Please Dont Stop the Rain


Bagaimana jika suatu hari aku masih saja akan merasa bahwa langkah kita salah Fer? aku memandangi jarum jam yang terseok-seok berputar. Aku masih menunggumu disini, tempat dimana dua jam yang lalu kau meneriakkan janji itu. Di luar hujan, dan aku berharap tak akan berhenti sebelum hujan di mataku berhenti. Aku tak ingin kau melihatku serapuh ini, aku tak ingin Fer. Harusnya kau tak menelpon tadi, tak usah mengucap janji bahwa kau akan datang kemari.

Suaramu masih sama, terdengar begitu jelas di tengah gemuruh dan percikan air hujan di luar sana.

“Aku akan menunggu hingga langit terang, aku harap kau akan tetap menunggu sampai hujan reda. Aku akan ke sana, lalu kita akan bicara. Tunggu aku Januari“

Langitpun tahu, hujan pun tahu kalau kau tak akan berani menantangnya. Kita kalah Fer, dan aku menyerah kini. Kini sudah begitu jelas bahwa Kita hanya aku dan dirimu yang saling berusaha untuk memerangi takdir, harusnya kita biarkan saja tanpa harus meronta. Hari itu kau tak datang, entah berada di belahan bumi mana dirimu kini. Jangan kembali sampai hujan itu berhenti Fer. Dua hari yang lalu pula ponselmu tak lagi aktif, aku hanya berusaha menghubungimu tiga kali dalam waktu yang sama, setiap kali adzan shubuh itu berkumandang. Aku ingin menangis Fer, berteriak sampai pita suaraku putus, sampai dada ini meledak karna tak ada lagi ruang yang tersisa untuk menghirup aroma sesusai hujan bersamamu. Namun aku terlalu takut jika akan lebih sulit lagi melupakan kepergianmu yang sunyi dengan tangisan bodohku yang tak mungkin pernah membawamu pulang .

Kemarin aku lewat di depan rumahmu fer, dan disana masih saja ada bangku yang selalu kau duduki ketika kau sedang sibuk membuat gambar – gambar itu. Aku tak sedikitpun berani mendekat lagi fer, karena disana ada kedua orang tuamu yang sedang bercakap gembira, mungkin sedang tertawa melihat pesan yang kau kirimkan entah darimana dan dimana dirimu kini, aku tak berhak tahu fer.

Hari ini hujan lagi fer, aku lupa membawa payung. mungkin sengaja aku tinggalkan, aku rindu merasakan bagaimana berlarian dibawah hujan tanpa payung dan alas kaki, bersamamu. Bulan-bulan setelah kepergianmu adalah saat dimana langit tak pernah bersahabat, aku tak pernah lagi meninggalkan rumah ketika langit mendung, tak akan lagi ada yang aku ajak berbagi payung dan mantel usang ini Fer. lalu aku menunggu sampai hujan reda, entah mengapa namun kini aku benci hujan.

Aku teringat percakapan kita setahun yang lalu , aku tak pernah mengatakan bahwa dengan menunggumu akan terasa lebih baik. Atau dengan berusaha membuat ibumu yakin, akan merubah keputusanmu untuk pergi. Aku lelah fer, saat itu aku telah memintamu bahkan mengemis dihadapanmu agar menyudahi saja semua janji itu. Semua orang melakukan kesalahan, bahkan kita tak pernah sadar jika selama ini kita terus berjalan dengan keputusan yang salah. Kau putuskan tuk tidak mengambil peluangmu untuk masuk ke universitas yang dulu sebelum semuanya terlalu jauh setengah mati kau perjuangkan. Bukan ini jalan yang tuhan inginkan fer. harusnya kita, aku dan dirimu tahu. Buktinya keputusanmu saat itu tak merubah apapun, pada akhirnya kau pergi juga. Tanpa meninggalkan sepatah pesan, kecuali janjimu siang itu.

Tak akan ada yang tahu tentang kita siang itu, saat itu yang ku takutkan adalah jika hujan berhenti dan aku harus pergi fer, ketika aku berdiri di depan rumahmu sampai hujan reda dan kau tak juga membukakan pintumu untukku, tak juga melemparkan payung itu untukku, bahkan dirimu tak lagi ada disana.

Untukmu, Ferry. Jika nanti dirimu kembali dan langit masih tak bersahabat, jangan berharap hujan berhenti sampai kau teringat janjimu dikala hujan siang itu. Aku masih menunggumu. (Thari)
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar