Istiqomah Dengan Perpustakaan Keliling


NO- Untuk membuat suatu perubahan diperlukan ilmu pengetahuan, dan sumber ilmu pengetahuan itu adalah buku. Melalui buku juga diharapkan wawasan keilmuan masyarakat lebih terbuka.Sehingga terbentuk masyarakat yang cerdas dan paham akan perkembangan ilmu pengetahuan. Hal itulah yang kemudian menggerakkan Agung Nugroho untuk mendirikan Pustaka Keliling Adil.
Pustaka Keliling Adil lahir ditengah kondisi minat baca masyarakat Yogyakarta yang rendah. Dimana masyarakat memang membutuhkan perubahan baru dibidang literasi. Melalui tangan seorang Agung Nugroho dan dorongan dari Alm. Fauzan Al Farouki, motivator sekaligus inspirator bagi beliau. Maka pada 24 April 2003 lahirlah Taman Bacaan Masyarakat (TMB) Pustaka Keliling Adil.
Bapak dari dua orang putra dan putri ini memulai perjuangannya melalui kegiatan berbasis masyarakat. Beliau membuat kelompok – kelompok usaha kecil yang kemudian diberi modal dan pembinaan. Kelompok usaha itu semakin berkembang seiring berkembangnya Pustaka Keliling Adil. Dalam perjalanannya yang hampir memasuki tahun ke 10 ini, berbagai suka duka beliau lewati. Mulai dari fitnah dan sikap apatis masyarakat yang membuat perjuangannya seolah tidak berarti. Akan tetapi semua itu tidak menyurutkan perjuangan beliau. “Tapi yang namanya perjuangan kan tidak berhenti sampai disitu. Tetap bagaimana masyarakat itu bisa dirubah. Jadi tidak pernah ada kata berhenti bagi saya.” Tutur beliau dengan optimis.
Keikhlasan adalah salah satu modal bapak kelahiran Jakarta ini dalam meniti perjuangannya. Melakukan pelayanan kepada masyarakat yang  belum meiliki kesadaran bukanlah hal yang mudah. Akan tetapi berkat ketekunannya, perjuangan Agung mulai mendapat perhatian dari masyarakat. Sampai pada 2009 ia mulai mendapatkan relawan yang ikut membantu perjuangannya. Mayoritas relawan yang bergabung dengan pustaka adil adalah mahasiswa perguruan tinggi di Yogyakarta. Cerita tentang perjuangan seorang Agung Nugroho mampu menginspirasi orang – orang disekitarnya untuk berjuang bersamanya. Sampai sekarang ada lima mahasiswa yang setia membantu perjuangannya.

Taman Pendidikan Al Quran Untuk Lansia
Selain berkegiatan lewat taman bacaan, Agung juga membuka Taman Pendidikan Al Quran untuk Lanjut Usia (TPA Lansia). Agung menyadari bahwa lansia adalah bagian dari komunitas masyarakat yang tidak bisa diabaikan. Ketika seseorang sudah melewati masa produktifnya seolah ia terlupakan. Padahal ia masih mampu berperan ditengah – tengah masyarakat. Maka pada 2012 lalu ia membuka TPA Lansia di rumahnya yang sekaligus taman bacaan.
Setiap hari Kamis sore para Ibu – Ibu lansia berdatangan kerumahnya. Ibu – ibu lansia yang belajar baca tulis Al – Quran umumnya berasal dari sekitar rumahnya. Bersama relawannya ia mengajar baca tulis Al – Quran dan bimbingan agama. Karena bimbingan keagamaan juga sangat diperlukan bagi para lansia dalam menjalani masa tua mereka.
Melihat semangat para lansia itulah yang kemudian menjadi motivasi tersendiri bagi Agung dan volunteernya. Bagaimana para lansia yang seharusnya sudah beristirahat di rumah, justru sangat bersemangat untuk datang ke rumah Agung.

Makna Keluarga
Sosok keluarga begitu penting dalam diri Agung. Karena keluargalah yang membuat dia bertahan sampai sejauh ini. “Dikala orang lain menjauh, keluargalah yang ada didekat kita”, kata beliau. Sebesar apapun motivasi dalam diri seseorang, jika tidak ada keluarga dibelakangnya pasti ia tidak akan bertahan. Hal inilah yan kemudian disadari oleh beliau. Sehingga ia menempatkan keluarga pada posisi yang tinggi. Cinta dan kasih sayang, seperti itulah beliau mendiskripsikan keluarga.
Disela – sela waktu istirahatnya, ia selalu menyempatkan diri untuk bercengkrama denga kedua orang anaknya. Tingkah lucu kedua anaknyalah yang menjadi penghilang lelah baginya setelah bekerja dan menjalankan perpustakaan kelilingnya. Setiap usai bekerja sebagai guru, ia mulai mengemudika motor ruda tiga yang ia modifikasi menjadi perpustakaan keliling.

Harapan Bagi Remaja
Agung menaruh harapan yang sangat besar bagi generasi muda saat ini. Karena pemuda adalah aset bangsa yang berharga. Jika moralitas pemuda suatu bangsa telah hancur, maka bangsa itu juga akan hancur.  “Saya berharap bagi generasi yang akan datang bisa menjadi generasi robbani, itu yang terpenting”, terangnya.
Selain itu ia juga berharap generasi muda mampu menjadi manusia yang cerdas secara moral maupun intelektual. Karena kecerdasar secara intelektual saja tidak cukup. Harus diikuti dengan moralitas yang baik. Jika tidak, maka akan berpotensi destruktif.
Namun apa yang terjadi saat ini rasanya masih jauh dari harapan seorang Agung Nugroho. “Saya tidak melihat anak muda yang memiliki cita – cita besar untuk membuat suatu perubahan”, Terangnya. Menurut Agung, generasi muda saat ini cenderung suka dengan hal – hal yang bersifat glamour. Sikap seperti inilah yang menutup mata mereka terhadap realitas sosial yang ada.
Namun beliau sangat mengapresiasi terhadap anak muda yang mau mengabdikan dirinya untuk masyarakat. Yang harus dimiliki anak muda terutama yang mengabdikan diri kepada masyarakat adalah sikap istiqomah (berkelanjutan). “Yang terpenting adalah istiqomah, dan lakukan atas dasar niat yang baik”, Terangnya. Selain dua hal tadi yang tidak kalah penting adalah kemauan untuk  memulai. “Lakukan dari yang terkecil. Jangan terlalu besar, dan lakukan perubahan itu dari diri sendiri.” Tambahnya. (Nanang)
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar