti apa-apa tanpa Muhammad SAW, begitu pun sebaliknya Nabi Muhammad SAW tidak punya arti apa-apa tanpa alquran. Aisyah RA sendiri menekankan bahwa akhlak Nabi adalah alquran. Jadi, antara peneguhan kewajiban dalam pemakaian jilbab harus berkesusaian dengan kelakuan ajaran Islam itu sendiri. Sebab, para pemeluk yang terjerembab dalam jebakan mode dan pengguguran kewajiban, jilbab tak ubahnya sebagai topeng atau kamuflase untuk bersembunyi dari borok lakunya. Seperti yang dikutip oleh Bahrul Amsal (http://alhegoria.blogspot.com/) dari Zizek mengutarakan bahwa suatu keadaban bukan pada suatu teks, pemikiran, dan permainan bahasa tapi apa yang akan dan telah dilakukan manusia.
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

2 comments:

  1. JILBAB MENURUT BUYA HAMKA (Pendiri/Ketua MUI ke-1, Tokoh Ulama Besar Muhammadiyah), yang ditentukan oleh agama adalah Pakaian yang Sopan dan menghindari 'Tabarruj'

    berikut adalah kutipan Tafsir Al-Azhar Buya HAMKA (Tafsir Al-Azhar, Jilid 6, Hal. 295, Penerbit Gema Insani, Cet.1, 2015), selengkapnya lebih jelas dan tegas dapat dibaca pada Al-Ahzab: 59 dan An-Nuur: 31

    'Nabi kita Muhammad saw. Telah mengatakan kepada Asma binti Abu Bakar ash-Shiddiq demikian,

    "Hai Asma! Sesungguhnya Perempuan kalau sudah sampai masanya berhaidh, tidaklah dipandang dari dirinya kecuali ini. (Lalu beliau isyaratkan mukanya dan kedua telapak tangannya)!"

    Bagaimana yang lain? Tutuplah baik-baik dan hiduplah terhormat.

    Kesopanan Iman

    Sekarang timbullah pertanyaan, Tidakkah Al-Qur'an memberi petunjuk bagaimana hendaknya gunting pakaian?

    Apakah pakaian yang dipakai di waktu sekarang oleh perempuan Mekah itu telah menuruti petunjuk Al-Qur'an, yaitu yang hanya matanya saja kelihatan?

    Al-Qur'an bukan buku mode!

    Bentuk pakaian sudah termasuk dalam ruang kebudayaan, dan kebudayaan ditentukan oleh ruang dan waktu ditambahi dengan kecerdasan.

    Tidaklah seluruh pakaian Barat itu ditolak oleh Islam, dan tidak pula seluruh pakaian negeri kita dapat menerimanya.

    Kebaya model Jawa yang sebagian dadanya terbuka, tidak dilindungi oleh selendang, dalam pandangan Islam adalah termasuk pakaian "You can see" juga. Baju kurung cara-cara Minang yang guntingnya sengaja disempitkan sehingga jelas segala bentuk badan laksana ular melilit, pun ditolak oleh Islam.'

    MENGENAL (KEMBALI) BUYA HAMKA

    Ketua Majelis Ulama Indonesia: Buya HAMKA

    "paling konsisten memperjuangkan Syariat Islam menjadi dasar negara Indonesia. Dalam pidatonya, HAMKA mengusulkan agar dalam Sila Pertama Pancasila dimasukkan kembali kalimat tentang 'kewajiban menjalankan Syariat Islam bagi pemeluknya', sebagaimana yang termaktub dalam Piagam Jakarta."

    mui.or.id/tentang-mui/ketua-mui/buya-hamka.html

    Mantan Menteri Agama H. A. Mukti Ali mengatakan, "Berdirinya MUI adalah jasa HAMKA terhadap bangsa dan negara. Tanpa Buya, lembaga itu tak akan mampu berdiri."

    kemenag.go.id/file/dokumen/HAMKA.pdf

    "Buya HAMKA adalah tokoh dan sosok yang sangat populer di Malaysia. Buku-buku beliau dicetak ulang di Malaysia. Tafsir Al-Azhar Buya HAMKA merupakan bacaan wajib."

    disdik.agamkab.go.id/berita/34-berita/1545-seminar-internasional-prinsip-buya-hamka-cermin-kekayaan-minangkabau

    "Sebab itu, menjadi pilihan pribadi masing-masing Muslimah mengikuti salah satu pendapat jumhur ulama: memakai, atau tidak memakai jilbab." nu.or.id

    "Antara Syari'ah dan Fiqh

    (a) menutup aurat itu wajib bagi lelaki dan perempuan (nash qat'i dan ini Syari'ah)
    (b) apa batasan aurat lelaki dan perempuan? (ini fiqh)

    Catatan: apakah jilbab itu wajib atau tidak, adalah pertanyaan yang keliru. Karena yang wajib adalah menutup aurat."

    *Nadirsyah Hosen, Dosen Fakultas Syariah UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta

    luk.staff.ugm.ac.id/kmi/isnet/Nadirsyah/Fiqh.html

    Terdapat tiga MUSIBAH BESAR yang melanda umat islam saat ini:
    1. Menganggap wajib perkara-perkara sunnah.
    2. Menganggap pasti (Qhat'i) perkara-perkara yang masih menjadi perkiraan (Zhann).
    3. Mengklaim konsensus (Ijma) dalam hal yang dipertentangkan (Khilafiyah).

    *Syeikh Amru Wardani. Majlis Kitab al-Asybah wa al-Nadzair. Hari Senin, 16 September 2013

    www.suaraalazhar.com/2015/05/tiga-permasalahan-utama-umat-saat-ini.html

    *bila kelak ada yang berkata atau menuduh dan fitnah Buya HAMKA: Sesat dan menyesatkan, Syiah, Liberal, JIL, JIN, SEPILIS atau tuduhan serta fitnah keji lainnya (hanya karena ijtihad Beliau mungkin tidak sesuai dengan trend/tradisi saat ini), maka ketahuilah dan ada baiknya cukupkan wawasan terlebih dahulu, bahwa dulu Beliau sudah pernah dituduh sebagai Salafi Wahabi (yang notabene identik dengan Arab Saudi). "Teguran Suci & Jujur Terhadap Mufti Johor: Sebuah Polemik Agama" #HAMKA #MenolakLupa

    BalasHapus
  2. Syariat itu mutlak wewenang-NYA, tidak boleh ditambah maupun dikurangi oleh siapa pun, Mufti/Ulama Besar sekaliber Buya HAMKA, tentu bukanlah Ulama yg tidak mampu membedakan antara Syariah dan Fiqih

    "Hukum Islam yang berstatus syari’ah (qath’i) jumlahnya relatif sedikit dibandingkankan dengan hukum Islam kategori fiqh.

    Contoh syari’ah, misalnya, salat lima waktu, puasa, zakat, haji, keharaman memakan bangkai dan darah, durhaka kepada kedua orang tua, mencuri sumpah palsu, dan lain sebagainya.

    Sedangkan contoh fiqh, misalnya, hal-hal yang berkenaan dengan teknis dan pelaksanaan ibadah-ibadah wajib di atas, BATAS-BATAS MENUTUP AURAT, masalah asuransi, dan lain sebagainya.

    Berdasarkan pengklasifikasian ini, hukum Islam kategori syariah tidak diperlukan ijtihad karena kebenarannya bersifat absolut/mutlak 100%, tidak bisa ditambah atau dikurangi. Dari segi penerapan, situasi dan kondisi harus tunduk kepadanya, ia berlaku umum tidak mengenal waktu dan tempat.

    Sedangkan kategori fiqh kebenarannya relatif, ia benar tetapi mengandung kemungkinan salah atau salah tetapi mengandung kemungkinan benar. Dan dari segi aplikasi, fiqh justru harus sejalan dengan, atau mengikuti kondisi dan situasi, untuk siapa dan dimana ia akan diterapkan."

    fish.uinsby.ac.id/?p=789

    BalasHapus