Feminisme Merupakan Pola Pikir Radikal



Feminisme menjadi suatu hal yang sangat menarik untuk dipelajari, karena feminisme menawarkan cara berpikir yang kritis, bahkan radical. Untuk itulah dalam banyak pola pikir di kajian hubungan internasional, kajian yang laku dikaji adalah kajian yang berani keluar dari kebiasaan dan menawarkan suatu hal yang ekstrem.

Pernyataan yang disampaikan oleh guru besar Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (HI UMY) Prof. Dr. Tulus Warsito dalam diskusi “Feminisme dalam Studi HI: Sejarah, Skop, dan Keterbatasan Analisis” di ruang simulasi sidang HI UMY, Selasa (26/2). Diskusi tersebut juga dihadiri oleh Dr. Nur Azizah selaku aktivis perempuan dan sekaligus dosen HI UMY, serta Adde Ma’aruf, S.IP, M.A sebagai moderator.

Prof. Tulus mengatakan issue di marginalkan atau terpinggirkannya perempuan yang dikemukakan oleh feminisme sebenarnya telah diangkat oleh Islam. Dulunya posisi dan hak perempuan yang tidak terlalu di perhatikan, islam dengan ajarannya mengatakan surga berada di bawah telapak kaki ibu. Sehingga posisi perempuan setara dengan laki- laki, adapun yang membedakan posisi seseorang dalam islam yaitu taqwa atau tingkat keimanan pada tuhan. “sebenarnya issue terpinggirnya perempuan ini lebih dahulu di angkat oleh Islam, sehingga dalam posisi perempuan itu sama seperti laki- laki,” kata penulis buku Nosajeong ini.

Sedangkan Nur Azizah mengatakan bahwa lahirnya feminisme karena adanya kesadaran akan penindasan atas perempuan. Feminisme ini bertujuan untuk mengubah kedudukan laki- laki atas perempuan, yangmana laki- laki melakukan sub-ordinasi (menekan) pada perempuan.”feminism itu bertujuan untuk menghilangkan sub-ordinasi laki- laki terhadap perempuan. Sub-ordinasi tersebut merupakan saudaranya diskriminasi,” jelas aktifis perempuan ini.

Nur juga menjelaskan bahwa feminisme juga membantu dalam dunia internasional, salah satunya menghindarkan perang antar negara. Jika negara dunia dikuasai oleh sifat maskulinitas, maka perang tidak dapat di hentikan, karena sifat maskulin sangat suka terhadap kekerasan. “dengan adanya feminism tersebut dapat menghilangkan perang antar negara dunia, karena feminism tidak suka akan sifat kekerasan,” ujarnya.

Dari pemaparan Prof. Tulus, perang antar negara bangsa di dunia disebabkan oleh nafsu akan kekuasaan, karena tatanan dunia sekarang sangat mementingkan kekuasaan. Siapa yang mempunyai uang atau status sosial yang tinggi, maka dialah yang akan menguasai dunia. “gender tak harus jadi patokan perdamaian dunia, dapat kita lihat contohnya Margaret Tatcher, Jeanne Kirkpetrick memanfaatkan kekuatan negara dalam menyelesaikan konflik atau tokoh dalam The Iron Lady dapat juga jadi contoh,” paparnya.

Prof. Tulus juga menjelaskan bahwa dalam mengkaji suatu ilmu lebih baik menggunakan banyak pendekatan atau pola pikir, serta tetap berpikir kritis terhadap suatu hal. “dalam mendalami suatu hal jangan pakai kaca mata kuda yang cuma satu arah, tapi coba pendekatan lainnya juga,” jelasnya. (syah)  




Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar