Anak Sapi dan Burung Walet

Kebebasan milik siapapun, termasuk milik merpati dalam sangkar dan anak-anak sapi yang menunggu ajal di tempat penyembelihan dengan mata sendu. Sekiranya mereka lebih mengerti makna bebas dibanding manusia manapun. 

Terik seolah-olah ingin mengeringkan pasar yang basah karena hujan deras siang itu. Sisa-sisa bau tanah yang sembab merasuk di sela-sela pasar Seorang pengembala menggiring anak-anak sapinya ke sebuah tempat penyembelihan. Tukang jagal dengan sebilah pisau daging yang sedikit berkarat  dan berlumur darah, sedang mengelap-elapkan tanganya ke kaos putih kemerahan yang ia kenakan. Kepala-kepala sapi muda yang terpisah dari badannya berbaris diantara rimbunan lalat dengan mata yang masih terbuka lebar. Sisa rasa sakit yang tak sempat disembunyikan disaat parang tukang jagal menyentuh tulang leher sapi-sapi itu.

Di pasar itu seekor anak sapi sedang memperhatikan seekor walet yang bertengger di pagar kawat yang memisahkan anak-anak sapi itu dengan tempat penyembelihan. Walet itu terbang membentuk kawanan, terbang kesana-kemari, serupa layang-layang yang sedang dimainkan. Walet-walet itu sesekali tertawa, mentertawakan anak-anak sapi yang siap mati di tempat jagal. Mereka tertawa sebebas-bebasnya, langit pasar menjadi bising. Namun seekor anak sapi masih bertanya-tanya tentang takdir dan semacamnya.

“Siapa yang menyuruhmu menjadi anak sapi?” pengembala bertanya.
“Mengapa kau tidak seperti walet-walet yang bebas itu?”

Anak sapi itu hanya terdiam dengan mata sendu, tak mampu menjawab ataupun sekedar berontak. Memang demikian, mereka makhluk yang tidak pernah ditakdirkan mempunyai sayap untuk menciptakan kebebebasannya sendiri, mereka ditakdirkan mati tanpa sebab melawan.
Anak sapi teringat dengan kedua orang tuanya, yang telah dulu bernasib sial di tempat jagal. Anak sapi melihat kepala kedua orang tuanya terpisah dari leher. Badannya dibagi menjadi beberapa bagian, dikuliti lalu digantung di kail besi. Menunggu dikonsumsi, lalu dikeluarkan lagi dalam bentuk kotoran. 
Kami diciptakan tidak seperti manusia-manusia yang diberikan kelebihan akal oleh Tuhan, kami hanya tahu bagaimana caranya makan dan beranak, makan dan beranak, begitu terus hingga akhir zaman. Tapi yang membuatnya menjadi aneh adalah, kami tak pernah dibuat bosan oleh hidup menjenuhkan seperti itu.

***

Suatu saat anak sapi teringat atas kejadian di kandangnya pada suatu malam. Dipandangnya sekeliling kandang yang kotor, sapi-sapi yang lain tertidur dengan pulas,  sedang anak sapi masih terjaga. Entah mengapa ia belum bisa tidur, mungkin ia sadar ini adalah malam terakhir sebelum ia mati di tangan tukang jagal.

Ia berjalan ke tepian kandang, melihat padang ilalang yang berujung pada batas pandangnya. Padang ilalang dijemur dibawah cahaya bulan, begitu luas. Anak sapi bertanya-tanya, apa yang ada di balik padang ilalang itu. Bagi anak sapi, dunianya hanya sebatas kandang, tempat makan, dan rumput yang dibatasi pagar-pagar tinggi. 

Malam itu dengan tidak disengaja anak sapi mendapati seekor walet hinggap di kandangnya, meminum genangan air yang berada di tempat makan yang masih bersisa jerami. Anak sapi mendekati walet yang sedang kehausan, dan bertanya. 

“Mengapa kau begitu kehausan?”
”Aku haus karena lelah terbang,” jawab si walet.
”Aku ingin tahu, apa yang ada di luar sana?”
”Di sana kau bisa melihat segalanya, kau bisa melihat gedung-gedung besar tumbuh subur layaknya rumput, makhuk-makhuk disana begitu bebas.Mereka melakukan segalanya dengan mudah, mereka bepergian dengan sesuatu yang mengeluarkan asap hitam. Mereka manusia yang memiliki akal dan dapat bermimpi” 
Anak sapi terdiam, ia semakin heran dan penasaran. 
“Apa itu mimpi?" Tanya anak sapi.
“Mimpi adalah bunga tidur, namun bagi manusia mimpi adalah tujuan atau harapan yang harus ia capai kemudian hari.” 
Si walet lalu kembali terbang ke angkasa, semakin kecil, kecil hingga sekecil titik, lalu sirna di balik cakrawala yang dibatasi padang ilalang yang luas.

***

Di padang yang luas itu, rumput hijau yang basah dan menyegarkan tumbuh dimana-mana, tumbuh subur sejauh mata memandang, anak sapi melihat kedua orang tuanya sedang merumput di pohon besar yang sangat rindang. Anak sapi menghampirinya, namun tak kunjung sampai, padahal sudah hampir sejam anak sapi berjalan. Anak sapi kelelahan dan berhenti sejenak, ia melihat kedua orang tuanya begitu senang, begitu bebas. Tiba-tiba padang rumut yang hijau itu bergetar, getarannya semakin hebat, anak sapi khawatir dengan kedua orang tuanya lalu mencarinya, namun tiba-tiba kedua orang tua anak sapi itu lenyap bersama pohon besar itu entah kemana. Padang rumput itu tiba-tiba retak dan menciptakan jurang tak berujung dimana-mana, lalu anak sapi terjatuh ke dalamnya.
Anak sapi terbangun dari tidurnya setelah mendengar ribut yang dihasilkan suara mesin truk yang berhenti tepat di depan kandang, anak sapi tersadar ia telah bermimpi. Mungkin menjadi mimpi terakhirnya pagi itu. 

Sang pengembala menggiring anak sapi satu persatu ke dalam truk yang sudah berisi jerami, mereka akan diantar ke pasar untuk dipenggal, anak-anak sapi yang lain sedang makan seolah tidak terjadi apa-apa,  satu anak sapi kelihatan begitu khawatir tatapannya kosong melihat langit biru yang luas.
Sesampainya di pasar, anak-anak sapi itu diturunkan. Pasar yang becek dan berbau anyir dihasilkan darah-darah yang sudah lama membusuk atau isi perut yang dibiarkan begitu saja di dalam tong sampah, sehingga menghasilkan bau tak sedap. 

Terlihat burung burung walet terbang dalam kawanannya, menertawakan anak-anak sapi yang siap tunduk di bawah pisau daging tukang jagal, mereka tertawa dalam kebebasannya.

Anak sapi terus berontak, dan berteriak, dalam bahasa yang tak dimengerti oleh pengembala yang sedang menggiringnya ke tempat jagal.

“Diam! Berhentiah mengeluh!" kata pengembala.
“Siapa yang menyuruhmu menjadi anak sapi?”
“Mengapa kau tak punya sayap seperti burung walet diatas sana?”
“Mengapa kau tidak terbang seperti walet yang bebas itu?”

Anak sapi itu menangis, ingin rasanya ia melepas tambang dilehernya, namun ia tidak memiliki tangan dan kekuatan untuk sekedar melawan.

Satu-persatu anak sapi itu diseret paksa ke tempat jagal, dan dibantai dengan mudahnya dengan begitu cepat. Kepala mereka disejajarkan diatas meja layaknya hidangan mentah, mata mereka terbuka. Burung walet diatas sana menertawakan nasib mereka.

Hingga tiba anak sapi yang terakhir, ia menangis, namun pengembala tak menghiraukan pilu yang semakin biru itu. Ia menyeret paksa meskipun agak berat, anak sapi terus berontak sehingga harus melibatkan tukang jagal itu untuk menggiringnya masuk ke tempat pemotongan. 

Aku turun dari sarangku di pohon tinggi yang tak jauh dari pasar, terbang ke arah keributan. Teman-teman yang sejenis sedang menertawakan anak sapi di bawah sana. Aku terheran, karena ia adalah anak sapi yang kutemui di kandang di tengah ladang ilalang malam kemarin. Ia yang mengizinkanku untuk minum dikandangnya. 

Aku yang tak bisa berbuat apa-apa hanya melihat matanya yang begitu sendu, ia tak tahu alasannya mengapa ia harus mati. Sampai pisau daging itu melesat tinggal beberapa inci dari leher anak sapi itu, aku melihat padang hijau yang luas dimatanya. 

Bagi anak sapi, kebebasan adalah disaat nyawa sudah tidak lagi berada di raga. Disaat itulah mereka seolah-olah terbang dengan sayap-sayap mereka sendiri. Makhluk macam mereka ini, harusnya sejak dulu minta dihilangkan nyawanya. Namun kami berpesan pada manusia-manusia merdeka disana, jangan menerima nasib buruk, seolah-olah itu sudah ditakdirkan. Kika kau ingin bebas, maka belajarlah untuk terbang. seperti aku dan walet-walet lain.

(Hilmi)
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar