Bukan Mahasiswa Kupu-Kupu

NO- Kupu-kupu atau kuliah-pulang, kuliah-pulang adalah istilah yang sudah umum di kebanyakan mahasiswa dewasa ini. Istilah yang disematkan kepada mahasiswa yang melakukan kegiatan monoton dengan hanya masuk ke kelas tanpa diwarnai berbagai aktivitas lain yang sebenarnya telah difasilitasi oleh kampus.
Walau pun demikian, tidak sedikit mahasiswa yang kini aktif dalam berbagai organisasi kampus. Bahkan tak dipungkiri telah banyak pula mahasiswa yang kini mengisi agenda mereka di tempat-tempat di luar kampus, di mana mereka bisa mengubah letih dari segudang aktifitas perkuliahan menjadi ajang peningkatan skill dan pengabdian kepada masyarakat.
Tidak hanya dengan membawa nama personal, mereka pun juga ada yang membentuk kelompok atau komunitas dengan konsentrasi isu yang berbeda-beda, sesuai keahlian dan kebutuhan masyarakat yang mereka dampingi.
”27 Maret 2011 GKM (Gerakan KAMMI Mengajar) diformalkan dengan adanya momentum erupsi merapi yang semakin mendorong kawan-kawan untuk mengajar TPA dan PAUD di cangkringan, kerana sebenarnya sebelum momen tersebut, beberapa kawan sudah ada yang mengajar di sana. Memilih 2 bentuk pengajaran tersebut pun karena kita memandang pembekalan agama sangatlah penting dan dari usia belia lah pembengkalan tersebut selayaknya diberikan”. Papar Lina salah satu mahasiswa UGM yang aktif mengajar bersama GKM.
Di lain tempat, berbagai macam pengabdian yang para mahasiswa lakukan semaki menggurita, mulai dari mengajar anak-anak jalanan, mengajar baca tulis al-quran para lansia, mengajarkan keahlian para ibu rumah tangga untuk melakukan usaha sederhana dan menguntungkan, serta lain sebagainya. Yang di mana setiap kegiatan tersebut salut untuk diacungi jempol.
Berbagai alasan pun yang mendorong mereka untuk ikut andil dalam agenda sosial tersebut. Baik itu demi nilai ibadah, amal, dan rasa peduli pada sesama. Sehigga kesibukan di kampus bukanlah hambatan mereka untuk tidak mengabdi kepada masyarakat, meski tanpa bayaran mereka tetap dengan senang dan rendah hati untuk saling membantu dan berbagi ilmu. Jarak yang jauh pun bukan lagi menjadi persoalan yang berarti
Seperti mata uang yang memiliki dua sisi, apresiasi terhadap kegiatan mahasiswa ini pun acap kali mendapat pandangan negatif dari beberapa masyarakat.  Mereka mengaku bahwa tak sedikit masyarakat yang meremehkan aksi mereka, namun mereka tetap istiqomah, toh antusias positif dari masyarakat juga tak kalah lebih besar.
”Melihat antusias dan semangat masyarakat yang luar biasa adalah alasan kami mengapa kami tetap bertahan seperti sekarang ini. Mudah-mudahan mereka tak pernah jenuh dengan kami, karena bagi kami mengabdi adalah kegiatan yang dicintai Tuhan.” Ungkap Rapi, salah satu relawan pengajar baca Alquran para lansia di barat Stasiun Lempuyangan Yogyakarta. (Fhara/Jey)
*telah dimuat di SWAKA KR
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar