Indonesia Tak Boleh Tunduk Terhadap Rezim Neo-Lib


NO- Alasan saya menulis buku ini adalah, wujud dari kegelisahan dari tunduknya negara kita Indonesia pada rezim Neo- Liberal. Selain itu tulisan ini bertujuan untuk memberikan gambaran pendisiplinan politik, pendisiplinan ekonomi dan menyusun suatu formulasi atau tatanan negara lebih baik lagi. Sehingga kondisi politik ataupun ekonomi di Indonesia semakin baik dan menjadikan rakyat sejahtera.
Hal tersebut disampaikan oleh Ade Marup Wirasenjaya, S.IP, M.A, dalam Diskusi Buku “Negara, Pasar dan Labirin Demokrasi” yang diadakan oleh Laboratorium Hubungan Internasional UMY, Rabu (29/5). Diskusi Buku yang dipandu oleh M. Faris Al Fadhat, S.IP, M.A tersebut, dihadiri juga oleh Dr. Zuly Qodir dan Winner Agung Pribadi, S.IP, M.A sebagai pembedah buku.
Ade Marup selaku penulis buku menerangkan, dibukanya privatisasi dan dikuasainya pasar oleh asing, setelah itu kesenjangan ekonomi berlangsung secara luas. Sebenarnya terjadi pada pemerintahan Presiden Mega Wati Soekarno Putri, sehingga pemerintah Indonesia selanjutnya terjebak dalam sistem yang sudah terjadi. “yang perlu menjadi sasaran kritik menurut saya Presiden Mega, bukan Presiden SBY. Karena dizaman Mega Neo- Lib diberikan kebebasan untuk menguasai pasar”, terang penulis buku Negara, Pasar dan Labirin Demokrasi ini.
Ade juga menjelaskan bahwa, globalisasi tidak dapat ditolak, akan tetapi dapat doikontrol. Selain itu, globalisasi harus diikuti oleh kekuatan negara, terkhusus di Indonesia. Jika tidak diiringi kekuatan negara yang tangguh, maka akan terjadi tsunami sosial yang melanda Indonesia seperti naiknya harga BBM. Serta di Indonesia, pendalaman demokrasi belum dijalankan, jadi inilah yang disebut dengan labirin demokrasi. “karena demokrasi belum sampai keujung dan berputar disuatu tempat, itulah yang saya maksud labirin demokrasi”, jelas Ade Marup.
Sedangkan Winner Agung selaku pembedah buku, menerangkan penyebab terjadinya carut marut ekonomi dan demokrasi di Indonesia. Disebabkan faktor perubahan relasi (hubungan) antara negara dan pasar, yangmana negara seharusnya membentuk pasar, akan tetapi pasar lah sekarang yang menentukan politik negara. Selain itu, pemimpin politik di Indonesia cendrung anakonis dan kurang kreatif. “karena anakonis ini juga menghambat pertumbuhan ekonomi di Indonesia. anakonis yaitu selalu menggunakan isu lama yang tidak relevan lagi untuk mengatasi masalah kekinian”, terang pakar ekonomi politik UMY ini.
Pembedah buku lainnya, Zuly Qodir  memberikan analogi, bahwa orang yang menulis karena ada kegelisahan dalam dirinya. Baik itu menulis lagu, puisi, cerpen dan lainnya disebabkan karena kegelisahan tersebut. “karena ada kegelisahan akan kebobrokan politik dan ekonomi di Indonesia lah, Ade Marup menulis buku ini,jadi menulis dimulai dari kegelisahan”, katanya.
Zuly Qodir juga menjelaskan, demokrasi di Indonesia hanya sekedar perayaan lima tahun sekali (ritual elektoral). Tidak menyelesaikan masalah kesejahteraan rakyat, dan juga tingkat kemiskinan dikaburkan oleh globalisasi dan demokrasi, karena ukuran dari standar miskin adalah pendapatan 7.500 Rupiah per hari. Jika disesuaikan kebutuhan perhari 20.000 Rupiah, maka angka kemiskinan sangat tinggi di Indonesia. Selain itu, menjamurnya pasar modern atau pusat pembelanjaan dan menyingkirkan pasar tradisional. “gara- gara indomaret, alfamart danlainnya, bakul- bakul rakyat babak belur”, ujar pengamat politik ini. (syah)
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar