Mahasiswa Harus Siap Hadapi ASEAN Community 2015


ASEAN Community 2015 bukanlah hal yang harus ditakuti. ASEAN Community 2015 justru adalah momentum kita untuk meningkatkan peran pemuda dalam berkontribusi untuk memerbaiki bangsa ini. “Kami ingin berbagi inspirasi kepada teman-teman mahasiswa, terkhusus untuk mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) dimana kami sebagai peserta Mahathir Global Peace School (MGPS) memiliki tanggung jawab sosial untuk memersiapkan dan memberikan optimisme kepada mahasiswa terkait persiapan, peluang, serta hambatan apa saja untuk menghadapi ASEAN Community 2015,” papar Achmad Zulfikar selaku peserta dan sekaligus inisiator diskusi bersama peserta MGPS dengan tema “ASEAN : Today, Tomorrow, and Future” di Unires Putra UMY pada Selasa (2/12).

Salah satu peserta diskusi yang berasal dari Kamboja mengatakan ia sangat khawatir mengenai tingkat pendidikan di negaranya yang terbilang masih rendah dibandingkan dengan negara ASEAN lainnya. “Dengan tingkat pendidikan yang masih rendah di negara saya, saya khawatir kami tidak bisa bersaing. Tapi kami yakin kami pasti bisa bersaing dalam ASEAN Community 2015,” kata Ouk Channita, salah satu peserta diskusi dan peserta MGPS.
           
Achmad menambahkan, Indonesia harus siap dan memenangkan persaingan ini. Indonesia harus optimis dan harus mampu bersaing dengan negara ASEAN lainnya. Kita harus menyontoh Kamboja yang sudah sadar betapa pentingnya ASEAN Community 2015 ini. Melihat Indonesia yang mempunyai banyak sumber daya alam, kelemahan Indonesia adalah lemahnya sumber daya manusia, karakter nasional, dan dari segi infrastruktur yang kurang memadai.
            
Ada tiga pilar dalam ASEAN Community 2015 yang harus diwujudkan sebelum masuk dalam ‘kompetisi’ ini meliputi Ekonomi, Politik & Keamanan, dan Sosial-Budaya. Salah satu masalah jika ASEAN Community 2015 terwujud adalah apakah mata uang akan disatukan seperti halnya Eropa yang menjadikan Euro sebagai mata uang bersama. “Hal selanjutnya yang harus dipikirkan ketika ASEAN disatukan menjadi seperti Eropa apakah mata uangnya juga disatukan dan mata uang apa yang pantas untuk itu? Kalau memakai mata uang Rupiah, maka Singapura yang akan keberatan. Begitu pula jika memakai mata uang Singapura, maka Indonesia yang akan kewalahan,” kata Steven Yohanes, peserta MGPS yang berasal dari Jakarta diakhir diskusi. (SAW/SLS)
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar