Nol



Oleh Z.Hilmi

Aku mencintaimu sebagamaina ketiadaan. Tapi dari ketiadaan itu, aku jadi satu-satunya manusia paling berada di dunia fana ini. Kau boleh bukan siapa-siapa, gadis yang selalu ambil urutan terakhir dalam absen kelas. Bukan gadis populer yang biasa mondar-mandir kantor dekanat untuk sekedar mendiskusikan hal-hal tak penting perihal nilaimu yang tak kunjung diperbaiki. Atau yang biasa jalan di selasar kampus bersama kawan-kawan sepermainan sebagaimana nyonya populer lainnya.

Aku suka rambutmu yang ikal diikat juntai ke belakang, meskipun behel itu agak sedikit mengganggu ditambah kacamata bundar dengan bingkai tebal. Aku kadang  terkekeh jika melihatmu masuk kelas karena telat lalu mengangguk pada dosen tanda maaf, kau mengingatkanku pada artis pemeran utama di serial film Ugly Betty. Persis sekali.

Aku mengenalmu hampir tiga tahun, itu berarti hampir sepanjang enam semester. Tapi selama itu pula aku tak pernah mendengar suaramu, selain kata “hadir” yang kau gaung seisi kelas dengan sangat pelan ketika dosen menyebut namamu, Luna.

Dulu di awal semester kukira kau semacam mengidap penyakit keturuan, semacam bisu kondisional. Ketika kusapa di beranda kontrakanku saat ingin berangkat kuliah, “Hai Luna” kau diam dengan membungkuk memeluk buku setebal sekuel Harry Potter, berjalan menggapai sepedamu lalu menghilang di ujung gang yang biasa kulalui juga.

Kontrakanku memang tak jauh dari rumahmu, dan kebetulan pemilik kontrakanku adalah ayahmu. Bisnis yang menjanjikan, lagipula belakangan aku tahu kontrakanku punya harga sewa yang bisa buat kantongku jebol hingga lutut. Tak apa, toh di akhir semester tiga akhirnya aku pindah juga.

Agak kecewa, menjauh dari gadis yang bahkan warna matanya saja tak pernah kutahu. Dua semester jadi tetanggamu kurasa tak pernah cukup untuk mendalami kisahmu, Luna. Mungkin aku perlu hidup dua atau tiga masa lagi hingga benar-benar mengenalmu. Tapi aku suka, kau tak pernah sama dengan gadis seusiamu. Bayangkan saja, gadis umur 19 tahun mana yang bacaanya adalah literatur-literatur Perancis karya Albert Camus dan Sartre. Aku paham, meskipun di semester awal fakultas kita sudah mulai mengkaji ilmu filsafat, tapi nampaknya hanya kau yang benar-benar menyukainya. Sesekali aku ingin mengajakmu nongkrong di warung kopi membicarakan isi otakmu yang ternyata lebih asik dari bianglala pasar malam.

***

Kukira kau akan banyak berubah, tenyata sama. Setelah kutinggal di semester tiga, tak ada yang berubah darimu, hanya saja baru-baru ini aku tahu behel yang mengganggu itu sudah tak memagari gigimu yang berunduk itu.

Aku? Tentu saja aku banyak berubah, teman-teman selalu mengenalku sebagai laki-laki yang dinamis, bahasa sederhananya aku adalah pribadi yang gampang bosenan. Aku sengaja memanjangkan rambut hingga bahu dan membeli kemeja-kemaja flanel. soal celana aku sengaja tak pernah menggantinya, aku suka dengan sobekan indah itu, yang tak sengaja tercipta saat tiba-tiba aku jatuh di jalan aspal karena menabrak BMW hitam, di lampu merah perempatan. Tentu saja aku harus bayar mahal untuk itu, karena itu aku suka hal-hal berbau kenangan. Apalagi kenangan saat aku sengaja melayangkan tinjuku ke permukaan wajah pemilik perusahaan terkenal.

Tak diduga, semester demi semester berlalu begitu cepat. Tugas-tugas makin membosankan untuk digarap. dosen-dosen makin aku kenali wataknya, mulai dari yang suka dijilat hingga yang tak tahan kritik. Aku tak mempermasalahkan dosen yang murahan seperti yang pertama, dosen semacam itu akan mempermudahku selama kuliah. Kau hanya tinggal memuji penampilannya setiap hari dan menyajikannya koran setiap awal kelas, dan boom! Nilaimu tiba-tiba disihir jadi A.

Beda lagi dengan dosen yang tak tahan kritik, aku lebih suka tipe dosen seperti ini. Dosen yang akan membuatmu lebih cerdas setiap harinya. Jika dikritik ia akan membalas kritikmu serasional mungkin, tentu saja kau harus punya dassar yang kuat, bung. Jangan asal ceplos untuk dibilang hebat. Jika begitu kau tak ada bedanya dengan analogi Plato sebagai orang bodoh; Orang bijak hanya berkata karena ada sesuatu yang harus ia bicarakan, sedang orang bodoh berkata karena harus membicarakan sesuatu. Tau bedanya?  Kau harus pintar-pintar bercermin untuk mengetahui yang mana tipemu, bung!

Tapi aku paling benci jika harus diusir keluar kelas jika tak seideologi lagi dengan dosen macam diatas. Hanya karena tak ingin kelihatan bodoh di depan mahasiswanya, ia sengaja mengeluarkan mahasiswa-mahasiswa yang tukang kritik. Bukankah itu tujuan pendidikan? Untuk berpikir. Jika kau tak bertanya, berarti kau tak berpikir, simple saja. Lagipula selama ini agamaku tak pernah berdalil bahwa bertanya adalah dosa besar. Sekalipun aku mempertanyakan keesaan Tuhan. 

Aku tak paham, di fakultasku aku dicalonkan sebagai calon presiden mahasiswa. Bersaing bersama dua calon lainnya. Dasar kurang ajar si Acol, ia sengaja membuatkan partai untukku, aku suka dengan koalisi yang ada di dalamnya, teman-teman nongkrong yang biasa diajak minum-minum dan merokok membincangkan gadis-gadis kampus yang dapat “dipesan”. Hanya saja yang aku tak suka lambang partai yang menyerupai lambang underground society, dengan bintang terbalik dengan mata satu melotot di tengahnya. Memang kurang ajar si Acol. Dia kira pemilwa kali ini untuk main-main.

Beda dengan dengan dua calon sainganku. Keduanya punya pendukung seperti front pembela agama. Yang cinta damai tentunya. Apalagi belakangan aku tahu, si calon nomor dua punya hubungan darah dengan rektorku.

Masa-masa kampanye yang melelahkan, aku dipaksa membuat visi dan misi untuk 30.000 mahasiswa kampusku. Tentu saja visi yang membangun. mengingat kampusku yang begitu islami, Aku ingin membuat kebijakan untuk diadakannya absen untuk sholat dzuhur hingga maghrib di kampus. Jika absen sholat tidak memenuhi standar 100%, maka akan berpengaruh fatal pada nilai mata kuliah. Ini urusan tuhan, bung. Tentu saja aku tak main-main memasang standar setinggi mungkin. Kita harus komitmen jika ingin beragama, tak ada yang namanya 50% atau 80%. Tentu saja jadi semacam paradoks di partaiku yang jadi sarang penyamun. Terpaksa aku urungkan niat ekstrem itu.

Jangan tanya aku dapat berapa suara, semuanya dapat ditebak. Calon nomor dua dapat suara terbanyak. Ah sudahlah, dari awal aku memang benci politik praktis macam ini. Aku tak mau berspekulasi macam-macam, toh jadi pemimpin itu tanggung jawabnya tak sekecil yang kau kira. Belum lagi tanggung jawab yang akan kau tempuh di akhirat nanti. Untuk orang yang beragama macam aku, tentu saja aku takut jika ditanya, “Benarkah suaramu waktu pemilwa adalah suara murni?” Tuhan juga pernah muda nampaknya.

***

Luna, dari awal kita memang sudah berbeda. Bagai angka nol dan angka satu. Kau yang bukan siapa-siapa selama ini, begitu berbeda dengan sifatku yang egois dan selalu ingin jadi nomor satu di depan siapapun. Duniaku adalah teman-teman yang usil sedang duniamu adalah buku-buku karangan klasik, tak jarang kutemui kau duduk di pojok toko buku saat kutemani pacar baruku mencari novel-novel remaja yang kadang tak pernah ia selesaikan. Kau memang lucu, Luna.

Saat itu tak sengaja aku memutuskan pacarku yang baru kupacari dua minggu, aku mampir ke toko buku tempatmu biasa mendunia. Dan benar saja, kudapati kau begitu hikmat memandangi rak-rak buku yang tak pernah dijamah oleh pembeli manapun.
“Kudengar ada buku keren, yang baru terbit seminggu lalu,” tegurku tanpa basa-basi di sebelahmu.

Kau tersentak kaget, dengan wajah malu-malu menunduk ke arah rak paling bawah. aku tahu bukan disana letak buku yang kau cari. Lantas aku mengeluarkan isi plastik, dan meletakkan sebuah buku tipis tepat di depan wajahmu. Buku itu bertuliskan “The Stranger” karangan Albert Camus. Novel roman berbau filsafat.

Aku tersenyum, kala kau melepas kacamatamu yang rabun jauh itu mengerjap-ngerjap mengeja satu-satu huruf di sampul buku. Artinya orang asing, sepertinya buku itu akan mewakilimu selama ini. kau selalu menjadi orang asing dimata siapapun, bahkan kau selalu melabeli dirimu serupa.

Gak apa-apa, gue udah bayar tadi di kasir. Ini buat elo, Lun,” aku sengaja memenggal namamu agar terlihat akrab.

“Kamu tahu namaku?” ah, akhirnya kau bicara juga. Meskipun agak cempreng di telinga.
“Ya ialah, kita dulu pernah tetangga’an, kan?”

Kau hanya tersenyum, “Makasih.” ucapmu singkat.

Telepon genggammu berdering, kau lalu membuat ruang privasimu sendiri menjauh dariku. Dua menit kemudian.

“Siapa, Lun?”

Kau menjelaskan bahwa kau sudah dijemput di bawah, entah oleh siapa.

Aku melihat lewat kaca jendela toko buku, seorang pemuda dengan motor Vespa hitam dan helm gelap menunggu di depan toko buku.

Aku tersentak kala pria itu menaikan kaca helm gelapnya.

“Anjing! Itu si Acol!”


Bersambung…
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar