Panggung dan Proses dalam Sebuah Makna :Study Pentas 2013



“ayahku harus pulang! ayahku harus pulang! ayahku harus pulang!”
Teriakan Kunarto anak sulung dari Pak Shaleh, ayah yang menghilang dan meninggalkan keluarganya selama 20 tahun. Di malam idul fitri akhirnya Shaleh, ayah tiga anak pulang dengan baju yang lusuh dan sekantung plastik bekal pulang ke rumah. Malang nasib Shaleh, sang sulung tidak menerimanya di rumah tempat ia 20 tahun silam tinggal. Sang Sulung tidak dapat menerima ayahnya. Ia  Kunarto menganggap ayahnya sebagai bapak tak bertanggung jawab karena sudah meninggalkan ia, ibu dan dua adik sekian tahun lamanya. Pada puncaknya karena tak tahan mendengar hujatan anaknya, terjunlah Shaleh ke sungai dan meninggalkan pakaiannya di tepian sungai. Maimun, anak kedua dari Pak Shaleh dan Bu Tina, istrinya lalu menemukan pakaian ayahnya dan kembalilah ia ke rumah untuk menunjukkan sisa pakaian tersebut. Teriakan Kunarto pecah melihat 2 lembar baju di tangan Maimun. Ia bersalah dan menyesal karena tak menerima kehadiran ayahnya kembali dan merasa ia telah membunuh ayahnya.

Demikian penggalan cerita yang dipentaskan oleh para aktor dan aktris Teater Tangga (TETA) pada acara study pentas, selasa-rabu (4-5/6) bertempat di kantin selatan FISIPOL UMY. Acara yang dimulai pukul 20.00 WIB berhasil membawa lokasi pentas dan penonton terbawa alur cerita yang hikmat dan penuh makna. Pentas yang disutradarai oleh Della TETA mengadopsi naskah Ayahku Pulang karya Ismail. Berkisah sebuah keluarga yang ditinggalkan ayah dan harus menerima kenyataan bahwa memaafkan seseorang itu sangat perlu di dalam hidup. Betapapun orang tersebut telah menyakiti. Makna tersebut muncul secara implisit dari cerita yang dibawakan. Para pemain yang sibuk bermain di panggung dengan karakter peran masing-masing membawa penonton masuk ke dalam cerita. Melihat realita dan memaknai dari macam rupa sudut pandang. Semua yang berhasil disajikan oleh TETA di study pentas tidak lepas dari proses.

Adapun berbagai  persiapan dilakukan TETA selama tiga bulan. Dimulai dari bedah naskah yang berlangsung selama satu bulan dan casting pemain dilanjutkan dengan proses  pementasan “proses pentas adalah belajar. Kalaupun ada kekurangan itu adalah pembelajaran”. Tutur Della, sutradara Ayahku pulang saat diwawancarai di lokasi pentas, selasa (4/6).  Di lain hal, para pemain begitu menghayati setiap peran yang dimaikan. Hal itu tidak lepas dari pendalaman karakter dari masing-masing pemeran yang dilakukan selama proses menuju pentas Ayahku Pulang.  Pentas yang dibagi menjadi dua hari yaitu selasa dan rabu bermaksud untuk memberikan kesempatan para aktor-aktris yang sudah terpilih untuk dapat merasakan atmosfer panggung dan berperan sesuai dengan tokoh naskah yaitu dalam sebuah study pentas ‘Ayahku Pulang’. “ada enam pemain yang siap untuk pentas study ini sedangkan cerita membutuhkan lima. Jadi pentas di hari kedua akan memunculkan tokoh baru dengan cerita yang sama”. Papar Della.

Acara yang didukung oleh cinema komunikasi, RPC, lab IK,  juga dihadiri oleh kawan-kawan penikmat teater dari universitas lain. Banyak pesan dan pengalaman yang didapatkan. “menarik dan menyiratkan moral value. Seperti didongenin di siang hari” kata Elsa Rosalia, mahasiswi Advokasi Kehutanan UGM.  (red)
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar