Pemuda Harus Lebih Paham Toleransi


NO- Pukul 18.00 WIB (25/5) para penganut agama Budha Indonesia dan manca Negara berbondong-bondong berjalan menuju altar di depan Candi Borobudur. Setelah melakukan ritual di tenda masing-masing majelis dan makan malam mereka berjalan ke arah altar yang telah disediakan panitia. Acara puncak waisak ke 2557 ini direncanakan dimulai pukul 19.00 WIB. Oleh karena keterlambatan Menteri Agama, Suryadarma Ali dan Gubernur Jawa Tengah, Bibit Waluyo, maka pembukaan ditunda hingga pukul 20.00 WIB.
Hujan mengguyur semua area wisata Candi Borobudur sejak pukul 18.30 WIB. Doa dari para jemaat mengiringi setiap tetesan hujan yang turun dari langit. Bagai berkah yang turun dari nirvana. Seperti yang dikatakan salah satu Bhante atau yang biasa orang umum sebut sebagai Biksu. “Hujan yang turun dari nirwana ini adalah anugrah dari Budha Gautama,” ucap Bhante dalam menyemangati umat.
Para pengunjung atau turis yang bukan jemaat juga ikut menyaksikan prosesi. Bersama dengan hujan yang menetes, mereka semua berusaha bertahan untuk tetap tinggal di area pelataran Candi Borobudur. Sayangnya, beberapa orang pengunjung asyik bersenda gurau sehingga mengganggu kekhusukkan sembahyang jemaat yang hadir.
Sambutan pembuka diberikan oleh Suryadarma Ali dan disusul oleh Bibit Waluyo. Ketika keduanya memulai pidato, para pengunjung yang bukan pemeluk agama Budha bersorak ramai dengan nada kecewa atas keterlambatan. Tak semestinya mereka berbuat demikian. Sungguh tak ada rasa hormat terhadap pemimpin. Turis ini didominasi oleh pemuda yang mayoritas berasal bukan dari Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, kota letak Candi Borobudur.
Ketika pembacaan doa oleh Bhante-bhante dari 9 (Sembilan) majelis secara bergantian dan berurutan, turis-turis memaksakan diri menuju ke altar. Hujan masih deras waktu mereka berjubel, berdesakan mencari photo para biksu. Mereka naik ke panggung hingga berulang kali ditegur oleh Bhante. “Tolong jangan naik ke altar, ini tempat yang tidak boleh dinaiki,” perintah seorang biksu kepada pengunjung melalui pengeras suara.
Kebanyakan yang memaksa untuk naik ke panggung adalah photografer. Mereka ingin mengabadikan moment tetapi sangat disayangkan perilaku mereka tak beretika. Berusaha sedekat mungkin dengan biksu tanpa memperdulikan keperluan mereka dalam beribadah. Ketenangan dan tanpa gangguan seharusnya menjadi hal yang wajar dalam prosesi ibadah waisak ini.
Akan tetapi, tidak semua photografer tak memiliki etika, hanya beberapa saja. Ketika ditelusuri, photografer yang memaksa masuk altar bukanlah photografer professional. Maraknya kamera DSLR murah mengakibatkan muncul banyak photografer dadakan. Banyak dari mereka yang tak paham tentang toleransi beragama dan etika mengambil photo sebagai salah satu bentuk menghargai hak dan privasi orang lain.
Malam puncak Waisak ke 2557 di Borobudur ini penuh hal-hal yang tak sepatutnya dilakukan generasi muda. Para penerus bangsa yang seharusnya meneruskan cita-cita para pahlawan, tak bisa menghargai hak-hak ibadah bangsanya sendiri.
Di sisi lain , Waisak tak hanya menyuguhkan perilaku tak beretika. Ada banyak keindahan di sana. Puncak Candi Borobudur disorot lampu yang membuatnya terlihat megah dan menawan. Patung Budha juga tampak berkilau di atas altar. Bunga-bunga dan makanan berwarna-warni menghiasi meja altar tepat di bawah naungan Budha Gautama yang duduk di atas bunga teratai. Serta, payung para pengunjung juga terlihat menghiasi suasana acara puncak waisak.
Kedamaian yang ditebarkan para penganut Budha benar-benar pantas ditiru. Tetap tenang, sabar, dan ikhlas walau tak mudah ibadah dalam keadaan basah dan lelah serta semrawutnya para turis. Ucapan terima kasih pantas diucapkan kepada panitia waisak yang telah bekerja maksimal untuk kelancaran acara.
Semoga peristiwa yang tidak menyenangkan ini, tak terjadi lagi dalam perayaan tahun depan. Semoga para photografer muda dan para pengunjung lebih mengerti bahwa sikap menghormati dan menghargai kepada orang lain siapapun itu wajib dijunjung tinggi. Semoga kerukunan beragama di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) terjalin indah lebih baik lagi. (cahya)
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar