Penerapan Demokrasi di Korea Selatan Semakin Baik



Kemenangan tipis Park Guen Hye dari pengacara hak asasi manusia, Moon Jae-in dalam pemilihan Presiden Korea Selatan (Korsel) menunjukkan demokrasi berjalan dengan baik di Korsel. Perolehan suara tipis menunjukkan bahwa adanya persaingan sengit dan seimbang antara dua calon yang berhadapan, sehingga kedua calon Presiden tersebut sangat berhati- hati dalam mengambil tindakan. Jika seorang calon Presiden mendapat suara dominan dari saingannya, maka dapat disimpulkan bahwa demokrasi tidak telalu bagus di negara tersebut.

Begitulah tanggapan awal Guru Besar Ilmu Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (HI UMY) Prof. Tulus Warsito saat di wawancarai, kamis (27/12) tentang terpilihnya Park Guen Hye sebagai Presiden Korea Selatan yang baru.

Prof. Tulus mengatakan bahwa negara yang demokrasinya tinggi akan memberikan kesempatan yang sama pada setiap warga negaranya untuk berkreasi. Sehingga ketimpangan kekuasaan atau satu orang yang menguasai tidak akan ditemui di negara demokrasi. “negara demokrasi itu bukan negara yang dikuasai oleh satu orang yang berkuasa (diktator). Dengan perolehan suara tipis di pemilihan Presiden Korsel, menunjukkan bahwa mereka calon Presiden sama kuat, sehingga korsel sekarang mengalami peningkatan nilai demokrasi” kata Profesor Tamu di Universitas Utara Malaysia ini.

Konsep demokrasi dapat dianalogikan sebagai suatu pertandingan, yangmana pertandingan tersebut berjalan dengan sengit dan tidak dapat ditebak hasil siapa yang menang atau yang kalah. “ jika suatu pertandingan dapat dilihat hasilnya dengan mudah, berarti itu bukanlah demokrasi yang sesungguhnya. Karena demokrasi tidak mudah untuk ditentukan siapa pemenangnya” ujar guru besar HI UMY ini.

Menurut Prof. Tulus, hubugan Korsel dibawah Presiden Park dan Korea Utara (Korut) nantinya akan berjalan baik.”jika dilihat hubungan Korsel dan Korut nantinya bisa membaik, karena Presiden Park nampaknya mencoba untuk menjalin kerjasama dan memberikan bantuan pada Korut. Selain itu masyarakat Korsel atau Korut tidak mempermasalahkan lagi kejadian buruk masa lalu” jelas penulis buku “Nosajeong” ini.

Prof. Tulus juga menjelaskan bahwa Korsel dibawah Presiden Park akan tetap menjadi sekutu utama Amerika Serikat (AS), karena hubungan AS dan korsel telah terjalin begitu kuat dari dulunya. “terpilihnya Park Guen Hye pun tidak terelak dari bantuan ataupun dukungan dari pemerintah Amerika Serikat” jelasnya. (Syah)
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar