Ini Adalah Soal Akting dalam Berbicara : Dare to be a Broadcaster !



NO - “Jangan khawatir untuk menjadi penyiar, ga usah takut, dare to be a broadcaster”. Sebuah ungkapan yang penuh motivasi dilontarkan oleh praktisi advertising, Erwan Sudiwijaya, di tengah – tengah kemeriahan kegiatan workshop penyiaran yang diadakan oleh pihak Ikom Radio UMY (Universitas Muhammadiyah Yogyakarta), sebuah komunitas penyiar muda di UMY. (1/3)

Kegiatan yang bertemakan dare to be a broadcaster ini memancing para kaum muda mudi UMY yang ingin sekali berkecimpung di dunia penyiaran. Acara ini pula muncul atas inisiatif – inisiatif, dan kemauan sahabat – sahabat penyiar muda di Ikom Radio yang ingin turut menggugah hati para sahabat UMY lain untuk ikut serta dalam dunia penyiaran. “Acara ini bukan proker kami, melainkan atas kemauan teman, diliat dari banyaknya teman – teman yang begitu excited banget sama yang namanya dunia penyiaran, apalagi radio. Temanya ini juga menunjukkan supaya kita itu berani untuk menjadi seorang penyiar” Ujar Annisa Ihtiarina, Ketua panitia dalam kegiatan ini.


Acara yang bertempat di Ruang Sidang FISIPOL (Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik) ini mengundang pembicara yang cukup berkompeten dan berpengalaman dalam dunia broadcasting tentunya, ialah Asad Gibran, penyiar muda di Swaragama FM Yogyakarata, dan Prit Timoti, VO Broadcasting dan salah seorang dosen di Prodi Ilmu Komunikasi UMY. Para pembicara hebat ini pun begitu semangat untuk memotivasi para audiens yang hadir dalam acara ini. “Jadi penyiar itu ga harus banyak ngomong, atau pinter ngomong, kamu tinggal menjadi pendengar yang baik, kemudian kamu olah hasilnya sesuai dengan pengetahuan kamu,” Tutur Asad, penuh semangat.

Bahkan menjadi seorang penyiar muda tak perlu menunggu waktu yang lama serta tak butuh banyak persyaratan khusus untuk memasuki dunia penyiaran. “Jangan berkecil hati, penyiar itu hanya butuh skill, seperti acting voice, serta knowledge dan wawasanmu terhadap program yang kamu siarkan itu. Bukan harus menjadi sarjana, apalagi sampai S2, atau es es yang lainnya,” Ungkap Prit, dengan penuh keyakinan bahwa para audiens akan semakin bersemangat untuk menjadi penyiar. “Ga perlu ganteng, ga perlu cakep, tinggal taro CV aja, langsung beres, tunggu panggilan aja” Tambah Asad dalam diskusi yang penuh aura penyiar muda ini.

Namun, yang perlu dicermati adalah bahwa selama menjadi penyiar tak harus menjadi penyiar yang begitu sempurna. “Berusaha untuk menjadi sempurna, tak akan bisa. Bila kau merasa melakukan kesalahan, tinggal legowo, dan berusaha semaksimal mungkin untuk tak mengulanginya lagi. Namun, intinya kamu harus tampil berbeda. Aku ga bilang ada yang salah disini. Tapi apa sih yang akan membedakan kamu dengan penyiar penyiar lainnya?” Tangkas Asad dalam sesi terkahir Tanya jawab di kegiatan ini. Erwan Sudiwijaya pun selaku moderator menambahkan bahwa yang harus dimiliki oleh seorang penyiar adalah pengetahuan. “You must know everything,” Ungkapnya dalam kalimat terkahir sebagai penutup atas kegiatan ini.

Dalam sesi terakhir acara ini pun, pembawa acara mengajak lima orang partisipan untuk memberanikan diri mencoba menjadi penyiar, hanya dalam sesi Opening dari suatu program saja. “Kami akan bagi – bagi doorprize nih, bagi lima orang yang mau maju ke depan dan mencoba untuk Opening saja saat dalam siaran,” Seru dari pembawa acara kegiatan ini. Tentu saja, lima orang pun sudah siap di depan untuk unjuk gigi bagaimana ketika mereka menjadi penyiar. Salah satu dari lima orang itu adalah Yogi, Mahasiswa Ilmu Komunikasi UMY. “Wah, acaranya sih keren, nambah pengetahuan banget, dan Alhamdulillah aku dapat doorprize, Cuma tempatnya agak panas dan bikin gerah aja,” Tutur Yogi, yang tetap semangat menjalani kegiatan sampai penghujung acara ini. (Nash)

Hubungi Reporter di : @nashimaru
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar