Diskusi Ekonomi Syariah: Dimulai dari Aqidah


Yogyakarta, Nuansa Online - Kota Yogyakarta akan dijadikan pusat ekonomi syariah di Indonesia, mengingat penduduk mayoritas bangsa ini merupakan beragama muslim serta peredaran uang syariah berbanding jauh yang hanya sebesar 5% di masyarakat, artinya 95% uang yang beredar dipegang kendali oleh konvensional. Seperti itulah apa yang disampaikan oleh Dr. Muhammad Akhyar Adnan, MBA., Ak dalam acara Seminar dan Diskusi Rutin Sistem Ekonomi, Bisnis dan Akuntansi Syariah oleh Pusat Pengembangan Ilmu Ekonomi (PPIE) di Ruang Sidang Ilmu Hukum Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Sabtu (12/4).

Acara tersebut turut menghadirkan Ketua Dekan Fakultas Ekonomi UMY Dr. Nano Prawto, M.Si. sebagai pemateri yang menyampaikan topik konsep uang dalam islam. Beliau memaparkan bahwa uang merupakan alat tukar yang diterima secara umum oleh masyarakat luas serta disah-kan oleh pemerintah. Konsep uang itu sendiri pertama, money of flow concept yakni Keberadaan uang haruslah mengalir jangan sampai menimbun uang, kedua, money of public goods uang merupakan milik bersama dalam hal pemakian bukan dimiliki secara individu papar beliau.

Sementara itu Akhyar menjelaskan bahwa untuk memulai ekonomi yang benar-benar berlandaskan syariah maka pondasi yang pertamakali harus kuat dan kokoh serta ada pada setiap individu muslim adalah Aqidah baru setelahnya Ubudiyah, Muamalah, dan Ahlakul karimah. “Sebab jika Aqidah sudah kuat maka apapun perintah-Nya maka dengan rasa senang hati mau menjalani” tandasnya.

“Saya merasa senang bisa mengikuti seminar dan diskusi ini ditengah jadwal yang padat pada semester ini, dengan ini menambah ilmu pengetahuan mengenai ilmu sistem ekonomi syariah bahwa umat islam mampu mewujudkannya sistem syariah” ungkap Handy mahasiswa akuntansi 2011. (mujib)
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar