Pemutaran Film oleh PPMI di UMY Sempat Dicurigai



Bertempat di ruang multimedia prodi Ilmu Komunikasi, Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia DIY (PPMI) bekerja sama dengan Lembaga Pers dan Penerbitan Mahasiswa Nuansa UMY mengadakan diskusi dan bedah film “Sebelum Pagi Terulang Kembali”, Selasa (30/12).

Film yang diproduseri dan disutradarai oleh Abduh Aziz dan Lasya F. Susatjo ini menceritakan tentang Yan (Alex Komang) seorang pejabat pemerintah yang lurus, telah menikah dengan Ratna (Nungki Kusumastuti), seorang dosen filsafat. Kehidupan mereka diwarnai dengan kondisi ketiga anak mereka yang berbeda-beda:

Firman (Teuku Rifnu Wikana), anak tertua, baru saja cerai dan masih menganggur. Satria (Fauzi Baadilla), anak kedua, adalah kontraktor dengan ambisi besar untuk bisnisnya. Dian (Adinia Wirasti), anak terakhir, baru saja bertunangan dengan Hasan (Ibnu Jamil), anggota DPR yang haus kekuasaan.

Kehidupan mereka mulai terguncang saat Satria dibujuk Hasan untuk meminta "jatah" proyek pembangunan pelabuhan dari ayahnya. Proyek tersebut berhasil dimenangkan Satria, yang harus dibayar dengan jatuhnya reputasi Yan sebagai pejabat yang lurus, dan ambruknya ibu Yan, nenek Soen (Maria Oentoe) di rumah sakit. Dan akhirnya keluarga ini harus tertatih-tatih membangun kembali keutuhan dan kedekatan mereka di saat uang dan kekuasaan mulai menggerogoti kehidupan mereka. 

Diskusi film dihadiri oleh Greg Arya (The Colorist Film), Bambang Muryanto (AJI Jogja) dan Benny sebagai koordinator Jaringan Anti-Korupsi Yogyakarta. Benny menjelaskan bahwa keluarga adalah mata rantai terjadinya korupsi di Indonesia, oleh karena itu orang tua harus menanamkan dasar nilai-nilai kejujuran sejak dini. “Seperti yang terjadi pada Soeharto yang menyeret seluruh keluarga Cendana, korupsi berawal dari keluarga,” tambahnya.

Sedang Bambang sebagai awak pers menyayangkan kerja media sekarang yang lebih memihak kepada pemilik modal. “Media sulit untuk mengendus adanya indikasi korupsi di pemerintah karena korupsi terjadi secara sistematis dan terstruktur, yang mana struktur tersebut akan membentuk kultur di masyarakat kita,” jelasnya.

Sebelum diadakannya diskusi film, Pimpinan Umum Nuansa Adam sempat dihubungi oleh polsek setempat karena dicurigai akan diputarnya film “Senyap” besutan Joshua Oppenheimer yang akhir-akir ini sedang panas dan dilarang pemutarannya di beberapa tempat. 

Setelah disinyalir, polisi mendapat informasi dari masyarakat akan broadcast yang disalahgunakan oleh salah satu oknum dengan menganti judul film “Sebelum Pagi Terulang Kembali” dengan film “Senyap”. Dua keamanan kampus sempat berjaga saat berlangsungnya pemuaran film, juga presiden mahasiswa yang sempat dihubungi oleh WR III oleh isu yang terjadi di hari yang sama. “Saya hanya takut adanya provokasi dari pergerakan-pergerakan,” tukas Zainuddin Arsyad di sela-sela pemutaran film. (HIL)
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar