KKL BUMI LANGIT : “Belajar dari Bumi, Belajar dengan Hati”




Adalah suatu pengalaman berharga bagi 22 mahasiwa jurusan Ilmu Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) yang dapat berkesempatan untuk belajar hidup membaur dengan alam. Agenda khusus yang ditujukan bagi mahasiswa pengkaji mata kuliah Masalah Negara Berkembang ini merupakan salah satu bentuk dari Kuliah Kerja Lapangan (KKL). Acara tersebut bertempat di kawasan bernama Bumi Langit, desa Mangunan, Imogiri, Bantul, Yogyakarta.



Dian Azmawati, S.IP., M.A selaku dosen pembimbing menyatakan kegiatan ini bertujuan membuka wawasan mahasiswa bahwa untuk mewujudkan pembangunan bangsa demi terciptanya great civilization tidak melulu dengan mengadopsi teori European centris. Nyatanya peradaban di negara Indonesia sejak dahulu memiliki local wisdom yang mengutamakan kesejahteraan, yaitu dengan cara mengelola alam serta lingkungan secara mandiri, namun tanpa mengeksploitasi.


Di tengah zaman yang amat intens menawarkan hingar bingar globalisasi, Bumi Langit menyadarkan kita bahwa manusia telah lupa bagaimana sejatinya memperlakukan alam. Kerusakan alam yang banyak terjadi di bumi tidak lain adalah akibat dari ketamakan manusia. “Ada hal penting untuk direnungkan namun kita terlena karena adanya sebuah krisis yang dimulai dari krisis adab, khususnya adab terhadap alam atau lingkungan. Dimana kita memandang alam bukan sebagai bagian dari hidup kita namun dilihat sebagai objek untuk pemuas nafsu belaka,” tutur Iskandar Waworuntu selaku pendiri Bumi Langit dalam sambutannya, Senin (27/10).

Mengingat Yogyakarta merupakan daerah yang rawan gempa, penggunaan kayu untuk membangun rumah sangat penting dilakukan demi meminimalisir robohnya bangunan. Oleh karenanya, semua bangunan di Bumi Langit didirikan dari kayu-kayu dan genteng bekas yang tidak terpakai lagi. Selain itu, tembok yang dibuat juga tidak menggunakan kerangka dari batu bata melainkan dengan memanfaatkan besi dan anyaman bambu.
Menariknya, sumber energi Bumi Langit seperti minyak, gas, air, dan listrik dihasilkan secara mandiri dengan memanfaatkan teknologi biogas dan biodiesel yang ramah lingkungan. Bumi Langit juga mengenalkan kepada masyarakat bahwa tidak adanya limbah yang terbuang sia-sia, semua bisa diurai kembali sehingga serba memiliki manfaat yang berkelanjutan bagi satu makhluk hidup ke makhluk hidup lain, bahkan bagi mikroorganisme sekali pun.

Seluruh kebutuhan warga di lingkaran Bumi Langit sepenuhnya bergantung pada usaha pengolahan produk pertanian organik. Mereka memproduksi sendiri bahan-bahan dapur sehari-hari, dari mulai mentega, keju, kopi, minyak goreng, madu, selai, keripik, kue kering, roti tawar kaya serat dan masih banyak lagi. Meski produk makanan bervariasi, hasil panen masih diutamakan untuk konsumsi sendiri, bukan untuk dijual hanya demi menghasilkan profit. Sangat bertolak belakang memang jika dibandingkan dengan fenomena pembangunan yang berbasis pada industrialisasi.

“Industri itu niat awalnya memang meraup keuntungan sebesar-besarnya. Jadi lingkungan dia gak peduli, habis eksploitasi terus ditinggal rusak”, terang Dian, disela-sela perjalanan mengitari kawasan Bumi Langit.

Tidak berhenti di situ saja, mahasiswa juga diajak menapaki kontur tanah serta tata ruang di perkampungan Bumi Langit. Menurut Salas, salah satu pengelola Bumi Langit, seluruh tata letak dibuat dengan mengikuti bentuk alam. “Tidak ada tanah yang dibuat-buat, semua dibangun mengikuti bentuk lingkungan. Jangan pernah melawan alam”, tandasnya.
Salah satu mahasiwa peserta KKL, Hendy Hermadiasanto menyatakan banyak pelajaran yang dipetik dari sini bahwa pemanfaatan lingkungan tidak harus tentang ekonomi, sosial, dan politik tapi juga agama. Sependapat dengan itu, menurut dosen pembimbing mata kuliah Masalah Negara Berkembang ini, dipilihnya Bumi Langit sebagai lokasi KKL juga didasari atas pertimbangan hadirnya ilmu agama yang ditanamkan pula bagi peserta. “Ini yang membuat Bumi Langit beda dari yang lain, memperlakukan bumi juga harus pake hati nurani,” imbuh dosen yang juga menjabat sebagai Sekretaris IPIREL (International Program of International Relationship) UMY ini.

Baru tujuh tahun usianya, namun kearifan Bumi Langit menjadikan ia tumbuh sebagai sebuah institute yang mengajak orang-orang untuk memanfaatkan alam dengan penuh rasa syukur. Alam Indonesia ini diciptakan oleh Tuhan untuk manusia, namun sejatinya manusia tidak terlalu berlebihan dalam mengelola alam. Cukup hanya mengambil manfaat sesuai kebutuhan dengan tetap mengutamakan adab sebagai umat muslim. Selebihnya, sebarkan manfaatnya kepada makhluk hidup lain yang sama-sama berikhtiar pada Tuhan.
Perjalanan menyisir ladang seluas 3 hektar ditambah teriknya mentari 27 Oktober 2014 membuka mata dan tak menyurutkan niat mahasiswa untuk lanjut menimba ilmu. (Nor)
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar