Penantian Sebuah Kekuatan Menjaga



“Bila belum bersedia melangkah lebih jauh dengan seseorang, cukup cintai ia dalam diam...”
“Karena diammu adalah salah satu bukti cintamu padanya...”
“Kau ingin memuliakan dia, dengan tidak mengajaknya menjalin hubungan yang terlarang”.
“Kau tidak ingin merusak kesucian dan penjagaan hatinya..”
“Karena diammu memuliakan kesucian diri dan hatimu...”
“Menghindarkan dirimu dari hal – hal yang akan merusak izzah dan iffahmu...”
“Karena mungkin saja orang yang kau cintai adalah juga orang yang telah Allah SWT pilihkan untukmu...” seorang ustadz menutup ceramahnya pada Kajian Kamis Sore Intensif (KaKaSI) di Masjid kampus Islam ternama di Jogja.

Tema yang diangkat pada kajian sore iniadalah ‘Pacaran Dalam Kacamata Islam’. Tema ini menjawab kegalauan para pemuda – pemudi Islam yang sedang dilanda asmara. Termasuk Azzam yang dari tadi masih terjaga dari duduknya,bersandar pada salah satu tiang masjid tersebut. Hatinya sedang bergejolak. Seperti ada sesuatu yang membuat dirinya harus berfikir keras. Ada perasaan – perasaan aneh dalam hatinya. Dia teringat kejadian yang dialaminya satu tahun yang lalu ketika pertama kali melihat sosok wanita muslimah yang sampai saat ini masih megganggu hati dan pikirannya. “Apakah ini yang disebut dengan jatuh cinta?” bisik Azzam dalam hati.
Yaahh... dia sedang jatuh cinta pada seorang wanita shalihah. Namanya Zahra. Satu fakultas dengannya tapi beda jurusan. Azzam di Komunikasi Penyiaran Islam, sedangkan Zahra di Pendidikan Agama Islam. Mereka hanya terpaut satu tahun. Azzam semester empat sedangkan Zahra baru semester dua.
Mereka saling mengenal sejak satu tahun yang lalu ketika Azzam masih semester tiga, dan Zahra semester satu. Tepatnya ketika mereka sedang mengikuti KaKaSI juga. Pada saat itupandangan mereka bertemu ketika Zahra mengajukan pertanyaan kepada seorang ustadz yang sedang mengisi kajian tersebut. Seketika rona wajah Zahra yang putih langsung berubah kemerah – merahan karena dia sadar ada seseorang yang sedang memandangnya. Tetapi zahra tidak tahu siapa dia. Mereka saling memandang dan Subhanallah Allah menebarkan benih – benih cinta diantara keduanya.
Azzam sedang merasakan apa itu yang namanya jatuh cinta. Mengagumi sesosok yang sering membuat pikirannya tertuju pada Zahra. Saat dia ada, mungkin hatinya berdecak kagum, namun ekspresinya berdecak biasa. Disitulah bentuk pengendalian yang sesungguhnya, dimana hati dan ekspresi berbeda. Dan itu akan terungkap hingga Azzam benar – benar siap untuk menjadi halal.
Galau. Yahh.. itulah yang sedang di rasakan oleh Azzam. Sebuah kata yang muncul menjadi sebuah tren saat ini, dan tidak disangka itulah kata yang mewakili saat hati dan pikirannya sedang kacau. Selama ini dia mencintai Zahra hanya dengan diam karena dia tahu diamnya adalah salah satu bukti cintanya pada Zahra.
“Zam....!!” tiba – tiba Afif datang menepuk pundaknya dari belakang.
“Astaghfirullah..!!” sontak Azzam kaget dan membuat tubuhnya sedikit terjingkrak.
“Afif..!! datang – datang bukannya beri salam malah ngagetin, nggak bagus kebiasaanmu itu..!! kamu harus menghilangkannya..!!” kesal Azzam dengan nada agak tinggi memarahi Afif.
Afwan sob, emang tadi tak sengaja, hehehe... Lagian siapa suruh ngelamun sore – sore, sendirian, udah mau maghrib pula” jelas Afif sambil pasang muka memelas minta maaf dan duduk disebelah Azzam.
“Siapa yang ngelamun? Tadi aku hanya mikirin......” Azzam menelan ludah, kata – katanyaterhenti kemudian menggantung di langit – langit.
“Ayo... mikirin siapa? Aku tahu.. udahlah jangan terlalu difikirkan kalau kamu emang sudah mantap langsung nikahin aja.. nanti diambil orang, hehehe” ledek Afif sambil menyenggol – nyenggol tubuh Azzam dengan pundaknya.
“Ngomong si mudah, tapi jalaninnya yang sulit! Udah ah.. aku mau ambil wudhu bentar lagi mau adzan.. kamu puasa nggak?” Azzam berlalu meninggalkan Afif sendirian.
“Ehh,, tungguin... aku tadi pagi lupa nggak bangun untuk sahur, hehehehe” Afif berlari mengejar Azzam menuju tempat wudzu, senyumnya mengembang. Sedangkan Azzam masih mengingat perkataan si Afif bahwa dia harus segera melamar Zahra.

Pagi ini Azzam sudah rapi dan siap untuk berangkat ke kampus. Dia terlihat ganteng dengan pakain hem lengan panjang berwarna abu – abu bermodel garis – garis rapat di setiap sudut bajunya. Celana kain hitam dipadu dengan sepatu kesayangannya berwana coklat sangat cocok dengan postur tubuhnya.Wajahnya sangat cerah seperti ada cahaya yang menerangi wajahnya. Azzam mengayuhkan sepedanya dengan santai menyusuri jalan setapak belakang kampus. Karena jam di tangannya baru menunjukkan pukul 06.45, jadi masih ada waktu untuknya menghirup udara segar pagi ini. Belum banyak mahasiswa yang berlalu – lalang di jalan ini, hanya ada beberapa yang mungkin sama jadwalnya dengan Azzam.
Tiba di depan kelas hanya ada empat orang saja disana. Azzam kembali melihat jam tangannya. Sudah menunjukkan pukul 07.05 “Tidak seperti biasanya Bu Nur datang terlambat” gumamnya dalam hati.
“Dik kamu lihat Afif?” tanya Azzam pada Sodik yang dari tadi asyik ngbrol dengan teman ceweknya.
“Haa? Apa? Afif, emmm... aku nggak tahu Zam..” jawab Sodik tiba – tiba bingung.
“Dia nggak sms?” tanya Azzam lagi sambil mendekati Sodik.
“Nggak” jawab Sodik sekenanya.
HP Azzam bergetar tanda ada sms masuk dari Afif.
“Temen – temen hari ini libur krn Bu Nur lagi ga’ enak badan :D maaf baru sms aq baru buka HP soalnya, hehehe :p”
Azzam dan anak – anak disitu serempak mengucapkan “yaahhh” mereka langsung milih untuk pulang ke kos. Tapi Azzam langsung merubah rencananya untuk hari ini. Setelah ini dia mau ke perpustakaan mencari referensi buku untuk tugas makalahnya.
Tenyata wanita yang selama ini mengganggu hati dan pikirannya sedang berada di perpustakaan. Zahra terlihat sangat cantik memakai gamis berwana biru muda. Wajahnya dibalut kain panjang sampai kebahunya sehingga wajahnya terlihat bersinar. Dia sedang membolak – balik buku. Azzam tetap memasang ekspresi biasa, tapi hatinya berdecak kagum. Jantungnya berdetug kencang.
Azzam memberanikan diri untuk mendekati Zahra.
“Assalamu’alaikum” Azzam menyapa Zahra dengan lembut.
“Wa’alaikumussalam” spontan Zahra menjawab dan mendongakkan wajahnya. Tiba – tiba rona wajah putihnya kembali berubah menjadi kemerah – merahan, kemudian Zahra langsung menunduk karena malu atas perubahan rona wajahnya.
“Lagi nyari buku apa Ra?” tanya Azzam sambil ikut memilih buku – buku yang ada di depannya.
“Emmm... lagi nyari buku tentang pendidikan mas. Mau buat referensi makalah” jawab Zahra dengan sedikit malu.
“Lha... mas Azzam lagi nyari buku apa?” tanya Zahra balik.
“kalau mas lagi nyari buku tentang komunikasi. Sama buat referensi juga”
“Nggak ada kelas pa mas?”
“Ohh... libur, dosennya sakit” jawab Azzam dengan tersenyum.
“Zahra.... mas boleh minta alamat rumahmu nggak?” tanya Azzam serius sambil menghentikan tangannya membolak – balikan buku.
“Boleh mas, bentar ya saya catetin” Zahra menyobek kertas, dan menuliskan alamatnya dikertasitu.
“Ni mas alamat aku, jauh... ada di Pekalongan, hehe “ Zahra memberikan kertasnya ke Azzam sambil tersenyum tipis.
“Ehh.... bentar.. bentar... mau buat apa mas?” tanya Zahra sambil menarik kembali kertasnya yang ada di tangannya sebelum jatuh ke tangan Azzam.
“Emmm... mauuu…. main – main aja, ingin tahu lebih dekat keluargamu sambil silaturahim juga” jawab Azzam sambil menengadahkan tangannya meminta kertas alamat itu.
“Semoga kita bisa tetap menyambung tali silaturahim kita ya mas”
“Amin... sukron ya Zahra” Azzam pun berlalu meninggalkan Zahra dengan hati yang berbunga – bunga. Hatinya sudah mantap untuk melamar Zahra besok, karena dia tidak ingin menunggu lama – lama.
Kebetulan hari ini adalah hari minggu, Azzam bisa berangkat sekarang. Dengan tekad dan niat yang kuat Azzam berangkat ke Pekalongan menuju keluarga Zahra. Dia benar – benar ingin melamar Zahra. Selama di perjalanan dia berdo’a semoga semuanya berjalan dengan lancar.
Tidak sulit untuk Azzam mencari alamat ruamah Zahra karena dengan keberaniannya setiap orang ditanyai alamat rumah itu.
“Assalamu’alaikum” Azzam mengetuk pintu pada salah satu rumah sederhana berwana biru muda. Dia mencoba untuk tenang. Tidak ada jawaban.
“Assalamu’alaikum” kali ini Azzam mengucapkannya dengan nada sedikit lebih tinggi daripada sebelumnya.
“Wa’alaikumussalam warokhmatullah” terdengar suara ibu – ibu dari dalam. Azzam yakin itu pasti ibu Zahra.
“Cari siapa nak?” tanya ibu separuh baya itu dengan aksen jawanya yang kental.
“Saya Azzam temannya Zahra bu..” jawabku tenang.
“Ohh... ayo.. ayo.. silahkan masuk nak, jangan sungkan – sungkan. Kebetulan bapaknya Zahra juga ada di rumah, hari ini kan hari libur” jelas ibunya Zahra dengan sangat ramah sambil mempersilahkan Azzam untuk masuk.
“sebentar tak panggilkan bapaknya Zahra dulu, nak Azzam silahkan duduk” Kemudian berlalu meninggalkan Azzam. Tidak lama kemudian muncul seorang bapak dengan perawakannya yang besar  melemparkan senyum pada Azzam.
“Namanya siapa nak?” tanya bapaknya Zahra dengan ramah sambil menyalami Azzam.
“Nama saya Azzam pak, temannya Zahra” jawabku sedikit gugup.
Muncul dari balik pintu Ibunya Zahra membawa nampan berisi dua cangkir teh dan dua toples makanan ringan. Azzam mengamati ibunya Zahra, masih terlihat cantik, “sekitar empat puluhan tahun mungin” bisik Azzam dalam hati.
“Ada perlu apa nak datang kemari?” tanya bapaknya Zahra lagi.
“Begini pak saya datang ke sini bermaksud untuk mengkhitbah putri bapak” jelas Azzam dengan nada gugup. Keringat mengalir di sekujur tubuhnya. Baju bagian punggungya basah terkena keringat.
Kedua orang tua Zahra berbisik – bisik sebentar. Kemudian ayahnya Zahra angkat bicara.
“Begini nak... kami mohon maaf sekali bahwa Zahra sudah ada yang mengkhitbah-nya sejak dia lulus SMA. Yaitu teman SMA-nya, namanya Furqon dan sekarang dia sedang melanjutkan belajarnya di Kairo. Furqon sudah berjanji akan menikahinya setelah dia lulus dari belajarnya, tetapi Zahra belum menjawabnya”
****
Azzam terbangun dari tidurnya untuk melaksanakan shalat malam. Setelah kepulangannya dari Pekalongan, hati dan pikirannya sangat kacau mendengar penjelasan dari orangtua Zahra. Azzam ingin mencurahkan isi hatinya kepada Sang Pemilik Hati danmenenangkan hati dan pikirannya.
Di sela – sela kekhusu’annya dia teringat kata – kata sang ustadz pada saat mengikuti kajian KaKaSI.
“Dan jika memang ‘Cinta Dalam Diammu’ itu tidak memiliki kesempatan untuk berbicara di dunia nyata, biarkan ia tetap diam...”
“Jika dia memang bukan milikmu, Allah, melalui waktu akan menghapus ‘Cinta Dalam Diammu’ itu dengan memberi rasa yang lebih indah dan orang yang lebih tepat juga. “
“Biarkan ‘cinta dalam diammu’ itu menjadi memori tersendiri dan sudut hatimu menjadi rahasia antara kau dengan Sang Pemilik hatimu...”
“Cintailah ia dalam diam, dari kejauhan, dengan kesederhanaan dan keikhlasan....”
Azzam akan terus menjaga perasaan cintanya untuk Zahra karena dia yakin Zahra juga mencintainya. Dia ingin kisah cintanya seperti Ali dan Fatimah.Yang keduanya saling memendam apa yang mereka rasakan, tapi pada akhirnya mereka dipertemukan dalam ikatan suci nan indah. Karena dalam diam tersimpan kekuatan, kekuatan harapan... Hingga mungkin saja Allah akan membuat harapan itu menjadi nyata hingga cintanya yang diam itu dapat berbicara dalam kehidupan nyata. Bukankah Allah tidak akan pernah memutuskan harapan hamba yang berharap pada-Nya?
“Tentang keikhlasan Ali saat mengetahui Abu Bakar melamar Fatimah, serta tentang kelapangdadaan Ali saat harus mengetahui lamaran Umar kepada Fatimah. Namun toh kedua lamaran itu berakhir penolakan. Hingga majulah sang Ali, pemuda miskin namun sosok pemberani melamar dan berakhir dengan “Ahlan wa sahlan”, gumam Rasulullah.”
“Rabbi, dalam penantian ini, biarkan hati selalu terpaut padaMu”
“Rabbi, dalam penantian ini, jagalah diri ini”
“Penantian, uji kekuatanmu dalam menjaga”
“Penantian, uji kesabaranmu dalam berharap”
“penantian, uji keikhlasanmu dalam menerima”
“Zahra, jika namamu yang tertulis di Lauhul Mahfudz untuk diriku, niscaya rasa cinta itu akan Allah tanamkan dalam diri kita. Tugasku bukan mencari dirimu, tapi menshalehkan diriku.. Wahai seseorang yang tertulis di Lauhul Mahfudzku, pendampingku dan Ibu dari anak – anakku, engkau yang membersamai perjalanku nanti. Aku percaya engkau sedang memperbaiki dirimu untuk jadi pendamping bagi pemilik tulang rusuk dan buah hatimu kelak..” suara Azzam terdengar sesak. Dia tak kuasa menahan tangisannya. Dia ingin mencurahkan semua kegundahannya kepada Sang pembolak – balikan hati.
“Zahra, aku yakin kamu seperti Fatimah yang senantiasa menjaga perasaannya”
“Dalam penantian, semua bisa terjadi. Dalam penantian, tak ada yang pasti. Yang ada, sebait do’a: ya Allah jagalah hamba”
“Hati yang terjaga hanya bagi mereka yang menjaga dirinya.” Amin....

(Rudyanto)
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar