Sahabat Bulan Juni

Juni itu tiba lagi, Purnama bulan Juni selalu menjadi saksi disaat kita menikmatinya dan menyimpan cahayanya disudut mata, selagi kita susuri gerimis-gerimis yang menyimpan teduh di jalan-jalan kecil, menunggu waktu di kursi kayu berbingkai besi ini dan diperhatikan pohon-pohon trembesi rindang yang sembab karena hujan, penaku terjatuh disaat kucoba membuat pusi tentangmu, saatku mencoba meraihnya tiba-tiba tumbuh mesin waktu yang membawaku ke masa lalu disaat kita masih bersama menikmati purnama di bulan Juni itu.

Di suatu malam seperti malam-malam sebelumnya, aku dengan sepenggal syair-syair yang tak pernah usai, dan pena yang tiba-tiba membeku, inspirasiku menemukan jalan buntu. Di kursi kayu berbingkai besi yang terbujur di depan sebuah toko klontong yang menghadap pohon trembesi rindang ini aku dan sahabatku, Danur. Sering kali mempertanyakan hal-hal kecil dan menukar tawa akan kejadian-kejadian di siang harinya, memang sudah kebiasaan kami di setiap purnama untuk sekedar duduk menyeruput kopi dan bertukar cerita.

“Hei penyair, kapan cerita hebatmu itu bisa selesai, kalau kerjaanmu cuma hanya melamun melihat bulan,” Danur datang dengan rokok yang menyala di sudut bibirnya.

“Haha, kau tahu kan, penulis hebat itu butuh inspirasi,” aku tertawa.

“Dasar kau,” Danur menepuk punggungku lalu duduk "Purnama malam ini indah ya?”

“Iya, indah sekali,”

Danur, sahabatku satu ini sejak dulu memang selalu terkagum-kagum dengan purnama, kami kenal sejak kecil. Ia adalah seorang yatim piatu, satu-satunya alasan mengapa keluargaku harus mengadopsinya. Keluargaku sangat dekat dengan dengan kedua orang-tuanya. Bagi keluarga kami orang tua Danur seperti malaikat penolong. Orang tua Danur adalah saudagar kaya di Jawa Barat, mempunyai kebun anggur petak berhektar-hektar. Orang tua mereka memberikan modal kepada keluarga kami untuk membuka usaha disaat usaha kami yang lama bangkrut. Sampai pada suatu hari orang tua Danur hendak pergi ke rumah kerabat kerjanya, tapi kereta api yang ditumpangi orang tua Danur anjlok dari relnya di jembatan di atas jurang sedalam hampir 400 meter. Kereta itu jatuh bersama maut yang menewaskan semua penumpang termasuk orang tua Danur. Berita itu langsung tersebar di koran-koran di halaman utama, hingga sampai ke orang tuaku.

Sehari setelahnya, orang tuaku dan aku pergi ke rumah Danur. Ia belum tahu sama sekali apa yang telah menimpa orang tuanya. Waktu itu danur hanya berdiri di depan pintu rumahnya, menunggu seseorang, dan aku yakin yang ia tunggu bukanlah kami, melainkan kedua orang tuanya yang tak kunjung pulang. Danur dengan tatapan kosong hanya melihatku dengan seulas senyum, orang tuaku tak pernah mengatakan apa-apa padanya. Yang ia tahu waktu itu, ia akan mendapat teman baru. Waktu itu umur kami baru menginjak empat tahun, tapi bagiku aku sudah lama mengenalnya sebelum kelahiranku. Hal itu yang membuat kami akrab dengan cepat. Kurasa Danur juga merasa seperti itu.

Sejak dulu aku adalah pemimpi, mimpiku ingin menjadi penulis besar macam J. K. Rowling dan Goethe. Tapi mimpi itu seakan terkikis oleh kecerdasan Danur, Danur orang yang bisa segalanya. Aku ingat pada suatu saat Danur mengalami kesulitan keuangan. Ia memang remaja yang boros, tapi ia juga pantang meminjam uang kepada teman-temannya bahkan kepadaku yang sudah dianggapnya saudara. Ia lebih memilih usaha sendiri, aku tak pernah tahu alasannya. Suatu waktu ia melihat selebaran lomba cerpen di meja belajarku di kos kami. Dengan modal kepepet karena pengiriman karyanya akan ditutup besok lusa, Danur malam itu rela begadang untuk memulai cerpennya.

“Tumben kau mau ikut lomba macam ini, ini itu lomba besar, sulit sekali seleksinya, aku saja yang berkali-kali ikut lomba ini tak pernah juara,” aku mencoba mengganggu Danur yang sedang tekun mengetik cerpennya.

Danur hanya diam dan tiba-tiba berkata “Haha, hei Binar’ jika kita ingin mencapai sesuatu, sungguh-sungguh saja dulu,” ia menghisap rokoknya dengan begitu tenang.

Cerpen itu rampung pagi harinya, aku dan Danur pergi ke kantor pos untuk mengirimkan kedua karya kami, dan menunggu pengumuman seminggu setelahnya. Dan tak disangka-sangka Danur berhasil meraih posisi juara dua, bahkan ia menggeser juara bertahannya di tiga besar. Aku terkagum-kagum sekaligus kaget dengan usahanya, bagaimana bisa cerpen itu bahkan karya tulis pertamanya. Hari itu Danur langsung mentraktirku makan di restoran mahal dengan uang hasil usaha begadangnya malam itu.

“Sudahlah, jangan bersedih, kemenanganku juga kemenanganmu,” kata-kata itu membuatku senang.

Kami tertawa sampai terbatuk-batuk, hingga segumpal darah keluar dari mulutnya. Danur mencoba menyembunyikannya dariku, Danur sudah mengidap kanker paru-paru sejak setahun yang lalu. Vonis dokter itu hampir tak membuatku percaya, apalagi dengan sikap Danur yang tenang-tenang saja. Aku tidak pernah tahu di balik keceriaan dan tawanya itu ia menyembunyikan rasa sakit yang amat sangat. Tapi Danur sosok yang kokoh dan sabar, ia tak mau menampakan kesedihanya kepada orang lain.

Akhirnya sejak kejadian lomba cerpen itu Danur memilih sebagai penulis lepas di surat-surat kabar lokal untuk menambah uang jajan. Tak jarang jika ia mendapat honor dari tulisan yang berhasil dikirimnya itu, ia selalu mengajakku makan. Aku merasa bahwa menjadi penulis memang sudah menjadi bakatnya sejak lahir, sedang aku hanya bisa bermimpi. Bahkan artikel atau cerpen-cerpen yang aku kirim ke surat-surat kabar itu harus terbujur berdebu di sela-sela kamarku dan menjadi sampah tak berharaga. Jangankan menjadi uang, tulisan itu saja tak ada harganya, berbeda dengan Danur. Hampir semua tulisannya dicetak di surat kabar, bahkan sekarang ia sudah menjadi pengasuh salah satu rubrik di surat kabar di Jakarta, sungguh iri sekali aku padanya. Dan yang lebih menyakitkan lagi, novel-novelnya sekarang menjadi best seller hampir di seluruh negeri dengan nama pena B. Danur seperti nama aslinya Budi Danur. sedang aku sekarang hanya menjadi seonggok mahasiswa, pengangguran tanpa sesuatu yang bisa dibanggakan. Sebenarnya Danur bisa saja membeli rumah dan tinggal tidak satu kos lagi denganku dengan royalti yang ia dapat dari novel-novelnya setiap bulan. Tapi aku kenal Danur, dia orang yang sangat sederhana, meskipun dengan uang yang melimpah di dompetnya, Danur tak pernah berubah. Ia masih saja berpenampilan yang sama, dan masih suka nongkrong denganku di sudut toko klontong itu. Hanya saja ia semakin menjadi dalam membelanjakan rokok yang sekarang membuatnya menjadi perokok berat. Ia bahkan tidak peduli dengan penyakit paru-parunya. Baginya kalau ia harus mati karena rokok, itu akan sama saja, karena semua manusia akan mati pada waktunya, bukan karena suatu apapun. Aku bisa memaklumi pemikiran Danur itu, aku sudah capek menegurnya untuk menghentikan kebiasaan yang merusak kesehatannya itu, tapi karena memang ia bukan tipe orang yang suka diatur, ia memilih kokoh dengan pendiriannya itu.

Hari telah masuk awal bulan Juni, Juni ini bahkan lebih basah dari Juni-Juni sebelumnya, hampir setiap malam gerimis mengguyur malam kami. Tapi itu tak menyulutkan sama sekali kebiasaanku dan Danur, kami masih saja suka menikmati kopi, Danur dengan rokoknya, sedang aku dengan syair-syairku.

“Hei Binar,” Danur memanggilku dengan memandang bulan “Kau tahu besok hari apa?”

“Besok hari Rabu kan,” aku masih fokus dengan tulisanku di buku catatan.

“Bukan itu maksudku, kau tahu kan, besok purnama,” Danur berpaling dari bulan, dan langsung melihat ke arahku.

“Tentu saja aku tahu, setiap bulan purnama kau kan selalu mengajakku melihatnya mengambang diatas sana, mengizinkannya menyimpan sinarnya di sudut mata kita,” aku menyudahi tulisanku.

“Haha, dasar sok puitis kau,” Danur memukul punggungku “Hei, maukah kau berjanji satu hal padaku hanya untuk malam ini.”

“Tentu saja, semuanya akan kulakukan untukmu, apa itu?”

“Berjanjilah, besok di saat purnama kau mau menemaniku menikmatinya, di sini, di bawah pohon 
rindang ini,”

“Bukannya, hampir setiap bulan aku menemanimu disaat purnama, aku tidak pernah tidak menemanimu bukan?”

Danur hanya terdiam, ia begitu berbeda, ia tidak merokok malam ini.

Tibalah malam itu, malam yang dijanjikan Danur kepadaku. Malam itu seperti malam-malam sebelumnya hanya saja lebih terang karena purnama dan lebih basah karena hujan yang deras. Di sela-sela aku menunggu kedatangan Danur, aku masih mencoba membuat puisi. Tiba-tiba inspirasiku menemukan jalan buntu. Karena Danur begitu lama datang, aku pun menghampiri kamar kos kami dengan berhujan-hujan. Di kamar kos kami aku lihat Danur masih pulas di atas tempat tidurku. Aku hanya tersenyum melihatnya sepulas itu, hujan ini sudah membuatnya terlena rupanya. Aku pun bermaksud membangunkannya untuk menepati janjiku, hanya saja malam itu ia lebih sulit bangun dari biasanya. Sampai akhirnya aku sadar, ia tidak lagi mendenyutkan nadinya, ia tidak lagi bernafas. Malam itu Danur meninggalkanku bersama purnama yang ia janjikan, sendirian bersama syair-syairku yang tak pernah menemukan titiknya, sampai hujan reda. Tapi tidak hujan di mataku masih mengalir deras membentuk sungai kembar.

Kematianmu di malam juni itu memberiku pelajaran, aku menjadi lebih giat mengejar mimpiku sebagai penulis, hingga akhirnya cerpenku meraih penghargaan sebagai cerpen terbaik di tingat nasional yang berjudul “Sahabat Bulan Juni”. Satu hal yang membuatku terharu adalah teka-teki nama penamu, B. Danur. Ternyata teka-teki huruf B yang sengaja kau sembunyikan itu bukan nama aslimu melainkan namaku. Aku menyadarinya di saat kudatangi penerbit novel-novelmu di Jakarta untuk menerbitkan novelku yang sekarang menjadi bestseller. Dan kini aku masih memakai nama penamu untuk buku-bukuku menjadi Binar Danur, dengan nama itu aku bisa meraih mimpiku.

Mesin waktu sirna di saat telah kuraih pena itu, kulanjutkan puisiku tentangmu, hanya saja pena itu membeku, aku sejenak berpikir dan menatap kepada purnama Juni diatas sana.

“Mungkin kau adalah sekian alasan mengapa purnama lebih memilih kita sebagai sinarnya di malam di bulan juni, sekarang kau lebih dekat dengan purnama itu, Danur.”

(Hilmi)
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar