Ironi Pembangunan Jogja

Sumber foto: jogja.co

Saat ini jalanan macet yang dipadati oleh ribuan kendaraan, pesatnya pembangunan hotel dan menjamurnya pusat perbelanjaan (mall) seakan menjadi hal yang lumrah di Yogyakarta. Seiring dengan arah gaya hidup masyarakat yang semakin modern. Sementara kondisi pasar-pasar di kota ini terbilang memprihatinkan dan jauh dari kenyamanan. 

Di saat hampir semua kota besar di pulau Jawa sedang giatnya membangun jaringan transportasi publik, ruang terbuka hijau dan trotoar besar. Jogja justru tumbuh secara brutal dan muncul pertanyaan kepada siapakah pembangunan kota ini berpihak? 

Meskipun dalam bingkai pariwisata Jogja terkenal dengan slogan istimewa. Namun pada kenyataanya, keistimewaan tersebut terasa semu ketika masyarakat Jogja sendiri identitas dan budayanya semakin terpinggirkan. Sebagai perantau, saya seringkali terheran–heran dengan kondisi Jogja yang semakin hedonis serta minimnya fasilitas publik dan parkir kendaraan. Bandung yang sebenarnya merupakan kota terpadat di Indonesia, masih memiliki beberapa taman cantik yang terawat dan tengah giatnya membangun trotoar berkelas dunia yang memanjakan masyarakat kota. Sementara kondisi trotoar di Jogja tidak lain sebagai sarana pelecehan bagi pejalan kaki karena pengendara dibiarkan memakirkan motornya di trotoar. Dan lucunya lagi, ada petugas resmi parkir yang melayani. 

Jogja seakan terlena dalam zona nyaman. Entah apakah puas setelah menyandang predikat sebagai kota layak huni tahun 2014 dari Eastern Regional Organisation for Planning and Human Settlements (EAROPH). Sementara di jalan-jalan kota yang sempit dan macet, setiap hari masyarakat mengandalkan kendaraan pribadi masing-masing karena minimnya akses transportasi umum yang melintas di kota ini. Maka tidak heran sebagai kota pelajar, para mahasiswa yang merantau di kota ini membawa juga kendaraan pribadi dari daerah asalnya untuk bermobilisasi. 

Anehnya, banyak orang yang diam seribu bahasa. Mereka pasrah dengan memburuknya kualitas hidup, terbiasa dengan pemandangan motor yang terparkir di jalur pejalan kaki, timpangnya keadaan perekonomian masyarakat dengan kampung kumuh disekitarnya, serta kemacetan yang semakin parah dan banjir. Mampukah Jogja menyelesaikan permasalahan kompleks tersebut? Atau apakah Jogja tetap diam menunggu hingga sadar bahwa telah gagal seperti kota besar lainnya di Indonesia? (Aul)
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar