Dijah Yellow dan Kesusastraan






Oleh Z.Hilmi

Saya agak sangsi manakala penulis-penullis baru bermunculan serupa jamur yang tumbuh di pertengahan Januari, subur. Sedang saya belum menghasilkan satu karya pun yang kelak dapat mengabadikan nama saya, agar anak cucu mungkin bisa tahu apa isi otak kakeknya selain bulan biru dan anggur manis.

Okelah, semua orang boleh bisa melakukan apapun termasuk menulis, semua orang boleh tidak bisa melakukan apapun kecuali menulis. Aforisma milik Seno Gumira ini seolah menegaskan menulis adalah bawaan lahir juga kondisi genetis seseorang agar bisa disebut “orang”. Tak ada yang salah dari kalimatnya, sebab saya pun mengiyakan.

Menulis memang penting sebagai medium olah pikir, beberapa orang mengganggap bahwa menulis adalah ritual mengusir kegelisahan atau keresahan, maka setelah melakukannya otak serasa di-reboot ulang. Dengan menulis sesungguhnya kita telah mewujud-bentukkan sesuatu yang abstrak menjadi riil, yang tiada menjadi ada. Seperti memetakan sebuah wilayah, kita menempatkan masalah satu dengan yang lain, memisahkannya, menghimpunnya lalu dijadikanlah sebuah solusi sebagai konklusi. Begitulah menulis.

Tak ayal, teman saya yang kekuning-kuningan bernama Dijah menjawab semua keresahannya dalam bentuk tulisan yang selesai dalam waktu sepuluh hari. Saya sempat angkat topi untuk keberanian yang ia lakukan, dan tentu saja keberanian yang dulu-dulu juga pernah ia lakukan seperti memutus hubungan dengan Selena Gomez lantaran mendekati Justin Bieber atau menjadi haters abadi Raisa dan Syahrini. 

Saya bukan orang yang terlalu fanatik akan hal-hal tak penting semacam munculnya si Kuning Dijah. Tak ada gunanya membenci berlebihan teman saya satu ini, sebab jadi fans saja mungkin sudah buang-buang tenaga dan waktu. Ada yang lebih penting, seperti mengkrirtik kebijakan Jokowi yang makin kesini serasa menjadi misionaris polri atau mencoba teori-teori Sigmund Freud atas keganjilan psikologis Haji Lulung misalnya.

Saya pun menanggapi fenomena Dijah serupa dengan fenomena-fenomena sebelumnya, ada orang yang tiba-tiba tenar lantaran bernyanyi lagu India berseragam briptu yang sekarang jadi tukang bubur, atau yang sekedar jual dada tanpa dibarengi bakat yang mumpuni, semua itu saya anggap seperti angin lalu yang datang sebentar menyegarkan lalu tiba-tiba hilang. Namun ternyata hukum ini tidak berlaku pada Dijah, karena sebagaimana artis berbakat lainnya, Dijah tetap produktif menulis buku bahkan lagu yang telah ia jual melalui RBT. 

Di Indonesia, asal berlaku diluar kebiasaan maka akan menjadi sesuatu yang luar biasa. Orang-orang kita sudah biasa diberlakukan bak bahan percobaan oleh media, didudukan diatas kursi mirip kursi seterum hukuman mati dalam sebuah ruangan gelap, dipasangkan berbagai selang macam ukuran ke segala penjuru kepalanya dan menyuntikan cairan menjijikan berupa informasi-informasi sampah atau drama-drama biru yang tak pernah ada. 

Saya tak iri hati atas kesuksesan yang diraih si Kuning Dijah, secara materialis bisa dibilang Dijah dapat melampaui apa yang tak dapat dilampaui saya dan “manusia”. Lihat saja akun instagramnya, pengikutnya sudah mencapai 32000 umat. Jika kita dimasa peralihan Isa dan kebangkitan renaisans, mungkin si Kuning Dijah bisa disejajarkan dengan santo kala itu, lantas kita bersedia mencuci kakinya dan meminum air cuciannya yang suci menurut orang-orang. Alih-alih dapat menyembuhkan semacam penyakit gila yang dijangkit suatu kota dipinggir Eropa karena azab atas kebiasaan memasukan anunya kepada anu sesama.

Belum lagi atas royalti yang entah sudah berapa juta ia dapatkan dari novel semahal itu. Rembulan Love, Dari judulnya saja sudah menarik perhatian, apalagi kata seromantis Bulan dapat imbuhan Love diakhirnya. Dijah seolah paham ketatabahasaan dan membuatnya nyaman dibaca, ia memberi semacam double combo atas melankoli, atau katarsis bagi siapapun yang membacanya. 

Entah siapa yang ia jadikan refrensi atas aliran yang ia bawa dalam novelnya. Apakah Hemingway dengan romantisme atas kekejian perang, atau Garcia Marques dengan realisme magisnya. Sekiranya kedua aliran ini akan cocok jika dibawa dalam Rembulan Love, karena Dijah Yellow seolah mengingatkan kita atas korban kekejian perang, juga mengingatkan saya atas tokoh dalam novel Seratus Tahun Kesunyian milik Marquez yang mana di dalamnya ia digambaarkan sebagai tokoh magis yang bertindak selalu diluar kebiasaan.

Jika iya dua aliran tersebut yang ia bawa, maka saya akan sangat keranjingan ingin membeli novelnya, berapapun harganya. Karya ini seperti komet Halley yang hadir hanya dalam kurun waktu puluhan tahun, sangat langka. Dua perkawinan atas karya dan dua penulis terbaik sepanjang masa versi saya. Bukan versi nulisbuku.com. 

Saya benar-benar mengapresiasi apa yang telah dilakukan si Kuning Dijah belakangan ini, sebab ia hadir menjadi sosok yang seolah menyadarkan kita, bahwa sebuah kebaikan belum tentu dianggap baik oleh orang-orang, sesuatu yang positif belum tentu membawa paradigma positif dimasyarakat. sesekali kita seharusnya berkaca atas diri kita, tanpa membawa sikap judgmental yang ujungnya selalu bermuara pada kebencian.

Apa yang salah dari orang yang berkarya, meskipun karya itu sekalipun lahir dari orang yang mungkin mengidap mental disorder atau scizofrenia sekalipun macam Dijah. Lihat saja si anak naga atau Ryunosuke Akutagawa, meskipun mengidap scizofrenia yang diturunkan keluarganya Ryunosuke berhasil produktif dengan melahirkan karya-karya gila dalam arti sebenarnya seperti Rashomon, Kappa dan cerpen Lukisan Neraka miliknya yang tak biasa. Meskipun di akhir hayatnya ia akhirnya bunuh diri. 

Namun kegilaan semacam mengakhiri hayat di tali tambang mungkin tak akan terjadi serupa pada si Kuning Dijah. Sebab saya pun meyakini, sesuatu yang baru dan belum pernah ada sebelumnya pasti selalu lebih mengundang kebencian. Seperti orang Indonesia pada umumnya, latah. Namun Dijah tetap meyakini dan terus percaya diri bahwa ia berhak menjadi trendsetter seperti Lady Gaga.

Sebagai salah satu fans yang tidak fanatik amat, saya akan terus mendoakan agar si Kuning Dijah tetap berkarya dan menjalani terapi keresahannya sebaik mungkin. Jika ada kata-kata yang tak mudah dipahami tolong dimaklumi, sebab semua itu tak lebih hanyalah kesombongan intelektual. 















Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar