Indomie ku Sayang, Indomie ku Malang

We are the noodle generation ,Our foods are made of preservation adalah sepenggal lirik lagu The S.I.G.I.T berjudul new generation. Dari sepenggal lirik diatas teringat pada kasus terbaru saat ini bahwa produk makanan indonesia berupa mie instan ditarik oleh BPOM Taiwan dengan alasan bumbu kecap yang terdapat dalam Indomie instan mengandung bahan pengawet berbahaya sejenis Nipagin. Nipagin adalah bahan khusus yang biasa digunakan untuk bahan kosmetik dan obat. Banyak spekulasi tentang penarikan produk mie instan asal indonesia ini diaantaranya masalah persaingan dagang.

Mie instant saat ini sudah menjadi kebutuhan pokok masyarakat Indonesia. Bisa kita lihat hampir di seluruh warung kelontong atau grosiran selalu tersedia mie instant, bantuan makanan korban bencana alam juga berupa mie instant apalagi untuk kebutuhan perut mahasiswa, mie instant begitu mendominasi menu sehari-hari.

Memang selain harga yang terjangkau juga penyajian yang cepat dan bisa dikatakan rasa yang enak dengan variasi rasa yang berbeda-beda menjadi top menu makanan Indonesia. padahal dari nilai gizi yang terkandung dalam mie instant hanya kaya akan karbohidrat sedangkan kandungan nutrisi lainnya sangat minim bahkan tidak ada sama sekali itu sama saja kita makan nasi saja tanpa lauk. Sebaiknya perlu ditambahkan sayuran juga lauk agar ada keseimbangan gizi jika ingin mengonsumsi mie instant.

Cara memasak mi instan harus benar. Terutama saat memasak mi instan berkuah. Sangat disarankan mi instan direbus dua kali. Air rebusan pertama langsung dibuang. Setelah itu, mi direbus lagi hingga matang. Cara itu untuk menghilangkan bahan berbahaya yang terkandung dalam mi instan. Beberapa mie instant mengandung zat lilin. Fungsinya sebagai pelapis agar tekstur mi menjadi bagus serta tak mudah putus dan rusak. Campuran bahan tersebut sering tak tertulis pada komposisi bahan yang tertera di kemasan mi instan. Padahal, lilin bisa menyebabkan usus mengalami iritasi. Akibatnya, penyerapan nutrisi dari makanan lain tak bisa optimal. Lapisan lilin bisa hilang dalam tubuh selama tiga hari maka sangat dianjurkan agar tidak mengonsumsi mie instant setiap hari.

Jika ingin mengonsumsi mie instan agar ada nilai gizi dan aman bagi tubuh perlu usaha yang tidak sedikit. Ternyata tidak selamanya sesuatu yang instant itu cepat saji dan bisa dinikmati secara langsung jika ingin bermanfaat agi kita dan semua orang. Jadilah generasi instant yang cerdas atau jika perlu tidak perlu instant kita meramu, meracik dan berkreasi sendiri. (Gita)

Tulisan ini telah dimuat pada Nuansa Kabar Edisi Oktober 2010 dalam rubrik Nuansa Ilmiah.
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar