Paradigma Mahasiswa Pertanian Masa Kini

                Indonesia pada 1980-an mendapatkan apresiasi yang bagus dari FAO atas berhasilnya kita dalam swasembada pangan dan kedelai. Pada saat itu Indonesia menjadi pandangan dunia sebagai negara yang di anggap kedepannya bisa berdiri sendiri soal pangan apabila swasembada ini akan selalu stabil terproduksi. Sejak di janjikan oleh Susilo Bambang Yudhoyono bahwa Indonesia akan swasembada pangan lagi pada 2014 nanti maka seharusnya sudah ada program kerja yang nyata dan bertahap sejak tahun sebelum-sebelumnya seperti adanya program pelita pada orde baru yang harus di rencanakan dengan matang dan di awasi dengan baik.
                Kenyataan di lapangan sekarang menunjukkan tidak adanya tindakan yang terlihat untuk menyongsong rencana swasembada pangan 2014 nanti. Pemerintah seolah memberikan tindakan yang berlawanan arah seperti meningkatkan kebijakan impor, kerjasama dengan organisasi internasional yang membuat liberalisme dan kapitalisme merugikan negara sendiri, urgensi masalah lahan yang berkurang setiap tahunnya dibandingkan standar lahan yang di perlukan indonesia untuk swasembada pangan, birokrasi atas yang susah, tambang-tambang negara yang mulai dikuasai para investor Asing.
                Selain semua kekurangan itu, yang terpenting di sini adalah adanya sumber daya alam untuk membantu pelaksanaan swasembada pangan yang indonesia inginkan. Dalam skala seorang mahasiswa, yang terdekat adalah para mahasiswa pertanian. Sikap pragmatis, pola pikir kebanyakan mahasiswa pertanian sekarang yang justru tidak bertujuan kedepannya menjadi para petani intelek yang berjuang untuk memperbaiki pertanian indonesia.
                Fakta di lapangan menunjukkan para petani indonesia, sumber daya manusia yang mengurusi tanah subur indonesia dari sabang sampai merauke adalah lulusan SD, SMP dan paling jauh adalah lulusan SMA. Mereka yang kurang bisa maksimal memanfaatkan tanah pertanian. Sedikit sekali sarjana pertanian yang mau turun langsung atau membentuk program yang memajukan pertanian daerah. Berbeda dengan negara-negara maju, terlihat banyak sarjana pertanian berani dan mau bercocok tanam langsung, mengurusi tanah dan tanaman langsung, sehingga negara seperti di Eropa yang bersalju maupun Korea yang gersang, Jepang yang sempit daerah pertaniannya pun tetap bisa berproduksi dengan baik karena para intelek pertaniannya yang mengelola langsung tanah-tanah mereka sehingga mengerti dengan benar.
Pragmatis karena mementingkan kepentingan individualnya, menganggap bertani adalah pekerjaan yang tidak memberikan uang banyak, tidak di minati banyak orang, tidak terlihat sebagai pekerjaan orang kantoran yang elit di gedung-gedung. Mirisnya para sarjana pertanian yang pekerjaannya lari ke perusahaan bank, akuntan, dll. Seperti uang dan ilmunya tidak gunakan secara maksimal.
Pola pikir apatis. Acuh terhadap keadaan yang ada. Tidak memperdulikan sebagai anak pertanian yang paling di harapkan negara untuk memperbaiki sumber daya manusia pertanian ini, apa yang seharusnya di lakukan dan di canangkan bersama. Indonesia adalah negara yang agraris, dari sabang sampai merauke terbentang lahan yang bisa di manfaatkan untuk pertanian kita. Kemudian mepertanyakan kembali apa sebenarnya tujuan awal masuk Fakultas Pertanian dan belajar 4 tahun sampai sarjana. Apa aplikasi dari ilmu yang sudah di dapat selama ini, apa yang bisa kamu berikan untuk negaramu. Ada yang mengatakan bahwa negara yang pangannya belum mandiri maka bisa di anggap negara yang belum merdeka. Pangan sangat penting untuk kelangsungan hidup masyarakat suatu negara karena tidak selamanya kita bisa mengimpor dengan leluasa. Seharusnya para anak muda pertanian menjauhkan sikap skeptis, apatis dan pragmatisnya. Karena dari merekalah, orang-oran yang paham benar tentang bercocok tanam, kita mengharapkan kemajuan dan perbaikan lahan pertanian Indonesia. (Mega)
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

2 comments:

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  2. Ass.km..
    memang secara garis besar permaslahan tidak di dominan oleh sarjana pertanian.Akan tetapi coba kita lihat dari jumlah lulusan di bidang pertanian 3,32 persen/pertahuan (Data Statistik tahun 2010) apakah dari sekian banyak lulusan pertanian itu telah membawa perubahan besar terhadap negara agraria ini???? masalahnya adalah tergesernya pandangan sarjana pertanian yang seharusnya bekerja di lapangan membangun petani yang prefesional, malah bergeser ke pegawai bank,pns,dll.Pertanyaannya apa bila masalah ini makin berlanjut apakah sarjana(SDM) tidak di perhitungkan dalam masalah pertanian? dan apakah bangsa ini bisa berkedaulatan pangan jika lulusan pertanian tidak bekerja sesuai porsinya???.Masalah pertanian harus butuh orang politik tetapi berlatar belakang lulusan pertanian agar dalam dunia politik nasip pertanian bisa di perjuangkan, tanpa politikus berlatar belakang lulusan pertanian, mana bisa pertanian yang harus dominan dalam pembahasan permasalahan negara?

    BalasHapus