BUNG KARNO DAN MARXISME



Salah satu tuntutan bagi kaum revolusioner adalah sifat terus terang, sifat berani mengatakan apa yang harus dikatakan, mendumuk apa jang harus didumuk.” (Soekarno)

Revolusi, istilah yang sering disebut-sebut oleh Bung Karno dalam pidato-pidatonya, inilah yang perlu orang perhatikan jika mendengar pidato-pidaato Bung Karno. Istilah REVOLUSI, ditambah REVOLUSI TAHAP KEDUA, maksudnya tahap SOSIAlIS. Jika mengutip apa yang dikatakan seorang Marxis, Prof. Dr. Herberth Marcuse, “Revolusi adalah penggulingan kekuasaan pemerintah yang sah serta penghapusan konstitusi pemerintah oleh kelas Sosialis yang bertujuan mengubah struktur politik masyarakat.”

Iniliah yang menyebabkan perdebatan antara Soekarno dan Hatta setelah melewati fase kemerdekaan nasional. Hatta menganggap bahwa revolusi sudah selesai. Setelah kemerdekaan, adalah saatnya untuk membangun . Bung Karno tidak sependapat dengan Hatta. Revolusi belum selesai. Revolusi tahap kedua, Revolusi Sosialis (yang hingga kini belum tercapai). Revolusi jalan terus, kata Bung Karno.

Pada 21 Februari 1957, Bung Karno mengeluarkan konsepsi presiden. NASAKOM, DEMOKRASI TERPIMPIN, yang diidentikkan dengan DEMOKRASI RAKYAT. Demokrasi Rakyat Bung Karno adalah pencocokkan Demokrasi Proletar (Demokrasi Rakyat Pekerja), yakni adalah istilah kaum Marxis untuk menyebut negara Sosialis, seperti juga yang dilakukan di Uni Soviet, Kore Utara, RRC, dan Vietnam (pada waktu Perang Dingin). Negara-negara komunis tersebut, pada waktu Perang Dingin tetap memakai istilah Sosialis, bukan Komunis. Karena revolusi tahap komunis adalah selanjutnya, setelah melewati fase sosialisme, demikian dari kacamata materialisme historis Karl Marx. Di fase komunisme lah baru akan terjadi the withering away of the state, satu dunia tanpa pemerintahan, tanpa hak milik alat produksi atas individu. Suatu fase yang tidak ada penindasan manusia atas manusia. Sama-rata sama-rasa. Dunia kolektif, gotong-royong. Itulah mengapa hingga kini, fase komunisme dikatakan utopia. Maka dari itu Bung Karno berkata, “Gantungkanlah cita-citamu setinggi langit.”

Bung Karno ingin mencapai cita-citanya, yakni revolusi tahap kedua, tahap sosialis. Dalam Manifesto Politik (MANIPOL), dikatakan bahwa ada dualisme yang terjadi dalam negara Indonesia, yaitu: antara pemerintah dan pimpinan revolusi, antara revolusi belum selesai dan revolusi sudah selesai. Maka, untuk menuju revolusi tahap kedua yang direncanakan Bung Karno, dirombaklah sistem pemerintahan Demokrasi Liberal menjadi Demokrasi Terpimpin, Demokrasi Rakyat.

Telah diketahui mengapa Bung Karo mengubah sistem pemerintahan menjadi Demokrasi Terpimpin. Pertama, karena adanya dualisme dalam negeri, dan merencanakan revolusi tahap kedua. Dengan revolusi jalan terus itu, berarti dari Revolusi Nasional menuju ke Revolusi Sosial. Bisa dikatakan, pertama-tama menjebol Demokrasi Liberal lalu membangun Demokrasi Terpimpin, baru kemudian menggalang persatuan rakyat, sinkronisasi bangunan poltik dan sosial. Revolusi dapat terjadi ketika dialektika mencapai klimaksnya, ketika kuantitas (kontradiksi dan negasi) telah mencapai konsentrasi yang berkualitas (lonjakan kuantitatif ke kualitatif). Dalam konsep perjuangan kelas, klimaksnya (atau sintesisnya) adalah revolusi.
Bung Karno mengatakan,
Sedjak saja sebagai anak pelontjo buat pertama kali beladjar kenal dengan teori Marxis dari mulutnja seorang guru HBS jang berhaluan sosial demokrat (C. Hartogh namanja) sampai memahami sendiri teori itu dengan membatja banjak-banjak buku Marxisme dari semua tjorak, sampai bekerdja di dalam actieve politik, sampai sekarang maka teori Marxisme bagiku adalah satu-satunya teori jang kompetent buat memetjahkan soal-soal sedjarah, soal-soal politik, soal-soal kemasjarakatan.” (Roeslan Abdulgani, Sosialisme Indonesia, 26)
Selanjutnya, Dr. Tjiptomangunkusumo menulis dalam Hong Po tahun 1941, bahwa “Marxisme adalah membakar Sukarno punja djiwa”, kemudian Bung Karno menjawab dalam surat kabar Pemandangan tahun itu juga, “Saja mengutjap terima kasih atas kehormatan jang Dr. Tjipto limpahkan atas diriku itu. Memang.”

            Berikut perkataan Bung Karno pada HUT PKI ke-45 di Gelora Senayan 1965, “Saja adalah Marxis...bagaimana orang dapat melarangku.”  Dalam TAVIP, 17 Agustus 1964, Bung Karno mengatakan, “ ...aku kenal Amanat Penderitaan Rakjat, karena aku kenal situasi, dan karena aku kenal ilmu yang kompeten, yatiu Marxisme.” (TAVIP , hlm. 16). Dan di halaman 17 dikatakan, “Salah satu tjiri daripada orang betul-betul revolusioner adalah satunya kata dengan perbuatan, satunya mulut dengan tindakan.” Kemudian di halaman 32 beliau mengatakan, “ Sekarang bukan sadja Tiongkok Rakjat, sudah membangun sosialisme di Asia, tetapi djuga Korea Rakjat, dan juga Vietnam Rakjat..., juga Indonesia membangun Sosialisme di Asia....” Cukup jelas, bahwa Bung Karno adalah Marxis, seperti tokoh-tokoh besar lainnya yang sezaman anti kolonial(isme) dan kapitalisme.

Mengenai Marhaenisme, yaitu ajaran Bung Karno, suatu ajaran revolusioner, ajaran perjuangan untuk melawan penindasan. Marhaenisme diidentikkan dengan NASAMARX (Nasionalisme-Agama-Marxisme), yaitu het in Indonesia toegepaste Marxisme (Marxisme yang diterapkan di Indonesia). “Bahwa dalam perjuangan kaum Marhaen, kaum proletar megambil bagian yang besar sekali. Sebab kaum proletarlah yang pertama-tama mengerti tentang segala-galanya kemodernan sosio-demokrasi dan sosio-nasionalisme. Nah, saya berkata, Marhaenisme adalah Marxisme yang diselenggarakan, dicocokkan, dan dilaksanakan di Indonesia.” (Di Bawah Bendera Revolusi Jilid I, ‘Marhaen dan Proletar). Maksudnya bahwa kaum proletar mengambil bagian yang besar, menjadi pelopor. Marhaenisme itu radikal dan cukup untuk menggerakkan massa aksi. Kelak Marhaenisme itu beliau identikkan dengan Pancasila. “NASAKOM adalah wajah kekuatan bangsa Indonesia yang sudah saya lihat dan tulis sejak tahun 1926.” (NAWAKSARA). Jadi Marhaenisme identik dengan Marxisme yang diterapkan di Indonesia, identik pula dengan Pancasila, berarti identik juga dengan NASAKOM.

Bung karno sebagai Marxis, membagi teori revolusinya dalam dua tahap: Yaitu tahap nasional-demokratis, dan tahap sosialis. Tetapi, Bung Karno sebagai Marxis seperti halnya Lenin, Fidel Castro, Ho Chi Minh maupun Mao Tse Tung, menyesuaikan teori Marxis dengan kondisi nasionalnya. Dalam perjuangan dan kepemimpinan nasional, Marxisme dipegang dengan teguh oleh Pemimpin Besar Revolusi, Soekarno. “Ukurlah pemimpin-pemimpinmu. Ukurlah orang-orang. Ukurlah siapa saja terutama perbuatannya. Kalau perbuatannya njeleweng, tendanglah mereka itu dari kalangan kita!” (Bung Karno).


Oleh, Tengku - Mahasiswa HI UMY
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar