Luput

Seperti malam ketika aku terbaring,
dingin dan menyesakkan
Memang tak pernah mudah untuk menunggu
Bagai padang gersang merindukan hujan

Tak hayalnya rumput,
embun pun hanya singgah 
dan pergi menguap darinya

Tapi entah mengapa aku masih di sini?
Menanti fajar yang tak kunjung menjempu?
Sedangkan mentari tlah berlalu bersama kenyataan
Harapan hanya sebuah ilusi membelalakkan mata

Karya :

Cahya Adijana Nugraha
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar