Penderita HIV/AIDS Dipandang Sebelah Mata

AIDS/HIV bukanlah hal yang asing dan cenderung sangat akrab di telinga. Bagaimana tidak, pasalnya Virus HIV/AIDS sangat popular, selalu menjadi sorotan, menjadi buah bibir para ilmuwan dan keberadaan nya sangat mendunia.

Bahkan dewasa ini, seiring meningkatnya kemajuan ilmu pengetahuan teknologi dan informasi, AIDS pun meroket dan turut serta sebagai bagian dari globalisasi. Lalu bagaimana dengan objek yang terinveksi oleh virus yang membunuh penderitanya dengan sangat perlahan namun pasti tersebut? apakah mereka sama popularnya? Atau bahkan sebaliknya?

Sangat tidak adil, ketika virus mematikan ini menjadi perbincangan umum dari segala aspek, bidang, dan sudut pandang baik secara sains maupun agama, semua kalangan tersebut melakukan pendekatan untuk lebih mengenal virus HIV/AIDS sebagai pengembangan ilmu pengetahuan, sementara penderitanya tidak terlihat.

Tidak terlihat dalam artian yang sangat menyedihkan. Bagaimana tidak, ketika berbicara tentang virus ini, berbagai kalangan sepertinya sangat memahami dan mengenal dengan baik apa virus HIV/AIDS tersebut, tetapi ketika dihadapkan pada realita yang sesungguhnya, mereka sama sekali tidak sebijaksana pengetahuan mereka.

Mereka memberi batasan - batasan khusus pada para penderita virus HIV/AIDS yang sering dijuluki sebagai ODHA dalam interaksi sosial. Sangat di acungi jempol ketika batasan khusus tersebut berupa menjauhi pergaulan tidak sehat, yang tidak sesuai nilai moral, dan agama.

Tetapi, bagaimana jika batasan khusus yang di maksud tersebut lebih kepada penindasaan secara mental dan psikologis? Secara umum Sebagian orang beranggapan bahwa terjangkit virus HIV/AIDS adalah hal yang memalukan, karena virus tersebut sangat dekat dengan kehidupan yang tidak sehat. Baik secara pergaulan ataupun perilaku.

Padahal para penderitanya sangat bervariasi, mulai dari balita, anak-anak, remaja, dewasa, bahkan lansia. Lalu bagaimana kita dapat menyimpulkan bahwa mereka tertular virus tersebut karena memiliki pengalaman hidup yang “kelam” sebelumnya.

Apakah dengan adanya pendiskriminasian terhadap ODHA akan mengurangi populasi jumlah penderita yang terjangkit virus HIV/AIDS? Tentu tidak bukan? Lingkungan social budaya yang sangat anti terhadap ODHA justru sangat tidak rasional, mengapa?

Karena menjauhi ODHA tidak berarti kita dapat menjauhi hal - hal yang tidak baik dalam pergaulan yang dapat menyebabkan tertular virus tersebut. Bukankah seharusnya yang dijauhi adalah penularan virus tersebut? Bukan penderitanya.

Seringkali kita memakai alasan agar tidak tertular virus HIV/AIDS adalah dengan cara tidak berinteraksi langsung secara social pada para ODHA. Pernahkah terfikir oleh kita, tanpa kita menunjukkan sikap anti dan “mengucilkan”, mereka pun sudah merasa dan sadar diri bahwa mereka adalah kelompok yang di buang, kelompok yang dapat dikatakan sebagai “sampah masyarakat” karena dengan dinobatkan nya mereka sebagai penderita HIV/AIDS maka secara tidak langsung lingkungan akan menjadikan mereka kelompok tidak layak produktif.

Para ODHA seakan akan dihakimi oleh pikiran-pikiran negatif para ”juri” yang membatasi pergaulan dan interaksi social mereka terhadap lingkungan. Sehingga hal tersebut dapat membatasi kreatifitas mereka, bahkan membunuh semangat mereka untuk memiliki kehidupan yang lebih baik. Sangat disayangkan, karena dengan melakukan hal tersebut, ternyata pengetahuan kita terhadap virus HIV/AIDS masih sangat terbatas.

Disinilah peran pelajar, dan orang - orang terpelajar sangat mempengaruhi kelanjutan kehidupan sosial mereka di masyarakat. Terutama para mahasiswa. Sebagai pelajar yang “terpelajar” bukankah sebaiknya kita berlaku bijaksana dan bijaksini.

Kita dapat memposisikan diri sebagai mahasiswa anti virus HIV/AIDS, mahasiswa vs virus HIV/AIDS, memerangi virus tersebut dari pribadi kita masing masing. Memulainya dengan selalu meningkatkan keimanan kita pada Tuhan, menjauhi pergaulan tidak sehat dan menyesatkan, serta tidak terbawa arus moderenisasi yang cenderung lebih menjerumuskan kita kepada hal - hal yang tidak baik.

Selain itu, kita juga harus menjalankan kewajiban kita sebagai mahasiswa yang berpengetahuan, membuka diri terhadap pergaulan sekalipun pada para ODHA. Menjadikan mereka sebagian dari “kita”, membantu mereka mendapat pergaulan yang layak sebagai sesama makhluk Tuhan dan makhluk sosial, mengembalikan kepercayadirian mereka untuk berkarya, dan berinovasi.

Menjadi rekan bagi mereka untuk bersama-sama membangun karakter dan semangat walaupun dengan keterbatasan. Karena pada dasar nya mereka sama dengan kita, hanya keadaan yang membuat mereka sedikit berbeda. Dengan menerima ODHA sebagai bagian dari “kita”, tentu hal tersebut dapat mengurangi sedikit beban mental mereka.

(Untuk memperingati hari AIDS sedunia , dan Untuk para ODHA di seluruh dunia)

Maha
Mahasiswa Hubungan Internasional UMY Angkatan 2012
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar