MEDIA DALAM SISTEM DEMOKRASI Di Antara Hak dan Kewajiban


NO- Memperingati hari kebebasan pers dunia yang jatuh pada tanggal 3 Mei setiap tahunnya, LPPM Nuansa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) melaksanakan seminar dengan mengangkat tema “Media dalam Sistem Demokrasi” di ruang pertemuan gedung AR Fakhruddin B  UMY (4/5). Menghadirkan pemateri Ryan Wiedaryanto, news anchor Indosiar, dan Hendrawan Setiawan, Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) region Yogyakarta. Agenda ini adalah kelanjutan dari agenda aksi pada peringatan Hari Kebebasan Pers Internasional di Perempatan Tugu, Yogyakarta, Jumat (3/5) yang dihadiri  oleh perwakilan LPPM Nuansa UMY.
Menjadi penting bagi setiap pelaku jurnalistik untuk memahami secara keseluruhan posisi mereka dalam proses pengolahan kejadian  sosial menjadi produk media yang akan dikonsumsi oleh masyarakat. Karena jurnalis adalah pilar terbentuknya opini publik dengan tidak mengesampingkan hak para jurnalis sebagai pekerja. Dari hal tersebut lah tema “Media dalam Sistem Demokrasi” yang terlihat sederhada tetapi tak sesederhana maknanya di usung dan dilemparkan kepada para peserta seminar yang hadir dan memenuhi ruang pertemuan gedung AR Fakhruddin B  UMY.
“Lepas dari masa orde baru, keadaan para jurnalis masih sangat menyedihkan, proses peliputan dan pemberitaan masih terasa tidak bebas”. Ungkap Hendrawan saat memaparkan bagaimana kondisi dunia jurnalistik masa kini yang dia rasakan. Selaras dengan Hendrawan, Ryan pun mengatakan, “Ancaman seorang jurnalis terletak pada 2 hal, owner media tersebut dengan kepentingan-kepentingannya, dan pihak perseorangangn atau pun kelompok yang tidak puas dengan hasil pemberitaan”.
Dari hal tersebut lah pertanyaan besar tentang “kekebasan” masih terus diperdebatkan. Sejauh mana kebebasan tersebut dimiliki oleh para jurnalis dan kebebasan seperti apa yang dimaksud.  Karena  tidak jarang pun demi kesempurnaan pekerjaan, segala cara dilakukan demi memperoleh data dari narasumber yang  nota bene sering membentur hak-hak para narasumber. “Semakin dikasari narasumber tidak akan senang”, terang Ryan tentang bagaimana selayaknya para jurnalis memperlakukan narasumber.
Menelisik kembali terhadap hak para jurnalis dan tentu tidak terlepas dari kewajibannya menyajikan berita yang dikonsumsi masyarakat, pada sesi audiensi kepada para peserta seminar yang sangat antusias, memunculkan polemik-polemik menarik yang dipertanyakan para peserta yang sebagian besar adalah mahasiswa UMY dan sebagian lagi berasal dari lembaga pers universitas lainnya di Yogyakarta.
“Pers adalah pilar ke-4 dalam proses demokrasi, pers pun diketahui sejak  dulu menjadi bagian dari senjata politik, maka dari hal tersebut independesi seorang juirnalis berada di mana?” Tanya Wahyu, salah satu peserta seminar.
Menjawab pertanyaan mendasar bagi para setiap jurnalis tersebut, Ryan dengan lugas menggungkapkan keyakinannya bahwa independensi para jurnalis masih ada dan terjaga, walau sebelumnya Ryan telah memaparkan bahwa para jurnalis memiliki tekanan-tekanan yang besar baik berasal dari internal lembaga media tempat mereka bekerja atau pun dari masyarakat itu  sendiri. Tetapi dengan tetap mempercayai masih adanya independensi para jurnalis, menjadi kekuatan pula bagi dunia jurnalistik Indonesia yang digelutinya yang merupakan perpanjangan dari suara masyarakat.
Perkembangan media massa yang sangat pesat dewasa ini pun menjadi keuntungan sekaligus tantangan bagi para jurnalis untuk menempatkan loyalitas mereka. Munculnya istilah citizen journalism atau Jurnalisme warga, yang di mana masyarakat umum dengan sendirinya menjadi bagian dari proses pengumbulan data dari peristiwa yang sebagian besar mereka saksikan secara langsung serta berperan pula dalam proses publikasi melalui media sosial, dan blog pribadi. Sehingga menimbulkan pertanyaan pula apakah masyarakat kini kurang percaya dengan pemberitaan-pemberitaan yang ada di media massa sehingga mimilih mengolah berita mereka sendiri atau kah ini lah perkembangan dalam dunia jurnalistik itu sendiri.
Menjawab hal tersebut, Hendrawan menjelaskan bahwa segala berita yang diberikan kepada masyarakat adalah dinamika masyarakat itu sendiri, fenomena Jurnalisme Warga adalah fenomena yang baik yang dapat diartikan bahwa masyarakat semakin peka terhadap pentingnya suatu peristiwa itu untuk diberitakan dan menjadi informasi kepada  masyarakat yang lain. Tetapi yang tidak kalah pentingnya pun bahwa setiap memasuki rana publik, segala informasi memiliki pertanggung jawabannya. Dan informasi yang tidak benar adalah bentuk propaganda.
Sebelum menutup seminar, Ryan menambahkan bahwa semua pekerjaan memiliki resiko dan datu sandungannya masing-masing. Tidak terkecuali dunia jurnalistik. Tetapi dengan plus minus yang dimilikinya jurnalisme adalah batu loncatan yang besar untuk memahami masyarakat.
Di lain tempat, Ahlul Amalsyah selaku Pimpinan Umum LPPM Nuansa UMY memaparkan,“Di balik kebebasan pers ada pula kebebasan pihak lain, melalui seminar “Media dalam Sistem Demokrasi”, dengan menghadrikan pihak-pihak yang kompeten, LPPM Nuansa UMY berusaha untuk berbagi kepada para kawan-kawan mahasiswa untuk lebih memahami dunia jurnalistik itu sendiri, dan bagaimana sebenarnya mereka berupaya untuk memberikan infornasi yang terkini dan akurat bagi masyarakat. Kebebasan adalah hal muklak yang dibutuhkan tetapi dengan aturannya sendiri demi tercapai keselarasan bagi setiap pihak”. Ungkap Ahlul Amalsyah mengenai tujuan yang ingin dicapai pada seminar dalam Memperingati Hari Kekebasan Pers Dunia tersebut. (jey)
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar