Pemilu 2014, Pemuda Pilu karena Pil-You

Di setiap tahun baru selalu ada harapan baru untuk menggapai impian negeri yang belum terwujud di tahun sebelumnya. Seperti halnya masalah ekonomi, politik, sosial budaya, pendidikan dan masih banyak lagi yang masih belum tercapai targetnya di tanah air kita tercinta. Negara yang disebut dengan ‘Macan Asia’ ini akan mengadakan pesta rakyat, yakni pemilihan presiden baru untuk perubahan yang lebih nyata dalam waktu lima tahun kedepanya, seperti kesenjangan sosial dalam masyarakat sudah tak bisa dielak lagi. 
Yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin sengsara. Betapa tidak, mengemis menjadi pekerjaan yang lumrah dan bukan lagi pekerjaan yang hina. Alhasil pengemis pun dapat berpenghasilan puluhan juta dalam sebulan. 
Masalah korupsi pun sudah mengakar kuat pada sendi-sendi para politikus yang tinggal di gedung megah. Mereka nilep uang negara yang dibayarkan oleh rakyat untuk kepentingan pribadi, tanpa memikirkan akibatnya. Korupsi pun tidak hanya terjadi di kalangan pejabat, namun juga dalam keseharian masyarakat. Korupsi kecil-kecilan pun sudah menjadi kebiasaan yang dilakukan masyarakat, yaitu dimulai dengan korupsi waktu dan berujung pada korupsi uang.
Disisi lain, semua cawapres sedang mengantri nomor urut, disisipi pula dengan janji-janji manis. Mulai dari pencitraan melalui media masa hingga memasang baliho iklan berisi jargon-jargon yang manis. Seolah masyarakat dipaksa untuk memilih. Salah satunya dengan melalui doktrin yang secara kasat mata dalam bentuk tayangan iklan, menampilkan citra baik bak paling berprospek, punya visi yang jelas dan tegas. Mereka bukan lah orang yang bodoh jika dilihat dari segi pendidikan, cerdas dan cakap dalam bidangnya. Menjadi pertimbangan masyarakat dalam menentukan pilihan. Namun nilai moral tindakan mereka menyimpang, tidak sesuai norma adat istiadat, jelas ini salah. Apalagi mereka yang melakukan kejahatan berbaju sebagai orang muslim. 
Masyarakat sulit untuk mentukan sosok yang pantas dipilih untuk memimpin negara yang sudah kritis akan moral. Di depan rakyat mereka tersenyum siap untuk melayani rakyat apapun yang terjadi, namun ada siasat buruk dibaliknya. Akan tetapi, hal yang tidak mustahil ada pada bangsa ini yaitu mempunyai orang yang memang benar-benar punya kemampuan dalam memimpin. Maka kita sebagai pemuda penerus bangsa, mulai koreksi kekurangan serta mempertahankan dan meneruskan apa yang telah menjadi cita-cita leluhur bangsa ini. Jangan sampai ada pernyataan “berikan aku sepuluh pemuda maka aku akan membuat boyband!” (MJ)

Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar