Okupasi Toko Kelontong Waralaba



“Nongkrong”, adalah sebuah istilah yang sangat lekat dengan konteks kehidupan anak muda. Berkumpul dengan teman, kelompok komunitas, ataupun hanya sekedar menghabiskan waktu luang sendirian terangkum dalam istilah nongkrong ini. Seakan sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari aktivitas keseharian anak muda, nongkrong menjadi ajang mengekspresikan diri dalam komunitas sosial, dan menjadi fenomena sosial tersendiri di lingkungan masyarakat.

Seolah tak ingin melewatkan celah, fenomena sosial ini bertransformasi menjadi lahan komoditas. Berbagai pihak menawarkan “ruang” bagi komunitas muda. Penawaran – penawaran ini umumnya datang dari perusahaan retail, yang menyajikan aneka makanan dan minuman dengan harga murah, lengkap dengan tempat dan fasilitas internet gratis. Sebuah penawaran yang tentunya sulit ditolak oleh komunitas muda saat ini.

Dengan sasaran tersebut, jaringan perusahaan retail mampu berkembang dengan pesat. Bagai jamur di musim hujan, hampir disetiap ruas jalan kita bisa menemukan toko kelontong waralaba dengan mudah. Hingga saat ini, setidaknya ada dua jaringan besar toko retail nasional dan dua jaringan toko retail internasional yang tersebar di setiap pelosok kota di Indonesia. Lebih jauh lagi, aktivitas nongkrong di tempat – tempat semacam ini kemudian menjadi gaya hidup dikalangan anak muda, bahkan pada satu titik tertentu aktivitas ini menjadi tolak ukur strata sosial.

Seolah benar – benar mengerti dengan sifat anak muda, jaringan toko waralaba ini berlomba – lomba menawarkan penawaran terbaiknya untuk meraih konsumen sebanyak mungkin. Hingga anak – anak muda saat ini tidak sadar bahwa mereka telah menjadi obyek dari eksploitasi ala kapitalis. 

Sudah menjadi tujuan bagi jaringan perusahaan semacam ini untuk memperoleh keuntungan semaksimal mungkin. Keuntungan maksimal tersebut hanya bisa diperoleh dengan menguasai segmen pasar yang ada. Dengan kata lain, peningkatan permintaan akan barang adalah variabel yang tidak bisa digantikan, dan cara yang dilakukan oleh jaringan ini adalah dengan metode doktrinasi konsumen. Jaringan toko waralaba ini akan berusaha untuk meningkatkan tingkat konsumerisme masyarakat dengan berbagai penawarannya. Tak hanya berhenti sampai di sana, jaringan ini juga sebisa mungkin mempersempit ruang gerak pesaingnya dengan menyebar outlet – outletnya di berbagai tempat.

Pada akhirnya, konsumen dalam hal ini anak muda semakin kehilangan pilihan. Ruang publik yang selama ini ramai dengan aktivitas komunitas kini telah tergantikan oleh jaringan toko kelontong waralaba. Anak – anak muda dipaksa untuk berperilaku konsumtif dengan kaharusan membayar segala bentuk fasilitas yang mereka inginkan. Mereka harus membeli sejumlah makanan atau minuman untuk menikmati fasilitas internet gratis ataupun hanya untuk sekedar duduk. Padahal fasilitas yang seharusnya menjadi fasilitas publik tersebut bisa didapat dengan gratis karena sudah menjadi hak dari masyarakat. Namun, sudah menjadi konsekuensi dari rezim kapitalis dimana modal mampu membeli apapun, termasuk hak publik.

Ajang ekspresi diri dan berbagi ide seolah telah berubah menjadi perilaku konsumtif dan individualis. Mereka yang tak ingin terjebak dengan jeratan jaringan retail terpaksa harus berdesakan di ruang publik yang masih tersisa. Angin segar yang datang melalui event – event lokal yang digagas pun masih sering kembang kempis tanpa dukungan penuh dari pemerintah daerah. Sudah saatnyalah bagi masyarakat saat ini untuk mulai menata kembali kesadaran sosialnya. Stigma ekslusif dan “keren” saat membeli air mineral atau sebungkus rokok di toko kelontong waralaba merupakan hasil dari kontruksi rezim kapitalistik. Kontruksi yang mematikan kesempatan anak muda untuk berekspresi. Konstruksi yang mematikan kesempatan unit usaha kecil mandiri untuk berkembang. Konstruksi yang mempersempit peluang anak muda untuk memilih. (Nanang)
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar