ASEAN Economic Community 2015: Peluang dan Tantangan Bagi Pertanian Indonesia

Yogyakarta, Nuansa Online - Masyarakat ekonomi ASEAN atau ASEAN Economic Community (AEC) yang akan diimplementasikan pada tahun 2015 membawa peluang serta tantangan bagi pertanian Indonesia. 

“Tantangan utama yang dihadapi Indonesia adalah daya saing bangsa, terutama kualitas, kapasitas SDM dan kualitas produk dalam negeri, termasuk di dalamnya adalah produksi Pertanian, sedangkan peluangnya adalah terbukanya pasar yang lebih bebas bagi produk pertanian Indonesia” kata Dr. Ir. Gunawan Budianto, MP. dalam acara seminar “Pertanian Indonesia Menghadapi AEC 2015” di Amphitheater E Gedung F5 Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Senin, (21/04).

Acara yang diselenggarakan oleh kerjasama Senat FKK Himpunan Mahasiswa Agriteknologi (HIMAGRI) seluruh Indonesia tersebut menghadirkan tiga pembicara, antara lain Direktur Standarisasi Mutu Kementrian Pertanian Dr. Ir. Gardjita Budi, M.Agr.St, Penasehat & Peneliti Pusat Studi Perdagangan Dunia (PSPD) UGM Prof. Dr. Ir. Masyhuri, dan Dosen Pertanian UMY, Dr. Ir. Gunawan Budianto, MP.

“Acara seminar ini merupakan rangkaian acara pertemuan nasional mahasiswa pertanian seluruh Indonesia yang diadakan dari tanggal 21-25 April 2014, untuk acara pertemuan nasionalnya sendiri akan diadakan di Yogyakarta Youth Centre dari tanggal 22-25 April,” tutur Dwi Putra selaku ketua panitia.

Sebagai akademisi, Gunawan melihat pertanian Indonesia harus banyak berbenah dalam menghadapi pasar tunggal ASEAN agar dapat bersaing nantinya. Ia juga mengkritisi kondisi pertanian Indonesia yang belum mandiri sehingga masih bergantung kepada lembaga keuangan Internasional dan bangsa lain. 

“Pertanian Indonesia masih di bawah ketiak IMF dan World Bank, sehingga mudah sekali dikendalikan oleh negara asing pemilik modal,” ujarnya.

Namun ia masih optimis jika generasi muda Indonesia, terutama mahasiswa pertanian Indonesia nantinya dapat menjawab tantangan global tersebut. Ia juga menambahkan bahwa masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan oleh bangsa Indonesia agar bisa bersaing di AEC 2015 seperti, Meningkatkan peran dan fungsi lembaga penyuluhan pertanian dalam meningkatkan daya saing SDM-pertanian dan kualitas produk pertanian terutama pangan.

Selanjutnya, Peneliti Pusat Studi Perdagangan Dunia (PSPD) UGM, Prof. Dr. Ir. Masyhuri, menjelaskan mengenai sejarah AEC, pencapaian Blue Print AEC, serta upaya yang harus dilakukan petani Indonesia dalam menghadapi AEC 2015.

“Dalam rentang waktu yang cukup singkat negara-negara ASEAN mencoba untuk mewujudkan pasar tunggal dan basis produksi di ASEAN sebagai integrasi ekonomi regional, maka dari itu negara-negara tersebut khususnya Indonesia harus mampu menciptakan pasar bagi produk-produk pertaniannya di negara-negara ASEAN lainnya sehingga memberi manfaat bagi para petani,” ungkapnya.

Kemudian ia mengatakan harus ada upaya dari petani untuk dapat bersaing di AEC nantinya dengan meningkatkan produksi dan produktifitas, efisiensi, serta peningkatan kualitas dan inovasi.

Berbeda dengan kedua pembicara di atas, Dr. Ir. Gardjita Budi, M.Agr.St sebagai stakeholder, ia lebih optimis memandang pertanian Indonesia dalam menghadapi AEC. Beliau mengungkapkan bahwa pemerintah sudah melakukan berbagai upaya guna menyiapkan pertanian Indonesia agar dapat bersaing di pasar global.

“Aspek mutu dan standarisasi adalah hal yang paling penting agar produk pertanian Indonesia dapat diterima di pasar global, banyak produk pertanian Indonesia yang di tolak oleh importir karena tidak sesuai dengan standar di negara tersebut,” ungkapnya.
Setelah ketiga pembicara menyampaikan materinya, selanjutnya dibuka diskusi interaktif antara pembicara dengan peserta. Peserta dalam seminar ini dihadiri oleh perwakilan mahasiswa pertanian seluruh Indonesia. Diskusi tersebut juga sekaligus menutup jalannya seminar. (Deni)
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar