Miskin Membakar Uang



Penetapan Peraturan Kawasan Tanpa Rokok (KTR) No. 5 tahun 2014 di Kabupaten Kulon Progo menjadi contoh bagi kabupaten lain di Daerah Istime Yogyakarta. Diperlukan regulasi baik secara nasional maupun regional tentang menurunkan prevalensi perokok. Hal ini didasarkan pada fakta bahwa di Kulon Progo terdapat adanya peningkatan morbiditas atau mortalitas penyakit akibat merokok. Prosentase belanja rokok kebanyakan dilakukan oleh kalangan orang miskin dibandingkan yang kaya, pada tahun 2011 BPS Kulon Progo mencatat Rp. 66Milyar habis digunakan untuk membelanjakan rokok. Hal ini disampaikan oleh dr. Hasto Wardoyo, Sp. OG. dalam seminar Hari Tanpa Tembakau Sedunia di Asri Medical Center (AMC), Sabtu (31/5).

Acara yang diusung oleh Muhammadiyah Tobacco Control Center (MTCC) ini di hadiri oleh dr. Hasto selaku Bupati Kulon Progo, Ir. Agus Nugroho Setiawan, M.P selaku kepala LPKA UMY serta pemberian penghargaan kepada Nur Lisnani Pamela selaku pemilik Pamela Swalayan delapan cabang di Yogyakarta yang tidak menjual rokok serta melarang bagi karyawan untuk merokok di tempat kerja.

Adapun rokok itu sendiri mengandung zat yang berbahaya bagi kesehatan. “Rokok itu kandungan radikal bebasnya yang menyebabkan resiko mata katarak” ungkap dr. Nurfifi Arliani, Sp.M dalam sambutanya selaku Direktur AMC.

“Saya datang kesini untuk lebih memantabkan hati saya berhenti untuk merokok, karena keinginan itu muncul dari diri saya pribadi dan beberapa tekanan dari luar untuk bersikap respect”, kata Ari peserta seminar. (Mj)
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar