Diskusi Publik "Pro dan Kontra Fatwa Haram Rokok"

BEM FISIPOL UMY menyelenggarakan Diskusi Publik bertema “Pro dan Kontra Fatwa Haram Rokok” (15/04) di Ruang Sidang Ekonomi. Diskusi Publik ini mengupas fatwa haram rokok dari sisi ekonomi dan Hukum agama dengan pembicara Dr H. Muchammad Ichsan,LC., MA dari Majelis Tarjih yang mengupas dari sisi hukum agama serta Dra. Lilis Setiartiti megupas dari segi ekonomi.

Pada awalnya Pak Ichsan menjelaskan fatwa haram rokok pada tahun 2005-2007 hanya berstatus makruh akan tetapi setelah di telusuri lebih rinci status itu berubah stastusnya menjadi haram di karenakan lebih banyak mudaratnya dari pada segi manfaat dengan menyertakan nash dari Al-quran, Fiqh dan hadist sebagai dasar pengambilan keputusan oleh Majelis Tarjih dan Majelis Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

Keputusan ini tertuang dalam Surat Keputusan tetang Hukum Rokok. Keputusan Haram ini tidaklah merupakan keputusan yang serampangan karena prosesnya (halaqoh) juga mengundang fakar Ilmu Sosial, Ekonomi, Kesehatan, dan Agama. Fatwa haram rokok ini bersifat Waillul Murshid atau tidak wajib dan sumbangannya bagi Negara bisa di ambil sebagai bahan pertimbangan. Jika di laksanakan secara teknis di harapkan petani tembakau beralih menanam tumbuhan lainnya dan perusahaan harus segera berhenti memproduksi di negeri ini.

Dari sisi ekonomi Ibu lilis menjelaskan bahwa rokok adalah produk yang in elastic hal ini terbukti pada saat Krisis ekonomi empat perusahaan rokok di negeri ini Gudang Garam, Djarum, Sampoerna, dan Bentoel tidak mengalami penurunan secara signifikan. Selain itu diperkirakan penerimaan Negara dari cukai rokok sebesar 58,3 Trilliun pada 2010 ini (sumber Susenas). Dan jika perusahaan Rokok berhenti memproduksi rokok akan menyebabkan Multiplayer effect pada struktur social di Negara ini. Contoh akan kemana pekerja-pekerja yang bekerja di pabrik? Secara otomatis akan berpengaruh pada sumber pendapatan Negara.

Mengingat fatwa MUI tentang bunga Bank haram perilaku masyarakat tidak terpengaruh dan masyarakat terus menabung. Point pentingnya apakah fatwa haram rokok ini mempengaruhi perilaku masyarakat? Selain itu Will pemerintah tentang fatwa haram rokok di prediksi akan sangat sulit diharapkan karena pertimbangan cukai rokok adalah salah satu sumber pendapatan negara. Akan tetapi Pak Ichsan menandaskan rezeki itu bisa datang dari mana saja, kalau kita yakin atas kebesaran Allah. (Nuansa Solihin)

Tulisan ini telah dimuat pada Nuansa Kabar Edisi April 2010 dalam rubrik Seputar UMY.
Share on Google Plus

LPPM Nuansa UMY

Silahkan kirimkan tulisanmu berupa berita, opini, atau sastra ke Nuansa Online! Kirim ke nuansaumy@gmail.com! Ayo, aktif menulis!
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 comments:

Posting Komentar