Negeri Cepol

sumber ilustrasi: http://cdn-media.viva.id/thumbs2/2008/11/11/58462_ilustrasi_indonesia_663_382.jpg
Kini semua orang telah di ujung kantuknya
Menatap lelah masa depan
Tanpa mempertimbangkan apapun
Karena simpul kebenaran telah sulit untuk dirajut

Para pemuda sudah menjadi mendiang semua
Mati dalam pertempuran di siang bolong
Nisannya berlumut dan celomok
Alamat tak ada orang yang peduli

Orang tua kini yang tertinggal
Tulangnya terlalu rapuh untuk sekedar melangkah
Suaranya pun serak dan terisak-isak
Rana ditinggalkan untuk mempersiapkan kematian

Negeriku kini cepol.......

Pemimpinku pun ikut cepol
Kebijaksanaannya dijangati jaman
Wicaranya bias dengan sadik
Lebih pandir dari seekor gudhel

Ohhh...

Aku pun pergi ke bandar
Berharap ada bahtera yang bisa maheratkan diri
Mengarungi lembah-lembah bahari
Melihat bentala yang lebih indah dan subur


Tambatan kapal telah dilepas dua jari yang lalu
Dataran biru berayun-ayun dalam pandanganku
Kemana aku melihat adalah harapan baru di depan sana
Kemana aku mendengar adalah jeritan ibuku dirumah

Aku terkaget dan sendiri yang mengelilingiku
Ku cari nakhoda di kabin dan tak ada
“ya” aku ingat dan dengar ibu berteriak memanggilku
Bilang dan meratapi kepergianku

Berharap hari ini aku sedang merayan
Dan bangun pagi untuk menikmati sarapan
Tapi ini bukan......
Aku harus memutar layar bahtera untuk pulang
Aku masih muda dan belum mendiang

Aku adalah harapan ibu dan pertiwi
Kenapa harus bertekuk lutut kepada kurun
Kepulanganku ini untuk mereparasi negeriku yang cepol

Dan menghukum pemimpinku yang juga cepol....... 
(Deni)
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar