Bagaikan Belajar Renang Tapi Tak Turun ke Kolam Renang

NuansaOnline- Karakter pemimpin tak bisa didapati dari membaca 10 buku kepemimpinan, tapi karakter pemimpin didapat melalui pengalaman. Walau anda membaca puluhan buku tentang kepemimpinan, tapi tak turun untuk memimpin suatu organisasi, sama halnya anda belajar renang tapi tak turun ke dalam kolam renang. Karena belajar renang pun tak bisa dengan cara membaca buku tentang renang.

Begitulah yang disampaikan oleh Pengurus Cabang Istimewa Muhammadiyah Kuala Lumpur, Malaysia, Iwan Satriawan dalam acara Pelatihan Leadership bagi Pengurus Unit Kegiatan Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UKM UMY) di Ruang Pertemuan UNIRES UMY, Sabtu (5/1).

Iwan mengatakan bahwa seorang pemimpin harus mampu menjadi inspirator bagi orang lain. Dengan menjadi inspirator tersebut seorang pemimpin akan selalu diingat dan dibanggakan sepanjang sejarah.

”Kita akan selalu ingat pada orang yang menguatkan kita, apa lagi disaat kondisi kita sedang lemah. Maka seorang pemimpin yang menginspirasi, akan selalu diingat oleh orang banyak jika dia menguatkan bukan menjatuhkan orang,” kata Dosen Fakultas Hukum UMY ini.

Iwan menerangkan bahwa menjadi pemimpin harus memiliki fokus yang jelas dalam suatu masalah, karena dengan fokus tersebut akan menciptakan suatu solusi yang tepat dan cepat.

“Fokus merupakan hal terpenting yang harus diperhatikan, perlu kita ingat bahwa manusia mempunyai keterbatasan. Jika kita tak fokus dan bahkan tergesa dalam menyelesaikan sesuatu, maka bukan sulusi yang dapat tapi polusi,” terangnya.

Iwan juga menerangkan bahwa setiap individu harus mempunyai spiritual orientation, karena dengan spiritual tersebut seseorang dapat mengendalikan diri. Sebab spiritual mengajarkan adanya harapan bukan keputus asaan.

“Jika kita tak mempunyai spiritual orientation, maka nyawa atau jiwa kita akan sia- sia. Karena orang yang tak percaya akan adanya Tuhan, jika menemui masa sulit akan rentan bunuh diri,” terangnya.

Diakhir pembicaraannya Iwan mengajak mahasiswa untuk lebih kritis dan reaktif dalam menanggapi suatu masalah.

“Kita harus menjadi seorang yang kritis dan bereaksi untuk menyelesaikan suatu masalah. Karena mencegah suatu hal yang tidak benar merupakan tugas suci setiap manusia, sedangkan membiarkan suatu keburukan merajalela merupakan dosa besar bagi kita,” ajaknya. (syah)
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar