Standup Comedy dan Kritik Sosial


NO- Lawakan atau komedi menjadi hiburan yang sangat di gemari di tengah masyarakat Indonesia, banyak pelawak atau komedian baru yang lahir seiring berjalannya waktu. mulai dari panggung hiburan di media elektronik sampai pada panggung tradisional dengan berbagai jalur dan gaya yang berbeda pula.
Menyikapi fenomena Standup Comedy yang begitu masif di tengah masyarakat kita akhir akhir ini. Fajar Junaedi,S.Sos,M.Si, menilai Standup Comedy merupan fenomena “kritik sosial” ,dan ini bukan merupakan sebuah fenomena baru di tengah masyarakat Indonesia. dalam tradisi lokal atau oral masyarakat Indonesia, kita telah lebih dulu mengenal lawakan melalui ludruk (kesenian asli Indonesia),menurut dosen Ilmu Komunikasi UMY ini,Kamis (16/5).
jika ditarik kebelakang, komedi sebagai media kritik telah di pakai oleh pemain ludruk Cak Durasim pada masa pendudukan jepang. di masa itu Cak Durasim menyampaikan kritikannya dengan Parikan (pantun Jawa) yang berbunyi “Bekupon omahe doro, melok Nippon tambah soro” artinya bekupon rumah merpati, ikut Nippon tambah sengsara. Parikan tadi menyebabkan Cak Durasim di tangkap dan di eksekusi oleh tentara Kempetai Jepang.
Standup Comedy sering di sebut sebagai lawakan cerdas, dimana pemainnya yang biasa di sebut dengan Comic berdiri sendirian di atas panggung dan mulai melontarkan bahan bahan lawakannya dengan berbagai sudut pandang Comic itu sendiri.
 “Kemampuan untuk ngomong sendiri dan melucu itu sebenarnya sudah ada dalam tradisi lisan kita,di atas panggung pemain ludruk sering kali melakukannya, namun pada masa itu belum dikenal istilah yang sekarang disebut dengan standup comedy”, ungkap Fajar Junaidi.
dan menurut Fajar Junaidi, kenapa Standup Comedy begitu di gemari pada masa saat ini. terutama kalangan menengah ke atas, hal itu di sebabkan karena orang sudah cenderung bosan dengan lawakan yang ada pada masa sekarang, terutama yang di tayangkan di televisi. adegan adegan yang di tampilakan di televisi cenderung menampilkan kekerasan dan melecehkan kecacatan fisik, sementara masyarakat juga membutuhkan tontonan yang sehat.
Hal ini juga tidak terlepas dari sosio politis masyarakat kita, di masa Pra 1998 media media yang kritis itu menjadi media media “pilihan”,dengan kata kata yang sarkasme. dan setelah reformasi semua orang menjadi bebas mengkritik dan akhirnya juga menimbulkan kebosanan, karena media isinya hanya kritikan. dan ketika Standup Comedy lahir dengan kata kata kritikan yang menghibur. “itu menjadi sesuatu yang baru (out of the box) dan ini dapat di terima oleh masyarakat kita, terutama kalangan menengah. seperti mahasiswa, pemuda dan lain sebagainya”, tegas Fajar Junaidi. (nanda)
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

1 comments:

  1. gue udah daftar bro ...dari pada gak ada yg coment hehe sekali2 lewat ya di komen donk

    BalasHapus