Tanah yang Kini Bertuan



Embun embun pagi bersandar di helain daun persawahan
Kini semakin hilang ditelan pondasi yang menjual kemewahan
Tak sadarkah jika para pemupuk padi menjadi kering
Dengan mereka yang seolah buta dan berpikir miring

Air yang mengenang dibalik sebuah sumur tua
Kini semakin nampak kegelapan tak berarti dalam lubang
Tak sadarkah jika urban telah menukar tangisannya
Dengan mereka yang seolah mencuci mulut dengan uangnya

Pilu dirasa hati para semut semut negeri
Seperti dijilati tikus yang bersarang dalam parit
Tak kuasa hati menahan nyeri
Serasa dijilati seperti memburit

Malu pada nenek nenek moyangmu dulu
Dengan tanah titisan sejarah mereka agungkan
Dengan selembar gambar pahlawan kamu berikan
Secercah nilai kemanusian telah tewas tanpa malu

Hai kalian yang seolah nampak seperti malaikat
Berjas rapih seperti para politisi yang mulai berkarat
Keadaan negeri ini sudah mulai sekarat
Jangan menjadi umat yang membawa perkara berat

Mungkin sang pertiwi perlahan mulai menangis
Tertampar siksaan para jelata dari kaum hedonis
Jangan biarkan sang garuda terbang seolah tak peduli
Yang mungkin akan pergi dari tanah yang kini dipijaki

Seolah hari ini sudah menjadi pertanda
Akhir dari runtuhnya negeri yang sedang bertian
Yang kini tanah tak lagi bagi pecinta ibu pertiwi
Tapi tanah yang tergerus tanpa pemberhentian
Tanah yang bertuan


(Nash)
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar