Di Antara Aktivis Musiman dan Bebek Kampus




Mahasiswa sebagai insan kampus yang masih idealis dan independen merupakan penentu masa depan sebuah bangsa, mahasiswa sering melakukan aksi ke arah perubahan untuk kemajuan serta keadilan bagi masyarakat. Jadi, sangatlah pantas kalau mahasiswa sebagai generasi penerus memikul tangung jawab ini. Dan tidaklah pantas, apabila masih ada anggapan gerakan mahasiswa merupakan ancaman terhadap negara dan penguasa, karena sering dianggap gerakan komunis atau sejenisnya.

Dalam sebuah pandangan, mahasiswa merupakan bagian dari gerakan pendesak, kumpulan atau sekelompok pendesak ini sangat dijunjung tinggi dalam sebuah negara demokrasi dan bukan malah untuk dicurigai. Menurut Alan R.Ball (1993), kumpulan pendesak merupakan agregat sosial dengan tahapan yang padu serta berkolaborasi untuk tujuan yang sama yang pada akhirnya dapat mempengaruhi proses membuat keputusan politik. Sedangkan menurut golongan Marxis, menilai bahwa kumpulan pendesak (pressure) perlu ada didalam sebuah negara, mereka percaya bahwa negara tidak bersikap netral dan terdapat ketidakseimbangan yang besar antara kumpulan dari segi kuasa politik.

Tapi sebenarnya, apakah demonstrasi itu perlu dilakukan oleh mahasiswa? Seperti yang kita tahu, pekerjaan mahasiswa tidak hanya berdemonstrasi saja, tetapi, ujian-ujian, kuis, UKM, serta tugas-tugas dari dosen yang menumpuk, bahkan ada juga mahasiswa yang kuliah sambil bekerja. Dengan kegiatan yang sangat banyak itu, apakah relevan jika mahasiswa melakukan demonstrasi?

Perlukah Reformasi Pergerakan?


Demonstrasi bukan hanya tentang turun kejalan. Konten demokrasi adalah ajang edukasi publik, maka harus dilakukan secara elegan. Sangat disayangkan apabila demontrasi menjadi ajang identifikasi mahasiswa kritis karena ikut memperjuangkan hak-hak rakyat. Apalagi jika demonstrasi dilakukan dengan cara-cara sensasional; pembakaran ban, mogok makan, jahit mulut hingga pelemparan tinja ke arah gedung pemerintahan. Apakah cara tersebut mencerminkan mahasiswa beredukasi? Apakah itu cara mahasiswa melakukan edukasi publik? Justru sebaliknya, itu adalah ritual mahasiswa melakukan provokasi. 


Tidak bermaksud membela pemerintah, tapi pemerintah tidak akan sepicik itu menyengsarakan rakyat kecil dengan menaikan harga BBM. Pertimbangan ekonomi makro pasti menjadi hal penting dalam pembahasan tersebut. Bisa saja jika harga BBM tidak dinaikan karena tipisnya persedian, maka resiko yang ditimbulkan menjadi lebih besar. Kita sering kali latah terhadap reformasi yang ditampilkan, sikap kritis para pakar di media seolah-olah membuat seluruh kebijakan pemerintah adalah salah. Tidak terkecuali pakar yang masih bersikap partisan dengan salah satu kubu politik. Inilah yang akan menjadi referensi mahasiswa dalam melakukan aksi, yang kemudian dituangkan dalam retorika-retorika profokatif di jalan.

Akhirnya timbul pertanyaan, benarkah peran mahasiswa yang katanya sebagai social control? Apakah mahasiswa korban sikap kritis para pakar untuk turun ke jalan? Mengapa tidak mengajak para pakar tersebut saja yang turun kejalan?

Menurut pakar ilmu politik UI Dr. Eep Syaifulloh Fatah, aktivis musiman semakin banyak di negara ini. Ketika menjadi mahasiswa berkoar-koar mengkritik, tetapi ketika lulus kuliah menjadi PNS, Karyawan bahkan politisi malah tak ada gaungnya sama sekali. Jika memang mengaku sebagai aktivis sejati seharusnya seorang idealis dapat mengambil sikap tegas dengan menjadi oposisi abadi. 

Tidak terkecuali saat berlangsungnya aksi di jalan. Bukan hanya banyak ditemukannya aktivis musiman, melainkan banyak spesies bebek kampus yang sengaja ikut-ikutan. Ini fakta yang terjadi, andai saja boleh ditanyakan ke semua peserta aksi, “Kamu tahu lagi aksi apa?” atau, “Coba kamu jelaskan duduk permasalahan kasus atau materi aksi hari ini (analisis isu),” atau, “Coba jelaskan kronologis kejadian isu ini, hingga kamu berani turun aksi?” Dan yang paling penting, tanyakan, ”Menurut kamu solusi terbaiknya apa? Kenapa?” jawaban lazim yang akan keluar dari mayoritas pastinya tak mampu menjawab pertanyaan ini. 



Namun ada baiknya jangan jadi mahasiswa bertipikal “bebek” yang hanya bisa ikut-ikutan saja. Daripada cuma berprinsip “Yang penting aksi, yang penting turun ke jalan, yang penting menyanyikan lagu perjuangan, yang penting masuk media, yang penting teriak-teriak,”, lebih baik solusinya adalah mahasiswa bertipikal ”bebek” ini tidak usah ikut aksi saja, karena merusak hakikat aksi dan merusak citra aktivis-aktivis yang benar-benar serius dan fokus atas isu yang diaksikan.

Alangkah baiknya sebagai mahasiswa yang menjunjung intelektualitas, sebelum mengadakan aksi menggelar kuliah umum dengan pakar-pakar politik dan ekonomi serta dilakukan pengujian layak pakai turun ke jalan. Agar mahasiswa yang berdemonstrasi adalah mahasiswa yang memahami isu, punya solusi konkret, dan beretika. 


Mahasiswa Mental Pedagang



Saat ini sebuah tren sedang berkembang dan menjadi isu menarik di kalangan mahasiswa, yaitu pola berpikir semangat berwirausaha. Alasannya sederhana, banyak mahasiswa mengikuti kegiatan-kegiatan kewirausahaan yang menurut mereka lebih menjamin masa depan secara finansial. Tapi hal ini dianggap oleh sebagian aktivis tidak merepresentasikan hakikat seorang mahasiswa, dan dianggap sebagai mahasiswa mental pedagang. Padahal suatu negara yang besar mesti memiliki minimal 2% dari penduduknya sebagai wirausahawan. Seperti AS 12% dari total penduduknya adalah wirausahawan, atau Jepang 10% dari total penduduknya adalah wirausahawan meskipun dengan luas wilayah yang kecil dan SDA yang kurang mendukung. Melihat ke tetangga sebelah Singapura dengan 7,2% dari total penduduknya adalah wirausahawan, sedangkan kita masih 0,18%. Nah lantas siapa yang akan meningkatkan persentase itu jika bukan kita kawan? Apakah mereka yang selama ini membuat macet di jalan dan membakar ban? Apa yang mereka hasilkan selain lumpuhnya persendian pemerintahan yang produktif?
Iklim ilmiah yang semakin meningkat di lingkungan mahasiswa juga dianggap sebagai strategi pemerintah (dalam hal ini Ditjen Dikti) untuk melemahkan gerakan mahasiswa. Kompetisi LKTI, LKTM, PKM, sampai dengan PIMNAS dianggap sebagai alat pelemah gerakan mahasiswa.

Mahasiswa yang berprestasi menjuarai lomba-lomba pun dicap apatis. Saya heran, pengertian seperti apa yang ada di pikiran mereka tentang apatis? Semua mahasiswa yang masih rasional dan logis pasti sepakat jika gerakan mahasiswa bukan hanya aksi turun ke jalan, teriak-teriak dan bakar ban. Gerakan mahasiswa bukan hanya diskusi-diskusi politik atau NgomPol (Ngobrol Politik). tetapi lebih jauh lagi dengan karya-karya tulis yang lebih sistematis dalam cara berpikir, yang lebih ilmiah dalam mengkritik, yang lebih elegan dalam mencari solusinya. 


Mahasiswa harus berubah. Generasi 1998 dan sebelumnya memberi banyak pelajaran kepada mahasiswa tentang perjuangan mahasiswa. Darah yang tumpah di medan juang itu harus dibalas, harus dijawab dengan prestasi-prestasi, serta karya nyata mahasiswa seperti pengembangan desa-desa mandiri oleh mahasiswa, pengembangan IPTEK oleh mahasiswa, penelitian ilmiah mahasiswa, dan usaha mandiri mahasiswa.

Coba kita berpikir sejenak tentang peran mahasiswa dalam melakukan perubahan, salah satu dari tiga fungsi utama mahasiswa adalah sebagai iron stock (cadangan masa depan). Silahkan kita bayangkan bersama apa jadinya jika para pengurus bangsa ini nanti tak paham dengan disiplin ilmunya (Sedangkan sok pandai bermain kata dalam menggunakan istilah-sitilah politik.), mahasiswa ekonomi tak paham dengan ekonomi makro, Mahasiswa Akuntansi tak paham dengan tata kelola keuangan, mahasiswa Teknik Listrik mampu membuat rancangan instalasi, maka apa yang bisa kita berikan untuk perubahan bangsa ini? Bukankah telah banyak contoh pemimpin-pemimpin di dunia yang ketika muda mereka merupakan orang-orang berprestasi terlepas dari pro kontra yang berkembang atas kepemimpinan mereka, seperti presiden pertama RI Ir. Soekarno yang merupakan arsitektur handal dari alumni jurusan Teknik Sipil ITB. Presiden kedua RI Soeharto ketika muda terpilih menjadi prajurit teladan di Sekolah Bintara, Gombong, Jawa Tengah pada tahun 1941. Presiden ketiga RI Habibie meraih gelar doktor konstruksi pesawat terbang di Jerman dengan predikat Summa Cum laude. Presiden Gusdur juga lulusan pesantren terbaik, Presiden kelima SBY juga meraih predikat lulusan terbaik Akabri 1973 dengan menerima penghargaan lencana Adhi Makasaya. Contoh lain adalah presiden Iran Ahmadinejad yang sukses didalam pendidikannya dengan berhasil meraih gelar professor.


Berbeda pendapat boleh-boleh saja, asal disikapi dengan benar. Sangat disayangkan jika niat yang sebenarnya baik namun diungkapan dengan tidak baik, bukankah perbedaan itu rahmat?
Memberi label kepada mahasiwa yang tidak satu pemikiran, yang tidak sejalan, yang tidak satu visi dan misi hendaknya dihindarkan bahkan jangan dilakukan. Karena pemberian label apatis, bermental pedagang, tidak organisatoris, akan sangat menciderai hak-hak asasi mahasiswa. Akan lebih bijaksana jika setiap mahasiswa bersatu dengan bergerak dijalannya masing-masing selama itu untuk sebuah perubahan, karena itu panggilan jiwa bukan panggilan anda kawan.
Ingat kawan, semua yang besar selalu berasal dari yang kecil. Jika kau ingin merubah sebuah bangsa, mulailah dari dirimu sendiri.
Kritis tak menjamin idealis, idealis menjamin kebaikan.
Hidup Mahasiswa !!! 



(Hilmi)
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

2 comments: