Demokrasi Rusia dan Indonesia: Keunggulan Partisipasi Politik Indonesia



Kamis (08/01) America Institute for Indonesia Studies (AIFIS) bekerja sama dengan Jurusan Ilmu Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) menyelenggarakan Kuliah Umum bersama Danielle N. Lussier yang mengangkat tema "Perbandingan Demokrasi Rusia dan Indonesia". Tema ini berasal dari hasil disertasi Danielle N Lussier untuk gelar Doktornya dengan judul "Activating Democracy: Political Participation and the Fate of Regime Change in Russia and Indonesia."

Kuliah umum yang bertempat di gedung Ar Fachruddin A lt 5 ini selain menghadirkan Danielle N Lussier, juga menghadirkan Drs. Bambang Sunaryono, M. Si , Dra. Nur Azizah, M. Si, dan Adde Ma'ruf Wirasenjaya, S. IP, MA selaku dosen Ilmu Hubungan Internasional sebagai diskusan dalam kuliah umum.

“Sangat menarik sekali karena bicara tentang demokrasi di Rusia dan Indonesia. Mereka mempunyai perbedaan dan juga persamaan. Persamaannya sama-sama melepas rezim otoriter pada tahun 1990-an. Rusia mengalami banyak masalah dalam transformasinya. Begitupun Indonesia juga mengalami hal yang sama. Berharap kuliah umum ini membawa perspektif baru kepada mahasiswa terhadap demokrasi di Rusia dan Indonesia,” kata Dr. Ali Muhammad, M.A., selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UMY.

Dalam presentasinya, Danielle mengatakan dua negara besar yakni Rusia dan Indonesia mengalami pergantian rezim otoriter menjadi rezim demokrasi. Rusia pada tahun 1991 sedangkan Indonesia pada tahun 1998. Namun, setelah hampir satu dekate berjalan, yang bertahan hingga saat ini hanyalah Indonesia. Padahal menurut teori demokratisasi, rezim demokrasi di Rusia seharusnya mampu bertahan karena tingkat sosial ekonomi yang baik serta sejarah panjang kenegaraannya. Sedangkan Indonesia, dengan tingkat sosial ekonomi yang cukup rendah dan sejarah kenegaraan pasca kolonial yang singkat, diprediksikan tidak mampu mempertahankan demokrasinya.

“Indonesia berhasil menghadapi transisi demokrasi karena partisipasi politik di Indonesia lebih baik. Rusia menghadapi masalah kurangnya partisipasi politik oleh rakyatnya. Partai politik di Indonesia juga berkembang lebih baik daripada di Rusia. Hal inilah yang membuat demokrasi di Indonesia lebih berhasil daripada di Rusia,” papar Danielle. Di kesempatan yang sama, Adde Marup selaku diskusan mengatakan bahwa demokrasi di Indonesia mengalami demokrasi yang ramai bukan lagi demokrasi yang stabil. “Menurut saya, demokrasi di Indonesia menjadi lebih rumit daripada di Rusia karena lalu lintas demokrasi di Indonesia berjalan terlalu ramai,” ujar Adde. (SAW/LR)
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar