Degradasi Kaum Pendesak



Oleh: Z.Hilmi

Saya bukan pemikir kiri, bukan penganut marxis dan saya juga bukan petani. Tapi apa salahnya jika saya sengaja mengutip dan membenarkan kakek berjanggut ijuk ini. Dalam sebuah pengertian, pakde Marx mengibaratkan bahwa negara serupa permainan anak TK, jungkat-jungkit. Dimana permainan tersebut mengajarkan kita pentingnya sebuah keseimbangan. Permainan ini hanya dimainkan dua orang pemain, dalam hal lain kita dapat katakan negara sebagai pemain pertama yang mengeluarkan kebijakan dan sebagainya, sedang pemain kedua ialah kaum pendesak yang lahir dari perlawanan. Keduanya pun harus sama berat.

Permainan itu dapat dimainkan apabila secara bergiliran kedua pemain menghentakan kakinya ke tanah, jika pemerintah diatas maka kaum pendesak melawan agar permainan bisa tetap berlanjut. Namun kiranya dewasa ini, ada pengurangan beban yang tak sesuai pada salah satu sisi permainan jungkat-jungkit, terlebih bagi kaum pendesak. Entah mungkin diet sehat, OCD atau mengidap kelaparan. 

***

Kita yang pernah sekolah pernah belajar sejarah, sebuah drama romantisme perjuangan. Pahlawan seringkali dicumbui oleh peluru-peluru kaum imperialis, jerit-jerit merdu didengungkan sepanjang semenanjung Sabang hingga Selat Papua, "merdeka!" Apalagi jika bukan bicara soal perlawanan, sejarah Indonesia ialah sejarah perlawanan. Orang-orang tukang bangkang macam bung Karno dengan retorika magisnya, bung Tahrir dengan pikirannya yang tajam serta Mochtar Lubis pada tulisannya yang nyaring serta vokal seakan menusuk lambung kaum penindas adalah bukti nyata, bahwa memang Indonesia lahir (sekali lagi) dari perlawanan.

Bicara soal perlawanan, selalu lekat akan idelisme, semangat, militan dan sejenisnya. Semuanya kriteria yang lekat serupa laten pada tubuh mahasiswa. Bisa kita lihat dari pecahnya peristiwa “Malari”, reformasi 1998 dan masih banyak lagi. Semuanya adalah karya-karya mahasiswa, yang menunjukan kita sebuah citra dimana pemerintah dalam hal ini tidak belaku adil, berat sebelah serta penuh kepentingan. 

Mahasiswa adalah kaum pendesak yang saya maksud, juga yang akhir-akhir ini seakan diredam dengungnya oleh kaum apatis yang egois. Entah karena tumpul pikir, kurang bacaan, kurang peka karena lama men-jomblo atau apalah saya tak mengerti. Kaum pendesak yang lahir di tubuh mahasiswa seolah membelah diri dengan satu nama yang kalau boleh saya sebut sebagai kaum nyinyir.

Kaun nyinyir bisa diartikan kaum tukang sindir yang terlalu nyaman dengan bedak, caffe dan benda-benda sandirawara lainnya. Acapkali acuh dengan kebijakan politik, yang (jika dipikir) sangat berdampak pada dirinya secara langsung maupun tak langsung. Biasanya lahir dari kaum menengah sampai menengah atas. Sekalipun mereka melek dengan keadaan, itu bukan karena nurani, melainkan sekedar ingin dianggap aktifis gaul yang menolak kapitalis tapi pakai produk cina seperti Honda dan sejenisnya. 

Inilah sebuah bentuk degradasi terhadap kaum pendesak salah satunya mahasiswa. Lembaga-lembaga kampus dari BEM, DPM hingga UKM seakan jadi lembaga pelemah kaum pendesak. Mahasiswa tiba-tiba (dihegemoni) menjadi pribadi event-organizer yang terampil serta kreatif untuk menghabiskan duit non-rutin kampus untuk buat seminar dan workshop nasional. Mahasiswa hanya mengurusi dirinya sendiri, lebih cenderung pada hasil bukan pada proses.

Dengan masuknya organisasi pergerakan seakan membawa angin segar serta wadah mahasiswa-mahasiswa kritis. Namun tak sampai disitu, idelisme mahasiswa seolah dibeli oleh organisasi pergerakan untuk kepentingan golongan. “Satu-satunya barang mewah yang dimiliki mahasiswa adalah idealisme”, jika Gie masih hidup mungkin dia gigit jari melihat mahasiswa satu persatu ditunggangi. BEM dan DPM seolah hilang fungsi, UKM hanya mengurusi prestasi dan cari muka dihadapan kampus. Mahasiswa seolah tak acuh pada penindasan yang terjadi di tubuh universtitasnya.

Tugas mahasiswa ialah belajar, namun belajar punya arti luas serta punya implemetasi jelas yang tak hanya berbentuk fisik berupa IPK. Mahasiswa yang intelektual sejati ialah yang peka terhadap lingkungannya, segala ide dan gagasan murni hanya untuk masyarakat. bukan sekedar mencari kesalahan, melainkan membenarkan apa yang telah selama ini disalah artikan dengan segala gagasan kontruktif. Perlawanan bentuknya tak hanya dengan demo atau aksi. mediasi, literasi juga bentuk dari sebuah perlawanan bagi kaum mahasiswa.


Panjang umur perlawanan!
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar