Perayaan Tahun Baru Masehi yang “Islami”



Perayaan tahun baru merupakan momen yang selalu ditunggu-tunggu oleh lapisan masyarakat manapun, bahkan menjadi budaya global yang sekarang sudah diakui di Indonesia. Namun, tahun baru bukan berasal dari timur tengah yang merupakan kiblat kita dalam berbudaya, melainkan dari negara barat seperti Amerika dan Eropa.

Dari sejarahnya, tahun baru pertama kali dirayakan di Yunani pada tanggal 1 Januari 45 SM, tidak lama setelah Julius Caesar dinobatkan sebagai Kaisar Roma, setelah ia memutuskan mengganti penanggalan tradisional Romawi yang telah diciptakan sejak abad ke-7 sebelum Masehi. Sosigenes, seorang ahli astronomi yang menyarankan penanggalan baru itu mengikuti revolusi matahari.

Di Indonesia sendiri dengan mayoritas penduduknya yang menganut agama islam, namun bukan Negara Islam telah mengikuti sistem penanggalan Gregorian tersebut, maka sah-sah saja jika turut merayakan pergantian tahunnya. Namun sungguh disayangkan, justru perayaan tahun baru Islam seakan-akan telah dilupakan eksistensinya bagi umat muslim sendiri, Bisa dilihat dari sepinya masjid-masjid, dan kurangnya partisipasi masyarakat muslim untuk turut sekedar memeriahkan pergantian tahun baru 1 Muharram ini. Sangat berbeda jika kita melihat perayaan tahun baru yang sangat dilebih-lebihkan, khususnya bagi anak-anak muda yang lebih condong mengikuti nafsunya, berbondong-bondong pemuda islam mengadakan pesta kembang api, dan berkumpul bersama teman-teman semalam suntuk yang lebih banyak mengundang mudarat ketimbang manfaat.

Perayaan Tahun Baru adalah Bid'ah

Ada yang berpendapat bahwa perayaan malam tahun baru tergantung niatnya, namun paling tidak seorang muslim yang merayakan datangnya malam tahun baru itu sudah menyerupai ibadah orang kafir. Dan sekedar menyerupai itu pun sudah haram hukumnya, sebagaimana sabda Rasulullah SAW: “Siapa yang menyerupai pekerjaan suatu kaum (agama tertentu), maka dia termasuk bagian dari mereka.”

Sulit dipungkiri bahwa kebanyakan orang-orang merayakan malam tahun baru dengan minum khamar, berzina, tertawa dan hura-hura. Bahkan begadang semalam suntuk menghabiskan waktu dengan sia-sia. Padahal Allah SWT telah menjadikan malam untuk berisitrahat, bukan untuk melek sepanjang malam, kecuali bila ada anjuran untuk shalat malam.

Beberapa Ulama Indonesia yang mengharamkan perayaan malam tahun baru buat umat Islam adalah upaya untuk mencegah dan melindungi umat Islam dari pengaruh buruk yang lazim dikerjakan para ahli maksiat. Karena syariat Islam yang dibawa oleh Rasulullah SAW adalah syariat yang lengkap dan sudah tuntas. Tidak ada lagi yang tertinggal. Sedangkan fenomena sebagian umat Islam yang mengadakan perayaan malam tahun baru Masehi di masjid-masijd dengan melakukan shalat malam berjamaah, tanpa alasan lain kecuali karena datangnya malam tahun baru Masehi, adalah sebuah perbuatan bidah yang tidak pernah dikerjakan oleh Rasulullah SAW, para sahabat dan salafus shalih. Maka hukumnya bidah bila khusus untuk moment malam tahun baru digelar ibadah ritual tertentu, seperti qiyamullail, doa bersama, istighatsah, renungan malam, tafakkur alam, atau ibadah mahdhah lainnya, karena tidak ada landasan syar’inya.

Berangkat dari argumentasi bahwa perayaan malam tahun baru Masehi tidak selalu terkait dengan ritual agama tertentu. Semua tergantung niatnya, Kalau diniatkan untuk beribadah atau ikut-ikutan orang kafir, maka hukumnya haram. Tetapi tidak diniatkan mengikuti ritual orang kafir, maka tidak ada larangannya.

Mari kita mengambil perbandingan dengan liburnya umat Islam di hari Natal. Kenyataannya setiap ada tanggal merah di kalender karena Natal, tahun baru, Kenaikan Isa al-Masih, Paskah dan sejenisnya, umat Islam pun ikut-ikutan libur kerja dan sekolah. Bahkan Bank-bank syariah, Sekolah Islam, Pesantren, Departemen Agama RI dan institusi-institusi keislaman lainnya juga ikut libur. Apakah liburnya umat Islam karena hari-hari besar kristen itu termasuk ikut merayakan hari besar mereka?

Umumnya kita akan menjawab bahwa hal itu tergantung niatnya. Kalau kita niatkan untuk merayakan, maka hukumnya haram. Tapi kalau tidak diniatkan merayakan, maka hukumnya boleh-boleh saja.

Memang sulit jika harus menghilangkan budaya tahun baru yang sudah menjadi salah satu bagian dari budaya Indonesia. Jika kita melihat dari kacamata yang keras, merayakan tahun baru Masehi memang tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah, Hadist, bahkan Al-Qur’an. Namun seperti halnya tahlilan, yang merupakan budaya di masyarakat kita, dalam hal itu tentu Islam adalah agama yang toleran yang mendahulukan sosial dibanding keyakinan. Namun Islam juga punya batasan-batasannya seperti untuk tidak menyerupai orang-orang kafir. Sebagai Islam yang baik harusnya kita tidak boleh taklid begitu saja tanpa tahu dasar-dasarnya, dan ada baiknya memilah lalu memilih yang benar dan yang salah menurut pandangan kita. Wallahu a’lamu bishowab. (Hilmi)
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar