Perilaku Elit yang Buruk Tingkatkan Angka GOLPUT

Negara Indonesia adalah negara yang demokratis, akan tetapi perilaku korup elit politik terus terjadi. Hal ini dapat dilihat dari contoh bahwa proses Pemilihan Umum (Pemilu) masih berputar dalam ranah prosedural, dan tidak mementingkan hal-hal substantif. Ketika pemilihan umum sudah menyentuh wilayah substantif, maka diharapkan pemilih tidak akan kebingungan dalam menentukan siapa pemimpinnya.
Hal ini disampaikan oleh Nasrullah, S.H,  selaku Anggota Bawaslu RI dalam Seminar Nasional Budaya Politik menuju Pemilu 2014 yang diselenggarakan oleh Korp Mahasiswa Ilmu Pemerintahan (KOMAP pada Rabu, (20/11). Seminar Nasional yang bertempat di gedung AR. Fachruddin B Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) ini menghadirkan antara lain anggota DPD RI Drs. Afnan Hadikusumo, Anggota Bawaslu RI Nasrullah, SH ; Pakar Sosiologi Prof. Dr. Sunyoto Usman, dan Sosiolog UMY Dr. Zuly Qodir.
Dalam acara ini Nasrullah, SH selaku anggota Bawaslu RI mengatakan bahwa dalam mewujudkan budaya pemilu yang lebih beradab, berkualitas, dan bermartabat akan terwujud ketika seluruh aktor pemilu menjadikan nilai etika dan moral sebagai landasan utama serta fundamental dalam proses pemilu.
“tolak ukurnya adalah ketika penyelenggara, peserta, dan pemilih dalam pemilu telah meletakkan nilai-nilai etika dan moral sebagai basis fundamental dalam penyelenggaraan pemilu” katanya.
Nasrullah menambahkan bahwa dalam praktiknya, ketiga aktor pemilu diatas belum meletakkan nilai etika dan moral sebagai dasar dalam penyelenggaraan pemilu sehingga menyebabkan kondisi partisipasi dalam pemilu terancam akan mengalami penurunan hebat.
“penurunan tingkat partisipasi dalam pemilu bisa disebabkan oleh perilaku elit dan penyelenggara pemilu masih seperti itu, bisa juga karena perilaku pemilihnya yang sudah sangat pragmatis” tambahnya.
Senada dengan itu dr. Zuly Qodir mengungkapkan bahwa diprediksi golput dalam pemilu 2014 akan akan mencapai angka sekitar 40 persen dari sekitar 187 juta  pemilih yang mana 30 juta nya merupakan pemilih pemula. “ menurut ahli survey, golput pada tahun 2014 akan mencapai angka 40 persen dari jumlah pemilih yang kira-kira 187 juta pemilih dan di dalamnya 30 juta adalah pemilih pemula” ungkapnya.
 Zuly juga menandaskan di ujung diskusi bahwa untuk mencapai pemilu 2014 yang berkualitas maka pilihlah calon legislatif yang memiliki visi kedepan, profile, dan kultur yang baik janganlah memilih politisi bajing loncat dan pengangguran politik yang mana hanya memikirkan bagaimana cara untuk mendapatkan keuntungan.
“pilihlah caleg yang memiliki visi kedepan, profile, dan kultur yang baik. Jangan memilih politisi bajing loncat dan pengangguran politik karena jelas tidak akan memperjuangkan keadilan serta kesejahteraan rakyat dan tidak dapat bertanggungjawab” tandasnya. (Thari)


Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar