Pembangunan Ekonomi Politik Titik Awal Pembangunan Alternatif



Ar Fachrudin B (21/02). Himpunan Mahasiswa Ilmu Ekonomi (HIMIE) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta mengadakan acara Bedah Buku Nasional Ekonomi Poitik Pembangunan. Acara ini menghadirkan Prof. H. M. Dawam Rahardjo, selaku penulis buku “Ekonomi Politik Pembangunan”, Fadli Zon, SS. MSc, wakil ketua DPR RI, Tarli Nugroho, peneliti Mubyarto Institute, dan Drs. Hudiyanto, Dosen Fakultas Ekonomi UMY. Buku karya dari Prof. Dawam Raharjo ini merupakan kumpulan tulisan yang sempat diterbitkan oleh majalah Prisma sejak tahun 1970an. Majalah prisma merupakan sebuah majalah yang salah satu penggagasnya ialah Prof. Dawam Raharjo. Tebal buku ini 872 halaman diterbitkan oleh Fadli Zon Library, dan dipatok dengan harga Rp. 200.000,00 untuk peserta seminar yang hadir.

Dalam seminar tersebut Dawam menyebutkan bahwa inti atau isi pokok dari buku yang ia susun ialah pembangunan, sejarah pemikiran, serta metodologi dan epistemologi. Latar belakang dituliskannya buku ini ialah untuk mencari pembangunan alternatif terutama di bidang ekonomi. Semisal perlunya penggantian dari rezim otoriter ke sebuah rezim demokrasi. Cara berpikir adalah cara membaca. Jadi ketika seseorang berpikir maka buah atau hasil dari pemikirannya merupakan cerminan dari apa yang ia baca.

Dalam pemikiran Dawam lebih dikenal dengan pendekatan struktural historisme. Teori struktural menjelaskan bahwa pada dasarnya perilaku manusia dan gejala atau proses sosial yang terjadi terutama lebih menekankan kepada faktor-faktor lingkungan sebagai penyebabnya. Kemudian sejarah sukses Negara maju tidak bisa diterapkan mentah-mentah di Negara berkembang. Karena dalam dalam situasi keterbelakangan bagaimana mungkin Negara berkembang untuk saving dan invetasi sedangkan pendapatan masyarakat hanya mampu untuk bertahan hidup. Dalam keadaan inilah muncul teori pembangunan dari negara dunia ketiga tentang teori ketergantungan.

Cara berfikir bukan sekedar teknikal namun mengarah ke sebuah ideologi. Dalam pasal 33 ayat 1 sampai 3 menyebutkan bahwa dalam pelaksanaan perekonomian perlu adanya campur tangan dan keterlibatan pemerintah. Sistem ekonomi kapitalis akan melahirkan depresi yang besar namun sistem ekonomi komunis tidak jauh lebih baik jika diterapkan. Hal ini karena kedua sistem ekonomi tersebut tidak sesuai dengan kenyataan yang dihadapi bangsa Indonesia.

Fadli Zon juga menyebutkan bahwa ekonomi ialah untuk kesejahteraan sosial yang saat ini diganti dengan HDP (Human Development Product) untuk sebuah kebahagiaan rakyat meliputi terpenuhinya sandang, papan, pangan serta jaminan dihari tua. Hal tersebut juga mengarah pada trilogi pembangunan yakni stabilitas nasional, pertumbuhan ekonomi, dan pemerataan. Trilogi pembangunan itu berhasil dalam mengatasi development pada masa pemerintahan orde baru karena kabinet dalam kepemimpinan Soeharto mampu melaksanakan serta menjalankan segala sistem pemerintahan baik dari segi ekonomi maupun politik.

Keadaan yang seperti itu berbanding terbalik dengan kondisi kabinet saat ini, dimana konsep pemerintahan yang tidak jelas tidak ada target yang jelas dari pemerintah. Untuk mencapai sebuah target yang jelas baiknya kembali ke pola awal, semisal sebuah demokrasi. Demokrasi dari akar bukan ketika demokrasi saja ataupun hanya politiknya saja, namun dalam sistem demokrasi keduanya harus ada dan berjalan beriingan. Kedua hal tersebut akan melahirkan demokrasi sosial yang berasal dari sebuah budaya, kebalikan dari demokrasi sosial ialah demokrasi prosedural yang kelak melahirkan kriminalisasi. Jadi ekonomi bukan hanya sekedar ekonomi namun akan lebih baik ketika ekonomi politik bergabung menjadi satu kesatuan karena akan mencapai sebuah kebenaran realitas. Fadli Zon sangat mengapreasi buku ini dan terlaksananya seminar buku nasional tersebut. (SLS/LR)
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar